+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Kedang Ipil Menanti Respon

Warga Kedang Ipil berunjuk rasa ke perusahaan pada 29 Februari lalu (foto: istimewa)

Menurut warga setempat, bukan hanya rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan, beberapa fasilitas penting seperti sekolah, ruang serba guna serta rumah ibadah umat muslim dan kristiani juga turut menerima dampak dari aktivitas pertambangan tersebut.

 

SISIKOTA.COM – Jania Utami merasa sangat khawatir. Meskipun rumah tempat ia tinggal saat ini berbahan kayu namun ia merasa tetap perlu menyuarakan kemungkinan kerusakan lebih parah yang bisa ia dan warga lainnya alami di desanya.

 

“Rumah saya kebetulan (berbahan) kayu. Jadi tidak kelihatan kerusakannya. Sementara bagi warga yang rumahnya beton itu kelihatan retaknya” keluh Jania, sebagaimana dikutip dari hasil wawancara secara onlinenya dengan beritaalternatif.com, belum lama ini.

 

Menurut Jania, keretakan bangunan berbahan beton bisa terlihat pada bangunan SMA 3, SD, masjid, gereja dan ruang serba guna yang terdapat di desanya. Ia memperkirakan terdapat puluhan rumah dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan gara-gara kegiatan penambangan tanpa henti tersebut.

 

Jania tinggal di desa Kedang Ipil. Desa ini kini merupakan bagian dari wilayah kecamatan Kota Bangun Darat, sebuah kecamatan yang baru saja berstatus sebagai kecamatan definitif setelah dimekarkan dari wilayah kecamatan induknya, Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Desa Kedang Ipil adalah desa yang dikelilingi oleh hutan dengan pepohonan besar serta perbukitan batu. Terdpat potensi pertanian dan perkebunan yang cukup luas disini, termasuk juga potensi sumber daya alam berupa batubara. Potensi batubara inilah yang sejak beberapa bulan lalu mulai digarap oleh PT. Kartika Selabumi Mining (PT. KSM). Wilayah operasi perusahaan ini memang sangat berdekatan sekali dengan Kedang Ipil.

 

Hampir keseluruhan penduduk yang menghuni desa ini adalah suku Kutai dengan kebudayaan Adat Lawas. Kutai Adat Lawas merupakan sub-etnis yang sudah cukup lama sejarah keberadaannya di tanah Kutai. Selain dipimpin oleh seorang Kepala Desa, masyarakat Kedang Ipil juga dibawahi oleh seorang Kepala Adat yang berfungsi sebagai perekat dan perawat tata budaya masyarakat. Oleh karena sejarah dan kebudayaannya itu pula, Pemerintah Kutai Kartanegara kemudian menetapkan desa yang memiliki beberapa ritual khas ini sebagai desa Budaya.

 

Pemerintah Kutai Kartanegara bahkan mengagendakan event tahunan secara khusus untuk melestarikan ritual adat dan budaya di Kedang Ipil. Event tersebut bernama Festival Nutuq Baham. Masyarakat adat Kedang Ipil memang memiliki ritual khusus yang mereka sebut ritual Nutuq Baham, yaitu ritual perayaan rasa syukur atas panen hasil pertanian yang diperoleh warganya. Biasanya, saat ritual ini berlangsung, sejumlah masyarakat sekitar desa serta ratusan wisatawan domestik dari dalam dan luar Kaltim akan berkunjung ke Kedang Ipil untuk turut menyaksikan acara. Sebagian diantaranya ada juga yang memilih bermalam disana sambil menikmati obyek wisata air terjun dan jajanan tradisional khas.

 

Jika melihat segenap potensi dan daya tarik desanya, wajar kalau Jania merasa khawatir. PT. KSM menurut Jania, melakukan operasi penambangan secara nonstop 24 jam setiap hari. Inilah yang menurut Janiua memicu kerusakan rumah dan fasilitas umum tersebut. “Wilayah operasinya hanya berjarak 300 meter” ujar Jania.

 

Hingga saat ini, belum ada upaya mediasi yang dilakukan pihak-pihak terkait untuk mempertemukan masyarakat desa yang terdampak dengan pihak manajemen perusahaan. Sementara itu, sejumlah warga yang tempat tinggalnya terkena dampak hanya melakukan inisiatif perbaikan sementara dengan cara menambal dari dalam bagian-bagian rumahnya yang rusak sambil berharap ada tindakan pertangungjawaban dari PT. KSM.

 

Warga menginginkan pihak perusahaan segera merespon kejadian tersebut dan berharap ada keputusan ganti rugi yang bisa mereka terima akibat dampak penambangan tersebut, seperti harapan Jania, “Apa yang menjadi tuntutan masyarakat harus dikabulkan oleh pihak perusahaan”.

 

PT. KSM sendiri adalah perusahaan tambang yang berdiri sejak tahun 1990. Perusahaan yang berkantor pusat di kawasan Kuningan Jakarta ini memegang hak operasi pertambangan yang mencakup beberapa kecamatan di wilayah Kutai Kartanegara antara lain kecamatan Kota Bangun, Muara Muntai dan Loa Kulu.

 

Tidak banyak informasi yang bisa didapat dari situs resmi perusahaan ini, namun dari penelusuran sisikota, perusahaan ini pernah diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 14 Agustus 2019. Pengajuan pailit tersebut dilakukan oleh PT. Inspectindo Mediatama karena PT. KSM dianggap tidak melaksanakan perjanjian perdamaian tahun 2012 soal utang-utangnya.

 

Sejak beroperasi kembali beberapa tahun lalu, PT. KSM sebetulnya juga telah cukup diterima keberadaannya di desa Kedang Ipil. Dilansir dari prokal.co, PT. KSM tercatat pernah melakukan realisasi CSR untuk memenuhi ketersediaan air bersih desa kepada warga Kedang Ipil pada Maret 2023 silam. Manajemen PT. KSM menyerahkan bantuan fasilitas sumur bor lengkap dengan penampungan air berkapasitas 22 ribu liter. Nilainya kurang lebih 165 juta rupiah. Saat itu, acara penyerahan juga turut dihadiri oleh Kepala Desa Kedang Ipil, Kuspawansyah, Camat Kota Bangun Darat, Julkifli, SE serta sejumlah tokoh dan perangkat desa lainnya.**(Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI