Kategory
Info Daerah,
06-07-2024 16:47:43
Ilustrasi: Aktivitas produksi petani bawang merah (istimewa)
SISIKOTA.COM – Pasca Hari Keagamaan Besar Nasional (HKBN), harga kebutuhan bahan pokok seperti bawang merah dan cabai di Kutai Kartanegara (Kukar) belum menunjukkan penurunan yang berarti.
Terus meningkatnya permintaan masyarakat di masa transisi pasca HKBN berjalan tidak bersesuaian dengan jumlah produksi bahan pokok terutama untuk produk bawang merah dan cabai. Inilah salah satu penyebab melambungnya nilai harga pasar barang-barang produksi pertanian tersebut.
Menurut Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar Ananias, sebagaimana disampaikan oleh Analis Ketahanan Pangan, Diro, penyebab lainnya selain faktor transisis pasca HKBN di Kukar adalah terbatasnya jumlah petani di berbagai sektor, sehingga turut mempengaruhi jumlah produksi panen.
“Harga cabai saat ini kurang lebih 100 ribu perkilo, bawang merah 40 ribu perkilo, ini disebabkan karena produktivitas petani di Kukar masih terbatas,” jelas Diro.
Harga tersebut, mengalami kenaikan dari harga 20-30 ribu dihari-hari biasa, kini untuk harga bawang mencapai Rp40 ribu sedangkan cabai mencapai Rp100 ribu.
Lanjut dia, faktor penyebab pertama disebabkan petani di Kukar saat ini kebanyakan berusia 40 tahun keatas, sehingga produktivitas berdampak pada hasil panen. Berbeda halnya dengan di pulau Jawa, petani yang tersedia beragam usia.
Selain daripada itu, faktor penyebab lainnya yakni anomali cuaca, yang mengakibatkan suplai bawang dan cabai dari Pulau Jawa dan Sulawesi yang melalui jalur laut mengalami kendala dalam proses pengiriman lantaran harus menghadapi kondisi gelombang ekstrem.
“Petani di Kukar jumlahnya terbatas, kita harus mendapatkan suplier dari luar pulau, agar kebutuhan di Kukar juga tercukupi,” jelasnya.
Ditambahkannya pula, untuk penanaman cabai masih dapat dilakukan di tengah cuaca yang tidak menentu, sedangkan untuk bawang merah di wilayah Kukar cukup kesulitan karena disebabkan oleh air embun pagi yang mengandung zat jamur patogen Peronospora destructor. Spora jamur ini biasanya disebarkan oleh angin sehingga menghasilkan hasil bawang yang tidak segar dan berpotensi gagal panen.
Disketapang Kukar saat ini tengah mencari terobosan terbaru bersama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, agar kebutuhan bawang merah dan capai tidak mencapai titik inflasi.
“Saat ini masih berkordinasi lebih lanjut, dengan Distanak Kukar agar kebutuhan pangan Kukar tercukupi,” jelasnya. (*sk-4/adv)
Tags:
disketapang kukar
Kukar Idaman
Kutai Kartanegara
petani kukar
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu