+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Mengantisipasi Asimilasi Bahasa Yang Terlalu Mendominasi, Bahasa Kutai Dijadikan Muatan Lokal

SISIKOTA.COM: Dengan bahasa, manusia bisa berkomunikasi. Dari bahasa juga manusia bisa mengenal ketinggian dan kemajuan suatu peradaban. karena itu bahasa harus dirawat dan dilestarikan.

 

Bagi Awang Rifani, menjaga kelestarian bahasa daerah jelas sangat perlu, termasuk bahasa daerah Kutai agar tidak tergerus oleh zaman. Disamping itu, tujuannya juga untuk mengantisipasi dampak asimiliasi bahasa lokal dengan bahasa luar.

 

Lelaki yang bekerja sebagai staf di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara (Kukar) ini menyebutkan, sebagaimana dikutip dari beritaalternatif.com,  Puluhan sekolah di Kukar telah memasukkan kurikulum bahasa Kutai ke dalam muatan lokal (Mulok) untuk diajarkan di sekolahnya. Sementara pihaknya sendiri masih terus gencar mensosialisasikan kurikulum muatan lokal bahasa Kutai sejak beberapa bulan lalu di sekolah-sekolah dalam wilayah Kutai Kartanegara.

 

Di Kukar, terkhusus PAUD, SD dan SMP, para guru yang mengajarkan bahasa Kutai sudah dibekali dengan modul atau buku ajar. Modul tersebut diterapkan sesuai dengan level kelas, seperti kelas 1 sampai kelas 3 SD diajarkan bahasa Kutai melalui dongeng. Ada juga yang diajari seni seperti tarsul (syair sastra lokal Kutai).

 

“Tahun ini kita buat modul untuk kelas 1, 4, dan 7. Tahun depan kita naikkan di kelas 2, 5, dan 8 karena kewenangan kabupaten itu di PAUD, SD dan SMP,” terangnya.

 

Targetnya, setiap tahun terdapat 100 guru yang akan diajarkan bahasa Kutai, termasuk membiasakan kesenian dan olahraga tradisional Kutai.

 

Menurut Awang, tiap satu kata atau term bahasa punya sejarahnya sendiri. Setiap kata bisa melintasi batas wilayah jika dilacak asal-usulnya.

 

Ia mencontohkan kata tollu atau tellu yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai bahasa Jawa dan Bugis. Padahal, kata tollu, tellu, dan tolu merupakan bahasa Melayu Kuno yang juga dipakai oleh masyarakat Paser, Dayak Kenyah, Bahau, Tunjung, Benua, bahkan Bima.

“Hal ini menarik untuk dipelajari. Dari situ kita bisa melacak DNA suatu bahasa,” ungkapnya*** (Tim Redaksi)

 

(Dikutip dan dirilis ulang dari beritaalternatif.com)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI