+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Sejarawan Muhammad Sarip: “Selain Kehilangan Perpustakaan Hidup, Kutai Juga Kehilangan Figur Kultural”

Beberapa hari setelah mangkatnya Pangeran Adji Deck dan Pangeran Adji Boly, kami mewawancarai Muhammad Sarip, sejarawan Kaltim yang banyak menulis buku mengenai perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kertanegara. Berikut hasil interview kami pada 6 Agustus 2023 lalu :

 

Sisikota :

“Kehilangan semacam apa lagi yang kemungkinan akan dirasakan orang Kutai setelah kepergian dua budayawan tersebut bang?”

Muhammad Sarip :

“Mangkatnya beliau berdua merupakan duka bagi masyarakat Kutai. Selain duka kehilangan referensi berjalan atau perpustakaan hidup, publik Kutai juga kehilangan figur kultural”

 

Sisikota :

“Apa peran kultural beliau berdua?”

Muhammad Sarip :

“Beliau panutan yang berperan mengayomi semua kalangan kerabat Kutai lintas profesi, beda preferensi politik dan kepentingan yang variatif. Kedua sepuh Kutai ini semasa hidup merupakan dua figur yang dihormati dan disegani tak hanya oleh masyarakat Kutai, tapi juga oleh Sultan Kutai sendiri. Terdapat kedetailan kesenian tertentu yang dikuasai oleh Pangeran Adji Deck dari tutur lisan Sultan Adji Mohamad Parikesit”

 

Sisikota :

“Apa contoh tata nilai adat Kutai warisan Sultan Parikesit yang masih aktif diberlakukan sampai saat ini di kalangan kerabat Keraton maupun di tengah masyarakat Kutai berdasarkan informasi dari Pangeran Adji Deck?”

Muhammad Sarip :

“Sejumlah adat istiadat di lingkungan keraton Kutai diberlakukan menurut petunjuk dari Pangeran Adji Deck. Prosesi upacara Erau, kedetailan tata busana adat, kekhususan lencana dan asesoris pada busana adat yang bervariasi sesuai gelar tertentu si pengguna busana, ornamen pada kedaton yang dibangun pada awal abad ke-21, termasuk juga jumlah anak tangga kedaton dan sebagainya”

 

Sisikota :

“Beliau berdua kan pasti banyak meninggalkan warisan berupa dokumen, naskah-naskah sejarah dan cerita-cerita budaya, menurut anda kebijakan apa yang harus dilakukan internal kerabat Keraton Kutai agar semuanya tetap terpelihara dengan baik?”

Muhammad Sarip :

“Untuk dokumen warisan Pangeran Adji Deck dan Adji Boly, saya melihat aspek pemeliharaan dan kebermanfaatannya bisa untuk kepentingan publik yang lebih luas. Dengan pertimbangan itu, saya menyarankan kepada ahli waris beliau berdua untuk tetap menjaga dengan baik dan ketat terhadap warisan dokumen tersebut. Jika khawatir dengan keterbatasan daya simpan atau resiko keamanan yang (mungkin) berdampak pada kerusakan fisik, saya menyarankan agar arsip tersebut disimpan pinjamkan ke institusi kearsipan”

 

Sisikota :

“Apa itu cukup safety? soalnya ini kan dokumen warisan bernilai penting?”

Muhammad Sarip :

“Opsi lembaganya bisa di kantor kearsipan tingkat provinsi yang terletak di Samarinda Seberang. Saya dapat info dari pejabat bidang kearsipan provinsi, mereka punya fasilitas sesuai standar untuk membantu menyimpan arsip atau dokumen penting dari masyarakat”

 

Sisikota :

“Teknisnya gitu ya bang? atau gimana, ada saran lain?”

Muhammad Sarip :

“Demi kepentingan publik, saran saya aparatur bidang kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim dapat (lebih) proaktif menghubungi dan bernegosiasi dengan ahli waris Pangeran Adji Deck di Samarinda. Kalau untuk arsip warisan Pangeran Adji Boly di Jakarta, saya menyarankan kedua pihak, baik ahli waris beliau maupun ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia-red) agar proaktif dalam tindakan penyelamatan dan pemeliharaannya”

 

Sisikota :

“Secara khusus, peran pemerintah dalam hal ini seperti apa bang?”

Muhammad Sarip :

“Pemerintah, dalam hal ini nomenklatur bidang kearsipan, sebenarnya sudah punya program memelihara atau melestarikan arsip dan manuskrip bersejarah yang dimiliki oleh masyarakat. Di tingkat provinsi dan kabupaten terdapat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang bertugas mengerjakan kegiatan tersebut. Sementara di tingkat pusat terdapat kantor ANRI di Jakarta. Bentuk pelestariannya bisa dengan membantu penyimpanan dan perawatannya disana. Bentuk konservasi berikutnya adalah dengan mendigitalisasi dokumen tersebut. Namun eksekusi pemerintah kadang terkendala dengan masalah klasik”

 

Sisikota :

“Apa masalah klasiknya?”

Muhammad Sarip :

“Masalah klasiknya berupa problematik anggaran dan keterbatasan sumber daya manusia pelaksananya”

 

Sisikota :

“Lalu bagaimana dengan warisan berupa folklor, tutur lisan yang mungkin saja belum sempat ditulis?”

Muhammad Sarip :

“Untuk (warisan berupa) folklor dari Pangeran Adji Deck, sebagiannya (sudah) ada yang merekam dalam video dan audio. Saya menyarankan agar pihak pemerintah proaktif memfasilitasi penulisannya secara khusus dalam output karya buku, baik buku cetak maupun buku digital. Jika tidak, sebaiknya pihak komunitas intern Kutai berinisiatif yang mengerjakannya. Eksekusinya bisa berkolaborasi dengan pihak lain, sebagaimana yang sedang berjalan untuk konten tertentu yang saya dilibatkan didalamnya”

(Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI