+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Di Tutup Dengan Tradisi Belimbur, ERAU Diharapkan Akan Memperkuat Jati Diri Urang Kutai Secara Nasional

SISIKOTA.COM: Gelaran pesta adat tahunan khas Kesultanan Kutai Kartanegara, Erau resmi ditutup pada hari Minggu (01/10) kemarin. Sebagai kebiasaannya, Erau Adat Pelas Benua tahun ini ditutup dengan tradisi belimbur yang melibatkan seluruh tingkatan masyarakat di tanah Kutai. Mulai dari kalangan pejabat daerah hingga kelompok-kelompok masyarakat umum di lapisan bawah.

 

Tradisi belimbur ini tetap dipusatkan di kota Tenggarong yang merupakan pusat pemerintahan Kutai Kartanegara sekaligus pusat kedudukan Kesultanan Kutai Kartanegara. Ratusan masyarakat baik yang datang dari luar kota maupun penduduk lokal tumpah ruah di jalan-jalan utama kota Tenggarong sambil saling menyiram air satu sama lain. Inilah pula ritual adat paling ditunggu-tunggu oleh para wisatawan.

 

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menyerukan kepada seluruh kalangan untuk menjunjung tinggi adat Kesultanan Kutai Kartanegara dan menjadi warga negara yang arif terhadap nilai-nilai tradisi serta peka terhadap adat budaya.

 

Seruan tersebut disampaikan oleh Bupati Kutai Kartanegara Edy Damansyah dalam pidato tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten I Pemkab Kukar, Ahmad Taufik Hidayat pada sesi penutupan resmi Erau di Museum Mulawarman Tenggarong. Edy Damansyah juga menyatakan, Erau merupakan representasi identitas kearifan lokal masyarakat Kukar.

 

“Erau menunjukkan antusiasme masyarakat dalam merawat nilai-nilai tradisi yang adiluhung di tanah Kutai” tulisnya lebih lanjut. Sebagai Kepala Daerah, ia berharap Erau akan memperkuat jati diri urang Kutai di tengah komunitas global bangsa Indonesia.

 

Tradisi belimbur sendiri adalah bagian dari ritual pensucian dan pembersihan tanah Kutai dari pengaruh unsur-unsur kotor dan jahat, selain sebagai bagian dari pernyataan rasa syukur atas perlindungan yang telah diberikan Tuhan terhadap tanah berikut seluruh masyarakat yang berdiam diatasnya. Prosesinya dimulai dari memercikkan air tuli (air suci) yang diambil dari daerah Kutai Lama (lokasi awal Kerajaan Kutai Kartanegara) kepada Sultan Kutai kemudian dilanjutkan kepada kerabat kesultanan hingga ke seluruh masyarakat yang disimbolkan dengan empat penjuru mata angin.

 

Setelah prosesi tersebut barulah seluruh masyarakat tanpa terkecuali diperbolehkan saling menyiram satu sama lain sebagai bentuk perayaan rasa syukur dan pembersihan tubuh dan jiwa. Sultan Kutai Kartanegara biasanya terlebih dahulu akan menerbitkan maklumat yang diumumkan secara publik mengenai aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar selama prosesi tersebut.***(Tim Redaksi)

 

(Sumber Berita: beritaalternatif.com)

 

 

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI