+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Bappeda Kukar: Ada Tren Positif Dari Sektor Ekonomi Non Pertambangan

SISIKOTA.COM – Pelaksana Tugas Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Kartanegara, Sy. Vanesa Vilna mengungkapkan, sampai dengan tahun 2023 lalu, struktur ekonomi Kutai Kartanegara masih di dominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian yakni sebesar 62,55%. Namun angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi di tahun sebelumnya yang mencapai angka 70,77%.

Hal tersebut ia ungkapkan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) tahun 2025-2045 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2025 Kabupaten Kutai Kartanegara di Tenggarong, Senin (1/4/2024) lalu.

Adanya pergeseran angka perkembangan ekonomi ini pada sisi yang lain juga terlihat dari bergeraknya sektor ekonomi non pertambangan. Tahun 2023, perkembangan di sub sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menunjukkan angka 13,12%. Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar di 10,72%.

Kondisi tersebut menurut Vanesa bisa dibaca sebagai adanya tren positif dari sektor ekonomi non pertambangan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan diiringi dengan menurunnya sub sektor pertambangan dan penggalian dapat di asumsikan sebagai berlangsungnya proses perubahan bangunan ekonomi meninggalkan ketergantungannya pada sektor besar minyak, gas alam dan pertambangan.

“Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan diiringi menurunnya sub sektor pertambangan dan penggalian dapat di asumsikan bahwa proses transformasi struktur ekonomi Kutai Kartanegara berjalan positif,” sebut Vanesa.

Tren positif perekonomian Kukar ini juga dapat diukur dari laju pertumbuhan ekonominya yang mengalami masa tertinggi selama tiga tahun belakangan atau sejak tahun 2021. Situasi ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi Kukar telah pulih dan kembali positif pasca pandemi Covid-19 lalu.

Saat ini, Bappeda Kukar melihat terdapat beberapa permasalahan pembangunan yang perlu dioptimalkan, terutama terkait pengelolaan keuangan dan aset daerah, aksesibilitas dan konektivitas wilayah dan pengelolaan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Selain itu, Vanesa juga melihat masih rendahnya pemerataan dan pelayanan pendidikan serta daya saing tenaga kerja juga merupakan persoalan yang perlu diatasi. (*sk-4/adv)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI