+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Sabar Ya, 11 Hari Lagi Film Horor Berlatar Kutai Ini Bakal Rilis Trailernya!

Bisa jadi, ini adalah film horor berdurasi panjang pertama di Kaltim yang digarap secara serius. Proses persiapannya konon memakan waktu hampir 2 tahun dengan kru sepenuhnya orang lokal.

 

SISIKOTA.COM: Akan butuh penantian sepanjang 11 hari lagi untuk bisa melihat trailer perdana film Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang (KASTLB) ini. Informasi ini bisa dipastikan lewat akun resmi film KASTLB @kastlb.film yang kemarin merilis pengumuman secara terbuka di instagram.

 

KASTLB merupakan sebuah film bergenre horor produksi terbaru EBF atau East Borneo Film, sebuah rumah produksi dari kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Rumah produksi ini didirikan beberapa tahun lalu oleh David Richard, seorang film maker berdarah campuran Perancis-Kutai. Di film ini sendiri, David Richard juga bertindak selaku sutradara sekaligus produser.

 

Nama David Richard sebelumnya lebih dahulu dikenal lewat film pendek berjudul RANAM yang berhasil menyandang predikat Film Official Selection di 7 negara. Lewat film RANAM ini pula nama David mulai dikenal kalangan pengamat dan kritikus film nasional. David juga sekaligus terhitung berhasil memperkenalkan eksotika alam desa Melintang, sebuah kampung di tengah danau di pedalaman Kabupaten Kutai Kartanegara.

Beberapa poster dari film Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang (sisikota.com)

KASTLB sendiri merupakan film horor yang diinspirasi oleh sebuah urban legend di pedalaman Kutai. Bercerita tentang praktek ritual penumbalan yang dilakukan sekelompok sekte ilmu hitam di sebuah kampung. “Ini film pertama saya dengan durasi terpanjang yang pernah saya garap, durasinya sekitar 50-60 menit” kata David, sebagaimana dikutip dari laman instagram pribadinya, @daviidriichard.

 

Banyak memang fakta menarik dari film ini, seperti misalnya lokasi syutingnya yang seluruhnya berlokasi di Kutai Kartanegara, lalu proses produksinya yang memakan waktu kurang lebih 2 tahun sejak penggarapan naskah cerita hingga pada komposisi para pemain dan kru yang sepenuhnya menggunakan sumber daya lokal. Untuk diketahui, saat menggelar syuting David memilih 3 lokasi yaitu di area Waduk Panji Sukamare Tenggarong, Desa Loa Raya dan Desa Kedang Ipil.

 

“Film ini menyatukan aktor-aktor senior dan aktor-aktor muda, saya memang ingin mereka semua berada dalam satu frame di film ini” ujar alumnus Sinematografi ISI Yogyakarta yang sekarang bermukim di Bali tersebut.

 

Film ini memang mempertemukan akting para pemain yang merupakan peraih penghargaan aktor-aktris terbaik dalam Festival Film Kaltim seperti Daniel Inran, Emilda Sohaya dan Ahmad Muslich Navis dengan para aktor senior Kaltim lainnya seperti Muhammad Sabir, Dedi Nala Arung dan Kimkim.

 

Meski sudah menjadwalkan perilisan trailernya, namun belum didapat informasi lebih terang mengenai kapan dan dimana film menarik ini bakalan dirilis versi utuhnya.**(Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI