+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

WIKENAN, Konsep Asyik Memanfaatkan Ruang Publik Untuk Penguatan Budaya Lokal

SISIKOTA.COM: Upaya untuk mendorong penguatan dan pemajuan budaya terus dilakukan dengan berbagai cara dan strategi. Hal ini tentu saja dipicu oleh kesadaran akan pentingnya mempertahankan identitas suatu masyarakat di tengah pusaran pergeseran nilai dan norma peradaban global.

 

Sebagai sebuah negara besar dan luas, apalagi dihuni oleh ratusan suku dan ras yang hidup dengan dipisahkan oleh untaian lautan, sungai, hutan dan lembah, Indonesia jelas berkepentingan untuk tetap menjaga keutuhan bangsa. Salah satunya adalah dengan terus melakukan penguatan budaya.

 

Tantangan inilah barangkali yang dilihat oleh Pemerintah Kutai Kartanegara sebagai suatu hal yang tidak boleh diacuhkan. Apalagi Kutai Kartanegara merupakan wilayah bekas kerajaan hindu tertua di nusantara yang hingga saat ini masih mempertahankan nilai-nilai adat dan tradisi budaya dengan cukup ketat. Tambah lagi, daerah ini secara geografis sangat luas. Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta saja misalnya, wilayah Kutai Kartanegara kurang lebih 40 kali lebih luas.

 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara punya strategi cukup menarik untuk menjawab tantangan tersebut. Mereka menggandeng komunitas kreatif dan budaya lokal untuk menguatkan tingkat apresiasi masyarakat terhadap budaya Kutai sekaligus mengembangkan ekosistem budaya lokal.

 

Dengan menggandeng Nagapore, sebuah komunitas kreatif yang concern di bidang kebudayaan, Dinas Dikbud Kukar merilis acara bertajuk Wikenan. Wikenan merupakan bagian dari program Pentas Seni Akhir Pekan.

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara Thauhid Afrilian Noor melalui Kepala Bidang Kebudayaan Puji Utomo menjelaskan bahwa program pentas seni akhir pekan itu merupakan salah satu strategi dalam merealisasikan komitmen pemajuan kebudayaan nasional di daerah. Dari strategi inilah lahir konsep Wikenan.

Kikif Jack, salah satu musisi Kutai Kartanegara ketika tampil di event Wikenan (foto: sisikota.com)

Wikenan dikemas cukup simpel yaitu berupa penyajian pertunjukan kesenian lokal dengan melibatkan kelompok budaya, komunitas seni termasuk seniman dari berbagai bidang seni seperti tari, musik, teater dan sastra. Uniknya, pertunjukan ini digelar di ruang-ruang publik seperti taman kota, sentra kuliner serta ruang budaya masyarakat lainnya. Karena digelar di ruang publik, maka target audiens acara ini menjadi cukup luas. Selain menyasar masyarakat lokal, event ini juga berusaha menarik atensi masyarakat luar kota yang cukup banyak berkunjung ke Kukar pada setiap akhir pekan.

 

Menurut Puji Utomo, pemerintah berharap lewat Wikenan akan tercipta proses edukasi terhadap literasi budaya yaitu tumbuh kesadaran untuk memahami kekayaan budaya lokal Kutai sekaligus mampu menjelaskannya kepada sesama masyarakat. Dari titik itu, harapannya kecintaan terhadap budaya lokal akan semakin menguat.

 

nama Wikenan nampaknya adalah adaptasi dari kata bahasa Inggris weekend dan bentuk pengembangan dari istilah akhir pekan yang oleh generasi saat ini biasa disederhanakan dengan sebutan wiken. Sebagai sebuah pendekatan, kata ini cukup unik dan nyaman di telinga.

 

Wikenan juga menggandeng sejumlah media dan perkumpulan diantara organisasi Oi (Orang Indonesia) Kalimantan Timur dan GLK (Gerakan Literasi Kutai), dua organisasi yang dikenal cukup concern dalam hal penguatan nilai budaya , kebangsaan dan literasi masyarakat.

 

Akhir pekan kemarin, Wikenan digelar di tepi sungai mahakam dalam area Taman Kota Raja Tenggarong. Spot ini memang merupakan titik kumpul bagi sejumlah masyarakat dalam dan luar kota Tenggarong pada setiap akhir pekan. Di kawasan ini masyarakat biasanya berkumpul dengan berbagai tujuan antara lain berolahraga, mengajak keluarga mencoba sejumlah alat permainan anak-anak atau ada juga yang memilih menanti pemandangan senja sungai mahakam sambil menikmati berbagai produk kuliner lokal.***(Tim Redaksi)

Masyarakat Kukar Senang ERAU Kembali Tampilkan Ragam Pertunjukan Seni Dari Kecamatan

SISIKOTA.COM: Kemeriahan event adat tahunan ERAU tahun ini terasa lebih mengena bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kutai Kartanegara. Sejumlah masyarakat yang datang berkunjung dan menyaksikan berbagai event seni yang digelar di arena expo Stadion Rondong Demang Tenggarong memberikan tanggapan yang cukup positif terutama terkait konten seni pertunjukan yang dihadirkan di panggung seni expo.

 

Amirudin, seorang warga asal kecamatan Marangkayu mengatakan, ia senang acara ERAU tahun ini cukup banyak mengakomodir kelompok-kelompok kesenian asal kecamatan untuk turut berpartisipasi dalam acara seni ERAU. Ia bisa lebih banyak menyaksikan berbagai pertunjukan seni yang beragam dari berbagai kelompok seni di pelosok-pelosok Kutai Kartanegara.

 

Perasaan yang sama juga diungkapkan oleh Ula, warga Muara Wis yang khusus datang ke kota Tenggarong untuk menyaksikan pertunjukan seni di ERAU. Menurutnya, ERAU sudah hampir kembali seperti dulu yaitu ketika berbagai kesenian asal kecamatan di tampilkan di Tenggarong.

 

Koordinator Panggung Seni Expo ERAU, David Haka Saputra, S.Pi yang ditemui di lokasi acara mengatakan, Pemkab Kukar terus berusaha untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat termasuk dalam kaitan pergelaran pertunjukan seni di panggung expo ERAU. Pihaknya memang berkeinginan agar ERAU ini menjadi pesta adat dan kesenian dalam arti sesungguhnya yaitu menghadirkan karya-karya seni lokal sekaligus menjadi ajang suka cita seluruh masyarakat sebagaimana filosofi kata ERAU itu sendiri.

 

Menurut David yang juga menjabat Kepala Bidang Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kukar ini, konten pertunjukan seni yang dihadirkan di panggung seni expo tidak hanya terbatas pada kesenian tradisi tetapi tetap di formulasikan dengan kesenian modern agar seluruh kelompok dan sanggar seni tetap punya saluran untuk unjuk karya seninya.

 

“Jadi bukan hanya tari-tarian tradisi yang ditampilkan, musik modern juga tetap ada, bahkan seni teater tradisi seperti mamanda juga kita alokasikan waktu untuk ditampilkan” ujar David.

 

Expo ini sendiri merupakan program dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar yang menggandeng sejumlah vendor dari pihak ketiga untuk membuat event ini menjadi lebih menarik dan terkelola secara lebih profesional.

 

David juga kemudian menambahkan bahwa melalui kegiatan ini Pemkab Kukar berharap ERAU dapat lebih dinikmati masyarakat dengan nyaman dan memotivasi berbagai kelompok kesenian untuk terus membuat karya-karya seni serta melanggengkan seni tradisi khas Kutai Kartanegara.***(Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI