+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Faktor Penentu Kemenangan PDIP Di Kukar

Update data perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kutai Kartanegara berdasarkan hasil perhitungan sementara KPU hingga pukul 23.00 wita malam tadi menunjukkan pencapaian angka 35,54% keunggulan. Putaran mesin kaderisasi partai dinilai merupakan faktor penyebabnya.

 

SISIKOTA.COM: Perolehan angka keunggulan diatas cukup jauh meninggalkan capaian partai Golkar Kukar, pesaing utama PDIP. Sementara ini berdasarkan data KPU, dari kurang lebih 35% suara yang sudah masuk, Golkar Kukar masih berada di angka 15,74% suara.

 

Akademisi asal Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Jumansyah menilai, faktor berhasilnya seleksi dan pembibitan kader di internal PDIP menjadi pendorong utama keunggulan tersebut. Menurutnya, di Kaltim khususnya Kukar, (ketertarikan) para pemilih lebih dominan pada figur yang diusung. Caleg yang dimajukan oleh PDIP dalam Pileg kali ini merupakan figur-figur yang sudah punya basis di akar rumput. “Mereka melihat apabila caleg itu menarik, maka mereka akan memilihnya, dan PDIP ini memiliki basis akar rumput yang kuat” ujarnya.

 

Hal lainnya lagi menurut Jumansyah adalah strategi PDIP dalam melakukan filterisasi terhadap figurisasi kader di Pileg sangat baik. Caleg-caleg ditempatkan dengan tepat menyesuaikan latar belakang dan karakter di daerah pemilihannya. Ia menyebut nama Rahmat Dermawan dan Madina, dua caleg PDIP yang berasal dari daerah pemilihan pesisir sebagai contoh keberhasilan strategi tersebut. “Jadi saya pikir, kemenangan PDIP di Kukar bukan karena pimpinan partai atau program Pemerintahnya tetapi murni karena figuritas caleg” katanya lagi.

 

“Pemilih kita pada umumnya sampai hari ini agak abu-abu kalau bicara ideologi partai, yang jelas figuritas” pungkasnya.

 

Pendapat ini, menurut Andi Faisal, salah satu figur caleg PDIP yang meraih suara cukup besar di daerah pemilihan (dapil) Kutai Kartanegara 2 (Tenggarong Seberang, Sebulu, Muara Kaman) ada benarnya. Ia mengakui faktor figur memang menjadi salah satu penentu pada Pileg 2024 ini. Pasalnya, masyarakat sekarang menilai siapa yang layak diperjuangkan atau tidak. Tetapi menurut Faisal juga, tingkat kercayaan masyarakat terhadap para caleg tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran motivatif pimpinan partai yang mampu menciptakan kekompakan. “Alhamdulillah di tangan Pak Edy (Damansyah), kami dibawah ini kompak, bisa membagi wilayah pergerakan sehingga kami jarang sekali bergesekkan dengan caleg lainnya. Jadi potensi-potensi itu bisa diramu jadi satu, intinya disitu” jelas Faisal.

 

Posisi Edy Damansyah yang juga menjabat sebagai Bupati Kukar saat ini yang banyak menuai kepuasan masyarakat melalui program kerjanya juga berpengaruh. Menurut Faisal, dua hal itu berjalan linear karena program Bupati menyentuh langsung pada kebutuhan masyarakat.

 

Dari kiri ke kanan: Andi Faisal, Fatlon Nisa, Mitfaul Jannah (istimewa)

Fatlon Nisa, caleg PDIP asal Dapil Kutai Kartanegara 1 (Tenggarong) setuju pada pendapat tersebut. Dalam perjalanannya menemui dan berkumpul dengan masyarakat, Fatlon menemukan titik temu antara kebutuhan solusi masyarakat di bidang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan oleh Edy Damansyah selaku Bupati, contohnya program Kredit Kukar Idaman (KKI). “Alhamdulillah, program itu banyak membantu pelaku UMKM, termasuk juga program air bersih” ujar Fatlon.

 

Caleg perempuan yang diprediksi lolos ke DPRD Kukar ini mengakui kebiasaan ketua partainya yang rajin blusukan ke desa-desa tersebut turut mempermudah proses sosialisasinya ketika berkampanye. Karena itu juga, Fatlon mengamini kalau sosok Edy memiliki pengaruh cukup besar dalam perolehan suara caleg-caleg.

 

Mitfaul Jannah, salah satu caleg perempuan dari PDIP lainnya yang juga diprediksi akan lolos ke DPRD Kukar menyebut contoh lain dari keberhasilan program Bupati Edy Damansyah. Politikus perempuan yang biasa disapa Ifah ini menyebut, keberhasilan pembangunan antar kecamatan yang terkoneksi memiliki pengaruh besar dalam hal membuat kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Edy Damansyah tinggi. Ifah yang berasal dari Dapil 6 (Kota Bangun, Kenohan, Muara Muntai, Muara Wis, Kembang Janggut, Tabang) itu memberi contoh kebijakan pemekaran kecamatan Kota Bangun darat misalnya. “jadi menurut saya, program dan kebijakan beliau itu berpengaruh besar” simpulnya. Hal inilah yang menurut Ifah akan terus dikawal melalui jalur legislatif nanti. Ia berjanji akan tetap melakukan peran dan tugasnya sebagai legislator dalam hal penganggaran dan pengawasan pembangunan.

 

Sebetulnya terdapat juga fakta menarik dari komposisi caleg-caleg yang diturunkan oleh PDIP Kukar pada Pileg 2024 ini. Jumlah caleg “naturalisasi” yang dipasang cukup banyak. Istilah naturalisasi adalah istilah untuk menjelaskan perpindahan figur yang tadinya adalah kader partai lain ke PDIP. Di PDIP Kukar memang terdapat beberapa nama yang berpindah perahu ke PDIP beberapa bulan sebelum Pileg. Rata-rata figur-figur tersebut merupakan anggota legislatif. Sebut saja misalnya Andi Faisal (dapil 2), Mitfaul Jannah (dapil 6) serta Hairendra dan Farida (dapil 5). Keempat figur tersebut tadinya adalah legislator asal Partai Golkar. Ada juga nama Fatlon Nisa, Ahmad Akbar Haka Saputra dan Junaidi (dapil 1) yang juga merupakan kader dari Partai Golkar sebelumnya. Strategi memindahkan nama-mana tersebut ke susunan caleg PDIP dipercaya juga cukup tepat untuk mengangkat perolehan suara PDIP sekaligus memukul dominasi Partai Golkar di Kukar selama ini. Pada Pileg kali ini, PDIP Kukar mengklaim perolehan suaranya cukup untuk mengisi 18 kursi di DPRD Kukar, sementara Partai Golkar sendiri diprediksi maksimal hanya akan mampu mengoleksi 8 kursi.(*sk-2/adv)

 

 

 

 

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI