+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Perbaikan Jalan Desa Masih Jadi Persoalan Di Sambera Baru, Padahal Sudah Pernah Ditinjau Bupati

SISIKOTA.COM – Belum terealisasinya perbaikan jalan desa menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat desa Sambera Baru Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara. Padahal jalan tersebut menjadi akses utama perekonomian masyarakat setempat.

Menurut Kepala Desa Sambera Baru, Muhammad Taufikurahman, belum terealisasinya program perbaikan jalan desa memberi pengaruh pada terhambatnya konektivitas antar wilayah dan mobilisasi hasil perkebunan, mengingat mata pencaharian sebagian besar warga Sambera Baru adalah pekebun karet.

Ditambahkannya, Pemerintahan Desa (Pemdes) Sambera Baru memang sedang berfokus pada program peningkatan infrastruktur jalan sebagai program kerja prioritas di tahun 2024 ini. Karena itulah, pihaknya berupaya serius untuk mengatasi persoalan infrastruktur jalan desa.

Saat ini, pemdes Sambera Baru tengah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) terkait program peningkatan infrastruktur tersebut.

Kepala Desa Sambera Baru, Muhammad Taufikurahman menjelaskan pihaknya akan memfokuskan program pembangunan infrastuktur sebagai program kerja prioritas tahun 2024.

Pemdes Sambera Baru tengah melakukan kordinasi dan komunikasi dengan Bupati Kutai Kartanegara terkait pembangungan infrastuktur tersebut.

“Sejauh ini pak Bupati sudah meninjau secara langsung, diharapkan ada realisasi perbaikan di tahun ini,” jelas Taufik, Rabu (17/4/2024).

Kondisi jalan desa Sambera Baru sebagaimana dimaksud Taufik sebenarnya telah pernah diperbaiki dan di aspal, namun dalam perkembangannya sekarang jalan tersebut sudah perlu perbaikan kembali agar bisa mendorong kelancaran aktivitas ekonomi warga.

“Bupati juga meminta agar perbaikan jalan segera dilakukan pada tahun ini,” imbuh Taufik.

Selain masalah infrastruktur jalan, masalah lain yang juga harus dihadapi oleh pemdes Sambera Baru adalah pembangunan tiang listrik jalan yang belum merata. Belum adanya izin dari Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Pertamina menjadi persoalannya. (*sk-4/adv)  

Kalau Kualitas Jalan Ke Kota Bangun Bagus Mungkin Pela Akan Lebih Ramai

SISIKOTA.COM : Pela adalah desa yang tak punya jalanan. Dari ujung ke ujung, di desa yang sebagian besar di huni masyarakat suku banjar ini hanya ada jembatan kayu ulin yang menjadi akses utama warganya jika ingin saling mengunjungi atau menerima kunjungan tamu dari luar desa.

Karena itu, jangan berharap akan menemukan mobil di desa ini. Alat transportasi utama warga Pela jika ingin bepergian keluar adalah perahu mesin atau ketinting dalam istilah lokalnya. Sementara itu di dalam desa mereka menggunakan sepeda atau sepeda motor yang dikendarai diatas jembatan sepanjang desa. Iya, desa ini memang tak punya daratan. Pela terletak di muara danau Semayang, satu dari tiga danau terbesar di pulau Kalimantan. Sebuah desa yang sebenarnya sangat eksotik.

Dari Pela, kita bisa dengan leluasa menyaksikan sunrise atau sunset. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) desa ini biasanya akan menyiapkan perahu lalu mengantar wisatawan yang  ingin ke tengah danau. Di perairan desa ini pula kita akan punya kemungkinan berjumpa dengan sekawan ikan lumba-lumba air tawar yang langka itu. Orang lokal menyebutnya dengan istilah ikan Pesut. Desa yang secara geografis masuk dalam wilayah kecamatan Kota Bangun ini relatif memang punya banyak kelebihan dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang ada di kawasan pedalaman Kutai Kartanegara. Ditambah lagi, mereka memiliki Supyan Noor dan Alimin.

Supyan Noor adalah Kepala Desa di Pela. Sudah dua kali ia terpilih. Warga sangat hormat padanya. Ia cukup luwes bergaul dengan berbagai kalangan, selain juga sangat dekat dengan warganya sendiri. Ada pula Alimin, partner sang Kades dalam mempromosikan desa mereka sebagai desa wisata. Keduanya cukup lincah berkomunikasi dengan berbagai pihak, baik itu pemerintah setempat atau kalangan perusahaan. Supyan Noor dan Alimin juga berjejaring dengan berbagai komunitas dan pelaku pariwisata didaerah lain selain juga gencar melakukan promosi desanya di sosial media. di facebook, Supyan Noor dikenal dengan nama eyang sepoeh. Kerja keras keduanya diganjar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2022 lalu. Desa Pela masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik. Mas Menteri Sandiaga Uno bahkan kabarnya diam-diam juga sudah mengunjungi desa ini.

Sayangnya, Pela punya masalah sendiri. Hanya sedikit wisatawan yang mau berkunjung ke desa indah ini. Kendalanya adalah infrastruktur jalan. Akses untuk menuju desa ini via darat hanyalah melewati kota Tenggarong, Ibukota Kutai Kartanegara. Masalahnya adalah kondisi dan kualitas jalan yang bisa menghubungkan kita ke desa Pela ini harus bikin kita mikir keras. Jalannya sempit, rusak di beberapa titik dan merupakan jalur yang juga dilintasi oleh kendaraan-kendaraan berat pengangkut batu bara, kayu dan minyak sawit. Paling tidak, kita harus menyediakan waktu tempuh kurang lebih 1,5 sampai 2 jam untuk bisa sampai di Kota Bangun, pintu masuk Desa Pela via jalur darat. Dari Kota Bangun, kita harus melanjutkan perjalanan ke Pela via sungai dengan waktu kurang lebih 15 menit.

“Kita berharap Pemkab Kukar terkhusus dinas terkait dapat membantu fasilitas jalan menuju desa kami” kata Supyan Noor. Sebuah permintaan yang sangat wajar. Pela sudah menasional tentu saja ia ingin Pela semakin ramai oleh kunjungan wisatawan. (*red)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI