+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Resmi Dilantik Sultan, Sempekat Keroan Kutai Siap Menjadi Penjaga Budaya Orang Kutai

SISIKOTA.COM: Tak hanya meresmikan kepengurusan, Sultan Kutai kartanegara Ing Martadipura ke XXI, H. Adji Muhammad Arifin juga meminta seluruh pengurus mengangkat sumpah untuk secara jujur, tegas dan adil menjalankan amanat budaya sebagai orang Kutai.

 

Dalam kutipan teks sumpah yang dibacakan oleh Sultan Adji Muhammad Arifin, terdapat kalimat yang menjadi filosofi kehidupan orang Kutai yaitu “tidak melihat hal yang bukan merupakan hak, tidak mengambil hal yang bukan merupakan hak…”. Kalimat ini terasa dalam maknanya. Seakan menggambarkan keseluruhan tata hidup masyarakat asli Kutai yang selama ini memang dikenal sangat kuat menjaga kerukunan dan silaturahmi untuk kepentingan kedamaian didaerahnya.

 

“Orang Kutai itu lebih memilih hidup tenang walaupun seadanya daripada hidup bergelimang kemewahan tapi melahirkan ketidaktentraman dilingkungan tempatnya berdiam” ujar Dedi Nala Arung, seniman yang juga penulis budaya Kutai Kartanegara.

 

Sabtu (10/02) lalu, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke XXI, H. Adji Muhammad Arifin resmi melantik pengurus baru Sempekat Keroan Kutai (SK2) Kutai Kartanegara. Sejumlah tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang masuk dalam kepengurusan SK2 kali ini. Dari kalangan akademisi misalnya terdapat nama DR. Sabran, SE dan Erwinsyah, SH, SE, M.Si. Keduanya adalah mantan Rektor Universitas Kutai Kartanegara. Sabran diangkat sebagai Panglima Muda sementara Erwinsyah diangkat sebagai Petinggi Muda yang membidangi Hukum dan HAM.  Selain keduanya, masuk pula beberapa nama lain yang dikenal sebagai tokoh dalam bidangnya masing-masing seperti Rahman, tokoh olahraga yang juga adalah Ketua KONI Kutai Kartanegara, Aji Ali Yusni, tokoh olahraga tradisional yang saat ini menjabat Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kukar serta beberapa tokoh muda bidang seni dan budaya seperti Awang M. Rifani, Muhammad Saidar dan Dedi Nala Arung.

 

Sementara itu, Bupati Kutai Kartanegara Edy Damansyah yang juga merupakan orang Kutai asli diangkat menjadi pimpinan tertinggi dalam organisasi paguyuban ini yaitu selaku Panglima Pore dan pada posisi Petinggi Pore yang bertugas memimpin seluruh pengurus dan organisasi pendukung SK2 ditunjuk Thauhid Afrilian Noor, mantan Ketua KNPI Kukar yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar.

Sultan Kutai Adji M. Arifin mengambil sumpah para pengurus (foto: SK2 arsip)

Dalam sambutannya sesaat setelah dikukuhkan sebagai Panglima Pore, Edy Damansyah sempat berkelakar dengan mengatakan bahwa ibarat dalam organisasi ketentaraan maka jabatan Panglima Pore itu berarti adalah komandan tertinggi. Apapun arahan dan instruksi panglima, itulah berarti yang harus dijalankan oleh anggotanya.

 

“Berarti kalau panglima bilang serbu, semua harus bergerak nyerbu” kata Edy yang disambut oleh tawa dan tepuk tangan masyarakat dan para undangan yang hadir.

 

Petinggi Pore SK2 yang baru dilantik, Thauhid Afrilian Noor pada kesempatan lain menegaskan bahwa organisasi SK2 ini adalah organisasi orang Kutai yang secara khusus bertugas melestarikan, mengembangkan dan menjaga kelangsungan budaya tanah Kutai, terutama ditengah dinamika kekinian yang serba modern. Namun demikian, dengan dukungan seluruh pengurus dan keterlibatan masyarakat Kutai secara umum ia tetap optimis Kutai sebagai entitas budaya akan mampu bertahan dan berkembang melintasi perjalanan peradaban hingga ke masa depan.

 

Prosesi pelantikan pengurus SK2 Kukar kemarin berlangsung cukup menarik karena mengambil lokasi di depan Kedaton Kutai Kartanegara yang bersebelahan dengan masjid bersejarah yaitu masjid Jami’ Hasanudin. Dalam acara tersebut juga diketengahkan beberapa karya tari dari sanggar tari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.(red)

Sejarawan Muhammad Sarip: “Selain Kehilangan Perpustakaan Hidup, Kutai Juga Kehilangan Figur Kultural”

Beberapa hari setelah mangkatnya Pangeran Adji Deck dan Pangeran Adji Boly, kami mewawancarai Muhammad Sarip, sejarawan Kaltim yang banyak menulis buku mengenai perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kertanegara. Berikut hasil interview kami pada 6 Agustus 2023 lalu :

 

Sisikota :

“Kehilangan semacam apa lagi yang kemungkinan akan dirasakan orang Kutai setelah kepergian dua budayawan tersebut bang?”

Muhammad Sarip :

“Mangkatnya beliau berdua merupakan duka bagi masyarakat Kutai. Selain duka kehilangan referensi berjalan atau perpustakaan hidup, publik Kutai juga kehilangan figur kultural”

 

Sisikota :

“Apa peran kultural beliau berdua?”

Muhammad Sarip :

“Beliau panutan yang berperan mengayomi semua kalangan kerabat Kutai lintas profesi, beda preferensi politik dan kepentingan yang variatif. Kedua sepuh Kutai ini semasa hidup merupakan dua figur yang dihormati dan disegani tak hanya oleh masyarakat Kutai, tapi juga oleh Sultan Kutai sendiri. Terdapat kedetailan kesenian tertentu yang dikuasai oleh Pangeran Adji Deck dari tutur lisan Sultan Adji Mohamad Parikesit”

 

Sisikota :

“Apa contoh tata nilai adat Kutai warisan Sultan Parikesit yang masih aktif diberlakukan sampai saat ini di kalangan kerabat Keraton maupun di tengah masyarakat Kutai berdasarkan informasi dari Pangeran Adji Deck?”

Muhammad Sarip :

“Sejumlah adat istiadat di lingkungan keraton Kutai diberlakukan menurut petunjuk dari Pangeran Adji Deck. Prosesi upacara Erau, kedetailan tata busana adat, kekhususan lencana dan asesoris pada busana adat yang bervariasi sesuai gelar tertentu si pengguna busana, ornamen pada kedaton yang dibangun pada awal abad ke-21, termasuk juga jumlah anak tangga kedaton dan sebagainya”

 

Sisikota :

“Beliau berdua kan pasti banyak meninggalkan warisan berupa dokumen, naskah-naskah sejarah dan cerita-cerita budaya, menurut anda kebijakan apa yang harus dilakukan internal kerabat Keraton Kutai agar semuanya tetap terpelihara dengan baik?”

Muhammad Sarip :

“Untuk dokumen warisan Pangeran Adji Deck dan Adji Boly, saya melihat aspek pemeliharaan dan kebermanfaatannya bisa untuk kepentingan publik yang lebih luas. Dengan pertimbangan itu, saya menyarankan kepada ahli waris beliau berdua untuk tetap menjaga dengan baik dan ketat terhadap warisan dokumen tersebut. Jika khawatir dengan keterbatasan daya simpan atau resiko keamanan yang (mungkin) berdampak pada kerusakan fisik, saya menyarankan agar arsip tersebut disimpan pinjamkan ke institusi kearsipan”

 

Sisikota :

“Apa itu cukup safety? soalnya ini kan dokumen warisan bernilai penting?”

Muhammad Sarip :

“Opsi lembaganya bisa di kantor kearsipan tingkat provinsi yang terletak di Samarinda Seberang. Saya dapat info dari pejabat bidang kearsipan provinsi, mereka punya fasilitas sesuai standar untuk membantu menyimpan arsip atau dokumen penting dari masyarakat”

 

Sisikota :

“Teknisnya gitu ya bang? atau gimana, ada saran lain?”

Muhammad Sarip :

“Demi kepentingan publik, saran saya aparatur bidang kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltim dapat (lebih) proaktif menghubungi dan bernegosiasi dengan ahli waris Pangeran Adji Deck di Samarinda. Kalau untuk arsip warisan Pangeran Adji Boly di Jakarta, saya menyarankan kedua pihak, baik ahli waris beliau maupun ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia-red) agar proaktif dalam tindakan penyelamatan dan pemeliharaannya”

 

Sisikota :

“Secara khusus, peran pemerintah dalam hal ini seperti apa bang?”

Muhammad Sarip :

“Pemerintah, dalam hal ini nomenklatur bidang kearsipan, sebenarnya sudah punya program memelihara atau melestarikan arsip dan manuskrip bersejarah yang dimiliki oleh masyarakat. Di tingkat provinsi dan kabupaten terdapat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang bertugas mengerjakan kegiatan tersebut. Sementara di tingkat pusat terdapat kantor ANRI di Jakarta. Bentuk pelestariannya bisa dengan membantu penyimpanan dan perawatannya disana. Bentuk konservasi berikutnya adalah dengan mendigitalisasi dokumen tersebut. Namun eksekusi pemerintah kadang terkendala dengan masalah klasik”

 

Sisikota :

“Apa masalah klasiknya?”

Muhammad Sarip :

“Masalah klasiknya berupa problematik anggaran dan keterbatasan sumber daya manusia pelaksananya”

 

Sisikota :

“Lalu bagaimana dengan warisan berupa folklor, tutur lisan yang mungkin saja belum sempat ditulis?”

Muhammad Sarip :

“Untuk (warisan berupa) folklor dari Pangeran Adji Deck, sebagiannya (sudah) ada yang merekam dalam video dan audio. Saya menyarankan agar pihak pemerintah proaktif memfasilitasi penulisannya secara khusus dalam output karya buku, baik buku cetak maupun buku digital. Jika tidak, sebaiknya pihak komunitas intern Kutai berinisiatif yang mengerjakannya. Eksekusinya bisa berkolaborasi dengan pihak lain, sebagaimana yang sedang berjalan untuk konten tertentu yang saya dilibatkan didalamnya”

(Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI