+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Kisah Pangeran Adji Deck (Bagian 2) : Dipaksa Aparat Menyaksikan Aksi Pembakaran Benda Pusaka Kutai

SISIKOTA.COM : Kami meminta informasi langsung kepada sejarawan Muhammad Sarip tentang ketokohan Pangeran Adji Deck. Karena cukup panjang, cerita berikut kami bagi dalam beberapa bagian dengan tujuan untuk memudahkan pembaca menghayati detail pengalaman sang sejarawan berinteraksi langsung dengan sesepuh Keraton Kutai Kertanegara tersebut.

 

Pada subuh hari di bulan Agustus 1964 sekelompok orang berseragam tentara masuk ke istana Tenggarong. Sultan Parikesit dan sejumlah kerabat dibawa paksa ke Balikpapan dan dipenjarakan di sana. Beberapa properti kerton dirusak. Menurut Adji Deck –sebagaimana dituturkan kepada saya pada 20 Maret 2022-, dengan rasa pilu Sultan Parikesit mempertanyakan mengapa dirinya ditangkap dan dipenjarakan oleh militer pada tahun 1964. Sultan Parikesit bingung karena merasa tidak berbuat kesalahan apa-apa terhadap negara. Tidak ada pernyataan, sikap atau aktivitas Sultan yang terindikasi makar atau melawan pemerintah.

 

Usai keruntuhan orde lama dan hilangnya kekuasaan Presiden Sukarno, nasib Kesultanan Kutai juga tidak lebih baik. Keraton Kutai malah diakuisisi oleh pemerintah Orde Baru untuk dijadikan museum pada tahun 1971. Informasi resmi bahwa keraton beton yang dibangun tahun 1936 itu diganti rugi oleh pemerintah RI kepada Sultan Parikesit senilai Rp64 juta.

“Sultan Parikesit terpaksa menerima saja keraton Kutai diambil alih pemerintah karena masih trauma dengan tragedi yang menimpa Sultan dan keluarganya” ujar Adji Deck.

 

Sikap Penolakan tidak ditempuh Sultan Parikesit karena lebih mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan keselamatan keluarga. Adji Deck juga bercerita tentang pengalamannya ditahan aparat. Dari tahanan di Tenggarong, Adji Deck dan para kerabat diangkut ke Samarinda, tepatnya ke lapangan Kinibalu di belakang kantor Gubernur Kaltim. Mereka diberi tahu keperluannya untuk menghadiri rapat raksasa oleh militer. Adji Deck lupa dan tidak bisa memastikan kapan tanggal kejadiannya. Namun, saya memperoleh data autentik dari dokumen yang kini berada di Jakarta bahwa peristiwa itu terjadi pada Jumat 21 Mei 1965.

 

Setibanya di lapangan, ternyata Adji Deck dan masyarakat disuruh menyaksikan aksi pembakaran benda-benda pusaka Kutai. Adji Deck mengaku, menyaksikan juga lembaran catatan sejarah dan silsilah Kutai yang dibakar. Dalam foto dokumentasi yang dijepret oleh wartawan Antara, tampak atribut Sultan Kutai seperti baju kebesaran, mantel, setorong, payung ubur-ubur dibakar ditengah lapangan.

“Waktu itu kami dipaksa meneriakkan kata bakar-bakar, supaya seolah-olah pembakaran pusaka Kutai itu atas kehendak masyarakat itu sendiri. Saya terpaksa berteriak bakar padahal dalam hati saya menangis” kenang Adji Deck menyesali tragedi tersebut.

 

Lima hari setelah mewawancarai Adji Deck, saya menghadiri undangan rapat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda. Usai rapat, seorang staf Disdikbud Bidang Kebudayaan menginfokan bahwa pada 2022 ada penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tingkat Provinsi Kaltim untuk para tokoh pegiat bidang seni dan budaya. Mekanismenya, usulan kandidat penerima direkomendasikan oleh Disdikbud tingkat kota/kabupaten kepada Disdikbud Provinsi. Staf dinas tersebut meminta info dari saya tentang nomine yang berpeluang.

 

Hanya satu nama tokoh yang saya sampaikan kepada staf Disdikbud Samarinda. Saya sebut untuk kategori Pelestari Adat Istiadat. Saya yakinkan dengan portofolio dan kesepuhannya tokoh ini niscaya unggul. Sekitar dua bulan berikutnya terdapat delapan nama kandidat lain dari Samarinda, Kukar dan Paser untuk kategori yang sama. Sembilan kategori lainnya memunculkan 25 nama kandidat. Selanjutnya tim juri yang ditugaskan Disdikbud Kaltim memverifikasi dan menilai tiap calon. Akhirnya, pada malam Anugerah Kebudayaan Indonesia Kaltim 15 November 2022, Gubernur H. Isran Noor memberikan penghargaan AKI Kaltim kategori Pelestari Adat Istiadat kepada Adji Achmad Dick Belly. Inilah nama yang saya usulkan itu. Tentu saja, hasil ini berkat proses normatif yang dikerjakan oleh putra dan kerabat Adji Deck, termasuk dukungan dari Sultan Adji Muhammad Arifin. (Muhammad Sarip-selesai).

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI