+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

UHUY: Mengusung Keripik Tempe Dari Ponoragan

(sisikota.com)

UHUY: Mengusung Kripik Tempe Dari Ponoragan

Pernah coba-coba bikin usaha pembuatan rak bunga, tapi cuma bertahan empat bulan. Iksan kini beralih ke produk inovasi tempe. Memanfaatkan usaha keluarga dan bahan baku yang melimpah di Loa Kulu.

 

SISIKOTA.COM – Waktu di SMA, Iksan pernah juara lomba pembuatan rak bunga. Gara-gara hasilnya ia posting di media sosial, ada seorang kawan yang tertarik dan minta dibuatkan rak bunga juga. Iksan tergoda untuk membuat pengalamannya itu jadi usaha.

Tapi urusan rak bunga hanya bertahan empat bulan ternyata. Produksinya kembang kempis karena minimnya pemesanan. Iksan harus bolak balik mengurai ide lagi, apa yang bagus dibuat jadi usaha.

Iksan Adi Saputro adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta). Ia tinggal di Ponoragan, salah satu desa yang menjadi bagian dari kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kecamatan ini terkenal dengan produksi tempenya. Nama “tempe loa kulu” sudah cukup populer sampai ke daerah-daerah sekitarnya seperti Tenggarong, Samarinda, Loa Janan, Sanga-sanga dan lainnya.

Ibu Iksan juga punya usaha produksi tempe. Dari sinilah Iksan kemudian terpikir membuat inovasi dari produk yang dijual ibunya. Ia kemudian memutuskan mengolah tempe Ponoragan menjadi keripik. Keripik tempe olahan ini lantas ia beri merek Uhuy. Ibunya juga mendukung ide Iksan tersebut.

“Nama Uhuy itu spontan saja munculnya, hasil dari bercanda dengan teman-teman” ujar Iksan. Apalagi, ia mengaku pacarnya juga suka dengan nama itu. Menarik dan mudah diingat, begitu menurut Iksan pacarnya berpendapat.

Menjelang hari raya keagamaan seperti Idul Fitri saat ini, biasanya jumlah pemesanan keripik tempe produksi Iksan akan meningkat. Dari pengalamannya, jumlah pemesanannya pernah mencapai 15 kg saat menjelang hari raya. Jumlah itu dua kali lipat dibanding hari-hari biasa yang berkisar di angka 3-7 kg saja.

Iksan memulai usaha keripik tempe Uhuy sejak 3 tahun lalu, usai gagal merintis usaha pembuatan rak bunga. Ia sadar, bahan baku untuk usaha keripik tempe yang dibuatnya tersedia melimpah di Loa Kulu. Kecamatan ini sejak dulu adalah sentra penghasil tempe yang terkenal karena rasanya.

Untuk strategi usahanya, Iksan mengkombinasikan antara teknik pemasaran modern melalui sosial media dengan teknik klasik yaitu dengan cara menitipkan produknya di warung-warung sekitar desanya.

Kini keadaan usahanya sudah jauh lebih berkembang. Konsumen sudah lebih mengerti bagaimana cara pemesanan langsung. Soal ini, kadang Iksan kerepotan juga bila stok bahan bakunya sedang habis, sementara pemesanan sedang ramai.

“Jadi saling kolaborasi. Misalnya di tempat saya habis, kerjasama dengan teman-teman ibu saya, ambil stok (bahan baku) dengan mereka” terang Iksan.

Dari rumah sederhana mereka di jalan Sidodadi RT 5 Desa Ponoragan, Iksan dan ibunya terus menggeliatkan usaha rumahan ini agar semakin besar dan menghasilkan. Apalagi dunia agroindustri sudah menarik perhatiannya sejak lama. Tak ada yang salah baginya, menjadi usahawan sambil berkuliah dan membanggakan orang tua. (*sk-5)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI