UTAK ATIK OTAK IDAMAN

                                                                                                                                                                                                    Catatan Kota

Sumber : Reza Fauzan.(Sisikota)


Sebagai pemenang Pilkada yang didiskualifikasi, yakinlah bahwa otak Edi Damansyah (ED) saat ini tengah bekerja lebih ekstra memikirkan siapa sosok penggantinya. Apalagi ia dikejar-kejar deadline pendaftaran yang mepet. Mahkamah Konstitusi (MK) hanya memberi jeda tak lebih dari 60 hari lagi menuju Pemungutan Suara Ulang (PSU).

 

Tentu saja tidak mudah bagi Edi Damansyah untuk menentukan “pemain cadangan” secara mendadak ditengah realitas kemenangan enam puluh persen lebih di Pilkada November lalu. Para pendukungnya jelas punya ekspektasi tersendiri soal siapa sosok pemain cadangan ini.

 

Di medsos (media sosial), sejumlah nama mulai disorak-soraikan para pendukungnya. Macam-macam nama, macam-macam latar belakang terbit mengudara ke angkasa politik Kutai Kartanegara yang memang cenderung selalu ramai perhatian. Apalagi, inilah kabupaten dengan angka APBD kurang lebih Rp 13 triliun. 

 

Di sela-sela sesi kopi santai menunggu sahur, tim redaksi Sisikota mencoba mengurai peta berisi kemungkinan-kemungkinan isu arus utama dan siapa sosok kunci yang bakal menggantikan posisi Calon Bupati dari partai Banteng Kutai Kartanegara. Kenapa hal ini menarik didiskusikan? Setidaknya, ada dua alasan politisnya. Pertama, karena Edi Damansyah tidak akan mau dikalahkan pada partai tanding ulang nanti.

 

Kekalahan hanya akan melahirkan kekacauan bagi Internal gerbongnya. Alasan kedua, siapapun nama calon pengganti yang diputuskan Sang Jenderal IDaman akan mengubah sebagian besar konstelasi politik Kutai Kartanegara sepanjang tahun ini hingga Pilkada berikutnya di tahun 2030 nanti.

ISU LOYALITAS


Loyalitas kemungkinan besar adalah isu utama dalam kepala Edi Damansyah. Isu ini akan menjadi pertimbangan utamanya sebelum menulis nama calon penggantinya di surat usulan rekomendasi ke Megawati. Edi tidak akan menaruh aspek kepintaran, jumlah tabungan atau pengalaman sebagai syarat utama penggantinya. Ia hanya membutuhkan seorang loyalis, yaitu orang yang secara berani dan sadar berperan sebagai bayangannya.

 

Sang Loyalis harus siap melaksanakan berbagai rencana kebijakan politik baru yang mungkin sudah sempat tersusun sekaligus mengamankan kebijakan-kebijakan politik sebelumnya. Kasarnya, orang yang menggantikannya adalah orang yang tidak boleh membuat ia khawatir selama 5 tahun kedepan. 

 

Loyalitas juga sekaligus akan menjadi faktor yang menguji orang-orang terdekatnya sendiri. Dengan pengalaman panjangnya di pemerintahan, Edi pastilah sudah lebih fasih membedakan mana si penurut, mana si pejuang atau mana si penjilat dilingkaran terdekatnya. 

 

Meski nampak adem ayem saja di permukaan, pergumulan dilingkaran utama Edi sesungguhnya cukup panas.  Mulai dari kabar tak rukunnya para petinggi di internal PDIP Kukar hingga rebut-rebutan pengaruh antar tim ring satu. Belum lagi kabar lainnya soal sejumlah pejabat dinas yang berkinerja “asal bapak senang” atau kasak kusuk membangun tabungan politik.


Karena pemikiran ini, loyalitas lebih penting buat Edi saat ini. Orang pintar tak terlalu urgent baginya. Siapapun yang bisa meyakinkan Edi soal loyalitasnya, itulah yang paling mungkin ditunjuknya.

 

Edi Damansyah pasti juga akan berusaha meminimalisir potensi perpecahan timnya jika nanti ia sudah menentukan nama penggantinya. Inilah yang bikin tugas Edi cukup berat, mencari orang loyal yang punya tingkat keterterimaan tinggi di pendukungnya dan di hadapan masyarakat Kutai Kartanegara.  Dimanakah Edi harus mencarinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menyusuri kanal-kanal utama di sekitar Edi. 

 

PENGGANTI JENDERAL IDAMAN


Di sekitar Edi terdapat beberapa kanal utama, antara lain kanal biologis, kanal ideologis dan kanal birokratis. Ini hal yang wajar dan biasa saja. Edi adalah mantan birokrat. Wajar saja jika ia punya kanal khusus untuk kolega-kolega seperjuangannya semasa jadi PNS dulu. Edi kini juga ketua PDIP Kukar. Ia membawahi banyak orang yang mungkin sudah bergabung dengan partai banteng gemuk itu sejak berdirinya dulu. Mereka yang menjalankan ideologi nasionalisme khas Bung Karno. Mereka inilah yang menghuni kanal ideologis. Sedangkan kanal biologis, isinya adalah anggota keluarga Edi yang sedikit banyak ikut andil mempengaruhi kebijakannya selama memimpin Kukar. 

KANAL BIOLOGIS


Kemungkinan nama yang muncul dari kanal ideologis hanyalah sosok Maslianawati. Ia adalah istri dari Edi Damansyah. Sejauh ini, Maslianawati dikenal cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, meskipun kebanyakan aktifitas tersebut baru gencar ia lakukan sejak Edi Damansyah menjadi Bupati Kukar.

 

Secara leadership, Maslianawati bisa dibilang minim pengalaman. Ia bukan pengurus partai politik, juga tidak pernah memimpin organisasi kemasyarakatan. Tapi sebagai kader biologis, Maslianawati punya kelebihan. Ia mungkin tak terlalu pusing memikirkan modal finansial kalau misalnya ditunjuk suaminya sebagai pengganti. Diluar nama Maslianawati, hampir tak ada nama yang bisa disebut dari jalur biologis. Anak-anak Edi Damansyah berpeluang sangat kecil untuk ditunjuk ayahnya. 

 

Resiko yang mungkin muncul jika memilih nama dari kanal biologis adalah kerepotan menangkis isu dinasti politik, isu yang selama ini sangat dihindari oleh Edi Damansyah. Akan terlalu banyak pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan Edi bersama timnya ditengah-tengah waktu pemilihan yang mepet. 

KANAL BIROKRATIS


Ada beberapa nama potensial dari kanal ini. Sebut saja Sunggono, Sekretaris Daerah saat ini. Sunggono santer disebut karena dianggap sangat berpengalaman di birokrasi. Ia meniti karir mulai dari posisi Camat.

 

Ada pula nama lain seperti Thauhid Afrilian Noor, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar yang merupakan kolega lama Edi di pemerintahan. Nama Ir. Rudi Suryadinata juga bisa dihitung. Ia adalah Sekretaris Dinas PU Kukar saat ini. Selain kenyang pengalaman sejak era pemerintahan Bupati Rita Widyasari, Rudi juga dikenal sebagai aktivis KNPI Kukar di masa lalu. Artinya, ia cukup paham dinamika sosial politik Kukar. 

 

Selain nama ketiganya, dari kanal ini juga memuat nama potensial lainnya meskipun belum terlalu populer. Nama-nama tersebut antara lain adalah dr. Yuliana, Direktur Rumah Sakit AM Parikesit Tenggarong yang juga dikenal sebagai loyalis Edi. Yuli adalah partner setia Edi terutama saat mengatasi masa covid19 lalu. Ada pula nama Arianto, Kepala Dinas Pembangunan Masyarakat Desa Kukar. Meski terbilang masih cukup muda, sosok ini bsia saja mencuri perhatian Edi karena prestasinya dalam mengelola Pendekar Idaman, pasukan pendamping pemerintah desa yang merupakan salah satu ujung tombak prestasi politik Edi Damansyah.

 

KANAL IDEOLOGIS


Kanal ideologis berisi nama-nama yang merupakan support system Edi di internal PDIP Kukar. Andai saja Ketua DPRD Kukar Junaidi tidak meninggal dunia, niscaya namanya akan berada dalam daftar ini. Selain Junaidi, tentu masih ada beberapa nama potensial yang mungkin saja jadi pilihan Edi dari internal partai banteng gemuk. 
Setidaknya, dari kanal ini potensi sebagai pengganti Edi bisa tiba kepada Guntur, Didik Agung Eko Wahono, dr. Aulia Rahman Basri dan Akbar Haka. Kalau mau diurai, nama Akbar Haka mungkin boleh dikesampingkan dulu.

 

Akbar Haka saat ini tengah menatap waktu pelantikannya sebagai anggota DPRD Kukar, menggantikan almarhum Junaidi. Jadi mungkin ia akan lebih berkonsentrasi pada posisinya. Selain itu, ada “luka lama” yang mungkin belum sembuh terkait hubungan komunikasi politik antara Akbar dan Edi sebelum Pemilihan Legislatif tempo hari.
Aulia Rahman Basri bisa diperhitungkan sebagai calon potensial. Di internal PDIP Kukar, dia adalah Wakil Ketua Bidang Politik.

 

Di PDIP, jabatan wakil ketua bidang politik adalah salah satu jabatan mentereng dan penting. Ditambah lagi, Aulia Rahman punya modal politik kuat sebagai komunikator politik antar partai dan mantan birokrat. Modal politiknya bisa dibilang semakin lengkap jika dihitung pula pergulatan Aulia Rahman sebagai mantan aktivis dan pengusaha dengan jaringan cukup luas. 
Guntur dan Didik Agung Eko Wahono adalah potensi besar lainnya yang dimiliki Edi saat ini di PDIP. Keduanya merupakan anggota DPRD Kaltim yang terpilih pada Pemilu Legislatif lalu dengan suara yang cukup besar di Kukar.

 

Guntur dan Didik juga berpengalaman bertahun-tahun sebagai legislator yang sudah punya basis massa cukup fanatik di akar rumput. Guntur bahkan bisa dibilang punya kelebihan tersendiri karena latar belakangnya sebagai tokoh Kutai bagian Hulu. Kita tahu, kombinasi Kutai dengan Bugis yang tergambar pada Edi-Rendi terdahulu adalah kombinasi maut bagi citra kesatuan di Kukar. Meski begitu, sosok Didik yang berlatar jawa juga punya pijakan kuat dalam peta politik lokal. Kukar saat ini Sebagian besar di huni oleh masyarakat pendatang asal Jawa. Jumlahnya cukup signifikan yaitu sekitar 35 persen lebih.


Soal nama, harusnya Edi tak perlu pusing-pusing benar. Jika melihat ketiga kanal tadi, stok nama yang potensial cukup banyak. Yang mungkin akan bikin pusing, bagaimana mengantisipasi potensi pecah belah pendukung dan membangun kepercayaan pemilih terhadap calon penggantinya dalam waktu yang sungguh sangat singkat ini. (Tim Redaksi)

Iklan sisikota.com

Tags:

politik kukar