+ BAHASA INDONESIA

+ BAHASA INDONESIA

Ahmad Sasiansyah: “Saya Mohon Sekali Pak, Tolonglah, Jangan Ada Blasting Lagi”

Ahmad Sasiansyah, salah seorang warga yang rumahnya ikut terdampak kegiatan blasting tambang (Izmil Patola/sisikota.com)

Dengan suara sangat lirih, Ahmad Sasiansyah memohon kepada perwakilan PT. KSM yang duduk tidak jauh didepannya agar tidak lagi melakukan kegiatan peledakan (blasting). Lelaki berperawakan kecil tersebut bersimpuh di lantai. Suaranya berubah menjadi isakan tangis.

 

SISIKOTA.COM – Ahmad Sasiansyah adalah Ketua RT 9 di desa Kedang Ipil. RT dimana ia tinggal bersama puluhan warga lainnya tersebut merupakan lingkungan paling dekat jaraknya dengan titik peledakan di Blok Osor Timur, blok yang sedang menjadi area operasi penambangan PT. KSM. Usai bersimpuh ia tidak lagi sanggup meneruskan perkataannya. Seorang warga lain berusaha menenangkannya, kemudian menuntunnya keluar dari Gedung Adat, tempat rapat mediasi digelar.

 

Siang itu, dihadapan Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Kukar Ahmad Taufik Hidayat, Camat Kota Bangun Darat Julkifli dan Kepala Teknik Tambang PT. KSM Sugeng Tri Banendyo yang datang bersama sejumlah jajaran manajemen perusahaan, Ahmad Sasiansyah menceritakan apa yang ia alami pada tanggal 26 Februari 2024.

 

Ia sedang hendak tidur ketika didengarnya dua kali suara ledakan yang sangat keras dari arah tambang. Getarannya benar-benar membuatnya ketakutan, apalagi ketika ia ingat rumahnya berada tidak jauh dari sebuah menara telekomunikasi yang berdiri menjulang di lingkungan RT-nya.  Ia bergegas keluar rumah untuk melihat keadaan sekeliling. Itulah saat dimana Ahmad menyaksikan menara telekomunikasi tersebut bergoyang seolah hendak roboh. Ahmad lantas bergegas menemui seseorang yang dikenalnya di internal perusahaan. Ia menanyakan seberapa membahayakan efek getaran dari kegiatan blasting saat itu. “Saya pergi ke Pak Roy, waktu itu saya tanya, Pak, berapa getarannya ini? lalu dijawab, satu koma aja mas. Busyet cuma satu koma tapi goncangannya lebih hebat daripada dihantam sama angin” tuturnya.

 

Ahmad Sasiansyah memang nampak sangat trauma dengan kegiatan blasting di dekat rumahnya. Baginya, suara ledakan dari tambang itu ibarat teror baginya dan warga di RT-nya. Terhitung, ada 10 kali kegiatan peledakan yang telah dilakukan perusahaan. Tidak banyak lagi yang berani menengok kebun-kebun buahnya sejak kejadian itu. Rata-rata warga sangat takut mendengar suara ledakan atau malah lebih buruk lagi, takut rumahnya tertimpa menara telekomunikasi yang mungkin sewaktu-waktu bisa roboh.

 

“Kalau dilakukan blasting lagi, saya tidak tahu harus bagaimana pak, bisa jadi tower itu roboh dan menimpa rumah saya. Kalau itu sampai terjadi pak, wah bisa modar alias mati saya pak” jelasnya dengan suara memelas didepan para perwakilan perusahaan. Hari itu, ada dua pihak perusahaan yang hadir dalam pertemuan mediasi tersebut, yaitu PT. Kartika Selabumi Mining (PT. KSM) dan PT. Karya Bhumi Lestari (PT. KBL).

 

Soal trauma ini tidak hanya dialami oleh Ahmad Sasiansyah. Maria Ester, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara yang turut hadir langsung ketika sesi mediasi mengakui bahwa pihaknya juga telah mendapatkan laporan dari Kepala Sekolah Dasar (SD) 010, salah satu sekolah yang juga mengalami kerusakan parah, bahwa sejumlah siswa-siswi di sekolah tersebut kini merasa enggan untuk mengikuti proses belajar karena takut dan trauma. Berdasarkan data Kepala Desa, SD 010 mengalami kerusakan berupa dinding kelas retak serta beberapa kaca jendela ruang belajar pecah.

 

Maria menekankan agar pihak perusahaan benar-benar memperhatikan efek trauma tersebut terhadap siswa-siswi. “Trauma itu tidak akan terlihat saat ini, tapi akan berdampak nanti pada saat mereka mengikuti jenjang pendidikan yang lebih lanjut” terang Maria. Ia menyarankan perusahaan untuk kembali membuat kajian ulang terhadap penambangan dengan metode blasting ini. Ia tak ingin anak-anak di desa Kedang Ipil dan sekitarnya mengalami trauma psikis yang mungkin bisa berdampak jangka panjang.(*Tim Redaksi)

PILIH BAHASA

+ BAHASA INDONESIA

CARI

PERISTIWA TERKINI

+ BAHASA INDONESIA

TONTON

PERISTIWA TERKINI