Damkarmatan Kukar Butuh Lima Titik Hidran di Danau Aji, Lahan Baru Tersedia untuk Dua

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutai Kartanegara Fida Hurasani menjelaskan kebutuhan penguatan hidran dan sumber air di kawasan permukiman padat Tenggarong. (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kutai Kartanegara membutuhkan sedikitnya lima titik hidran untuk memperkuat kesiapsiagaan kebakaran di kawasan Danau Aji, Tenggarong. Namun, hingga kini lahan yang dapat digunakan baru tersedia untuk dua titik.

Kepala Damkarmatan Kukar Fida Hurasani mengatakan persoalan ketersediaan lahan menjadi salah satu kendala dalam memperkuat sistem sumber air di kawasan permukiman padat tersebut.

“Kalau warga bisa memberikan lahan, jumlah hidran yang dibutuhkan bukan hanya dua titik, tetapi lima titik. Saya meminta lima titik, tetapi warga baru sanggup menyediakan lahan untuk dua titik,” kata Fida, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, kebutuhan hidran semakin mendesak setelah kebakaran besar di kawasan RT 33 Kelurahan Melayu memperlihatkan keterbatasan sumber air selama proses pemadaman.

Danau Aji dan kawasan sekitarnya sebelumnya telah masuk dalam pemetaan Damkarmatan sebagai wilayah berisiko tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi kepadatan bangunan, akses terbatas, serta jarak sejumlah permukiman dari sumber air. 

“Kalau bicara hidran, ini memang sangat urgen, terutama di wilayah Danau Aji. Selain di sana, ada juga kawasan Danau Melintang dan beberapa wilayah lainnya yang membutuhkan hidran,” ujar Fida.

Jauh dari Sungai Jadi Persoalan

Fida menjelaskan kebutuhan hidran tidak sama pada setiap kawasan.

Permukiman yang masih berada dekat sungai relatif memiliki alternatif sumber air ketika terjadi kebakaran. Kondisinya berbeda dengan kawasan padat yang berada ratusan meter dari sumber air terbuka.

“Kawasan yang masih berada di pinggir sungai, seperti Jalan Kartini, masih memungkinkan mengambil air dari sungai. Namun untuk kawasan yang berjarak sekitar 400 meter dari sungai, keberadaan hidran memang sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Masalah sumber air juga muncul dalam kebakaran RT 33. Petugas sempat harus mencari suplai air dari lokasi lain karena fasilitas yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan pemadaman secara terus-menerus. 

Menurut Fida, keberadaan hidran harus didukung jaringan dan sumber air dengan kapasitas serta tekanan yang memadai.

Ia menilai sumur bor tidak selalu menjadi solusi ideal untuk kebutuhan pemadaman skala besar karena debit dan kapasitasnya dapat terbatas.

“Kalau terjadi kebakaran, kita tidak bisa menunggu pengisian ulang air seperti itu. Kita membutuhkan sumber air yang memiliki kapasitas dan tekanan yang memadai,” katanya.

Hidran Lama Tak Lagi Maksimal

Fida juga menyoroti kondisi fasilitas hidran yang telah dibangun sebelumnya.

Menurutnya, sebagian titik tidak lagi dapat dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa bahkan disebut tidak lagi ditemukan setelah perubahan infrastruktur jalan.

“Saya tidak mau mengungkit masalah masa lalu. Namun hidran-hidran yang ada sekarang sudah tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Ada beberapa titik yang sudah tidak saya temukan lagi setelah pelebaran jalan,” ujarnya.

Persoalan hidran yang tidak berfungsi juga muncul dalam evaluasi pascakebakaran Kelurahan Melayu. Damkarmatan sebelumnya menyebut beberapa jaringan hidran kota tidak dapat diandalkan saat dibutuhkan. 

Fida mengatakan pemeriksaan hidran secara berkala yang sebelumnya dilakukan juga sudah tidak berjalan seperti dahulu.

Pada masa program tersebut masih aktif, personel Damkarmatan melakukan pengecekan setiap bulan, termasuk membersihkan lumpur dan memastikan fasilitas dapat digunakan.

Usulkan Penampungan Air

Selain hidran, Fida mengusulkan alternatif berupa penampungan air atau bunker yang dapat menyediakan cadangan air dalam jumlah besar.

Ia mencontohkan sistem penampungan yang terdapat di kawasan Tangga Arung Square.

Menurutnya, langkah mitigasi jangka pendek tetap diperlukan sambil menunggu perencanaan infrastruktur yang lebih permanen.

“Jangan sampai kita menunggu perencanaan dan anggaran tahun depan, sementara kebakaran bisa terjadi sewaktu-waktu. Sejak kejadian kebakaran malam itu, kami sudah mulai melakukan simulasi di mako dengan menggunakan pemetaan kembali,” katanya.

Damkarmatan juga akan melanjutkan koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta perangkat daerah dan pihak lain yang berkaitan dengan jaringan air.

Disperkim Kukar sebelumnya menyatakan akan bekerja sama dengan Damkarmatan untuk memetakan kembali kebutuhan hidran dan infrastruktur pendukung di kawasan padat Tenggarong. 

Danau Aji Tetap Berisiko Tinggi

Fida mengatakan pembangunan hidran tidak dapat dipisahkan dari persoalan tata ruang dan kondisi permukiman.

Menurutnya, Danau Aji akan tetap memiliki risiko kebakaran tinggi apabila kepadatan bangunan, akses, tata ruang, dan sumber air tidak ikut dibenahi.

“Danau Aji akan tetap berstatus zona merah sampai kapan pun jika penataan bangunan, tata ruang, dan ketersediaan sumber air tidak dibenahi,” tegasnya.

Ia mengatakan kawasan tersebut telah dipetakan Damkarmatan sejak sekitar tiga tahun lalu. Berbagai simulasi dan pemetaan sumber air telah dilakukan, tetapi kesiapan infrastruktur masih menghadapi kendala.

Damkarmatan sebelumnya juga telah memasang hidran kering serta tandon air di sekitar kawasan Danau Aji. Namun, pengalaman kebakaran terakhir menunjukkan kapasitas sumber air masih belum mencukupi ketika api meluas di kawasan padat. 

Karena itu, pemetaan ulang akan digunakan untuk menentukan kebutuhan sumber air, akses pemadaman, serta titik hidran yang paling efektif di kawasan berisiko tinggi. (rry/bby/adv)

Iklan sisikota.com

Tags:

Damkar Kukar

Disdamkarmatan Kukar