75 KK dan 224 Jiwa Terdampak, Pemkab Kukar Siapkan Pemulihan Jangka Pendek hingga Panjang

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri meninjau lokasi sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga terdampak kebakaran RT 33 Kelurahan Melayu, Tenggarong, Kamis (8/10/2026). (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM - Data warga terdampak kebakaran RT 33 Kelurahan Melayu, Tenggarong, kembali diperbarui menjadi 75 kepala keluarga dengan total 224 jiwa. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara kini menyiapkan penanganan mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari hingga penataan kawasan dalam jangka menengah dan panjang.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menyampaikan langkah tersebut saat meninjau lokasi kebakaran, posko bantuan, dan dapur umum di kawasan Jalan AM Alimuddin, Kamis (8/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Aulia juga menyerahkan bantuan kepada warga terdampak.

Data 75 KK atau 224 jiwa merupakan pembaruan dari pendataan sebelumnya. Sehari sebelumnya, pemerintah masih mencatat sekitar 72 KK atau 215 jiwa terdampak. Perubahan terjadi seiring pendataan penghuni rumah sewaan dan warga lainnya di kawasan kebakaran.

Lurah Melayu Muhammad Hafiz mengatakan kebutuhan dasar warga menjadi salah satu prioritas dalam masa pemulihan.

“Yang paling penting itu keberlangsungan sehari-harinya bisa dipulihkan untuk aktivitas sehari-hari. Apalagi yang berkaitan dengan bahan pokok makanan, pakaian, alat-alat mandi, alat-alat underwear,” ujarnya.

Kelurahan juga mengoordinasikan kebutuhan administrasi warga dengan perangkat daerah terkait.

Menurut Hafiz, terdapat kebutuhan pengurusan kembali dokumen kependudukan seperti KTP dan Kartu Keluarga yang terdampak kebakaran. Koordinasi juga dilakukan dengan sektor pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pelajar.

“Jadi kami lagi memikirkan bagaimana supaya poskonya bisa satu pintu,” jelasnya.

Konsep pelayanan terpadu tersebut diarahkan agar pendataan dan penanganan kebutuhan warga tidak tersebar di banyak titik. Laporan dari kegiatan yang sama juga menyebut koordinasi dengan Disdukcapil dan sektor pendidikan untuk dokumen serta kebutuhan warga terdampak.

Aktivitas Warga Jadi Prioritas Jangka Pendek

Aulia mengatakan penanganan jangka pendek difokuskan agar warga tetap dapat menjalankan kehidupan sehari-hari setelah kehilangan rumah maupun barang akibat kebakaran.

“Jangka pendeknya adalah kita memastikan bahwa proses aktivitas sehari-hari warga masyarakat kita itu tidak terganggu,” kata Aulia.

Kebutuhan tersebut tidak hanya menyangkut pangan dan sandang.

Anak-anak yang masih bersekolah, misalnya, harus memperoleh kembali perlengkapan sekolah. Warga yang bekerja juga perlu mendapatkan dukungan terhadap perlengkapan yang dibutuhkan untuk kembali beraktivitas.

“Bagi yang bersekolah, perlengkapan sekolahnya terpenuhi. Bagi yang bekerja, perlengkapan dan kebutuhan pekerjaannya juga terpenuhi, sehingga kegiatan sehari-harinya tidak terganggu,” ujarnya.

Aulia mengatakan Plt Camat Tenggarong dan Lurah Melayu telah diminta memastikan kebutuhan tersebut ditangani selama proses pemulihan berlangsung.

Selain bantuan pemerintah, berbagai elemen masyarakat dan lembaga juga terlibat dalam pemenuhan kebutuhan warga. Pemkab turut berkoordinasi dengan Baznas untuk memenuhi perlengkapan memasak yang dibutuhkan warga setelah bantuan bahan makanan berdatangan.

Penataan Kawasan Masuk Pemulihan Jangka Panjang

Untuk jangka menengah dan panjang, Pemkab Kukar akan mengevaluasi kondisi kawasan dan melakukan penataan sesuai kewenangan pemerintah daerah.

“Kita berusaha untuk menata daerah ini, sehingga ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan kemudian hari terjadi, kita sudah bisa melakukan penanganan sebagaimana mestinya,” kata Aulia.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah akses menuju kawasan permukiman.

Menurut Aulia, keterbatasan akses membuat kendaraan pemadam mengalami kesulitan mencapai titik kebakaran.

“Kalau seperti kemarin, misalnya jalanan tidak ada, mobil pemadam kebakaran agak susah untuk masuk ke dalam. Sehingga proses penanganannya tidak bisa berjalan optimal,” jelasnya.

Aulia mengatakan dirinya menerima penjelasan dari Damkarmatan Kukar bahwa proses pemadaman pada kondisi tertentu biasanya dapat dilakukan dalam waktu lebih singkat. Pada kebakaran RT 33, penanganan berlangsung sekitar dua jam karena kondisi yang lebih kompleks.

“Tadi juga kami disampaikan oleh Kepala Damkar, mereka pada umumnya bisa memadamkan api kurang dari 30 menit. Nah, kemarin itu sampai dua jam baru bisa diselesaikan pemadamannya,” katanya.

Selain persoalan akses, ketersediaan air turut masuk dalam evaluasi pemerintah. Pemkab mulai membahas penguatan sumber air, termasuk kemungkinan penyediaan hidran di kawasan permukiman yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Dengan pembaruan data menjadi 75 KK atau 224 jiwa, penanganan pascakebakaran kini bergerak dari pemenuhan kebutuhan darurat menuju pemulihan aktivitas warga dan evaluasi penataan kawasan. (rry/bby/adv)

Iklan sisikota.com

Tags:

aulia rahman basri

Bupati Kukar

bupati kutai kartanegara

kebakaran tenggarong