105 Km Jalur Sotek–Bongan Terbuka, Proyek Rp1 Triliun Dilanjutkan 2026

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Rombongan kendaraan melintasi jalur tanah di ruas Sotek–Bongan yang baru dibuka kembali setelah bertahun-tahun tertutup hutan. (Dok Pemprov Kaltim)


Samarinda, SISIKOTA.COM - Sisa embun pagi masih menempel di dedaunan ketika rombongan alat berat bergerak pelan menembus jalur Sotek. Suara rantai besi berpadu dengan dentuman mesin, memecah sunyi di antara batang pohon yang baru saja tumbang. Selama bertahun-tahun, kawasan ini nyaris tak tersentuh, ditelan kembali oleh hutan yang menutup akses ke Bongan, Kutai Barat. Kini, jalur itu kembali terbuka—meski belum sepenuhnya siap dilalui.

Jalan Sotek–Bongan terbentang sepanjang 105 kilometer, menghubungkan empat kabupaten sekaligus: Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara (Kukar), Paser, dan Kutai Barat (Kubar). Sejak lama, ruas ini disebut-sebut sebagai salah satu jalur paling potensial untuk memperpendek akses menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Setelah bertahun-tahun terbengkalai, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur akhirnya berhasil membuka kembali sebagian besar ruas tersebut.

Gubernur Kalimantan Timur, Dr. H. Rudy Mas’ud, hadir langsung di Km 69 jalur itu. Ia berdiri di tengah hamparan tanah yang baru diratakan alat berat. “Alhamdulillah, hari ini kita berhasil menembusi jalur Sotek–Bongan. Kalau nanti sudah diperbaiki, waktu tempuhnya hanya sekitar 1,5 jam,” katanya sambil menunjuk arah barat, ke wilayah Kutai Barat.

Jalur ini, kata Rudy, bukan hanya untuk memperpendek jarak antardaerah. “Sotek–Bongan diarahkan sebagai akses wilayah barat Kaltim ke Ibu Kota Nusantara,” ujarnya. Menurutnya, jalur darat ini akan memudahkan distribusi logistik, bahan bakar, dan penumpang dari kawasan barat menuju IKN tanpa harus memutar jauh lewat Samarinda dan Balikpapan.

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kaltim mencatat nilai pembangunan jalan ini diperkirakan lebih dari Rp1 triliun. Kepala Dinas PUPR Kaltim, A.M. Fitra Firnanda, menjelaskan bahwa pembangunan fisik baru dijadwalkan pada 2026. Dari Sotek hingga STA-53, jalan sudah terbuka dengan agregat.

Dengan ruas yang tersambung, rute Kutai Barat menuju IKN yang selama ini mencapai 500 kilometer akan berkurang drastis. Melalui jalur baru ini, jaraknya hanya sekitar 100 kilometer lebih sedikit. “Artinya kita bisa menghemat waktu dan biaya sekitar 80 persen,” ujar Gubernur.

Efisiensi itu diharapkan berdampak besar pada ongkos logistik, yang selama ini menjadi beban utama transportasi di wilayah pedalaman Kalimantan. Selain mempercepat pergerakan barang dan orang, jalur ini juga memperkuat konektivitas antarprovinsi—menghubungkan Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara, serta membuka kemungkinan koneksi ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Meski demikian, sebagian besar ruas masih berupa tanah dan agregat yang mudah rusak saat musim hujan. Beberapa segmen belum memiliki drainase permanen, dan jalur komunikasi di kawasan pedalaman masih terbatas. Pekerjaan lanjutan akan difokuskan pada penimbunan, pengerasan, dan peningkatan struktur jalan sebelum aspal permanen dipasang.

Di lokasi pembukaan jalur, sisa batang pohon dan akar besar masih berserakan di tepi jalan. Petugas menandai titik-titik rawan longsor dan genangan air. Jalur Sotek–Bongan kini bisa dilalui kendaraan roda empat, namun hanya saat cuaca kering. Saat hujan deras, truk pengangkut bahan bangunan kerap terjebak di lintasan berlumpur.

Pengerjaan jalan ini diproyeksikan berlanjut hingga seluruh ruas benar-benar terkoneksi. Saat ini, pembukaan lahan dan perataan tanah menjadi prioritas utama sebelum tahap pembangunan fisik dimulai pada 2026. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Gubernur Kaltim