Kategory
Info Daerah,
08-09-2025 10:21:06
Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, memberikan keterangan pers terkait peran 30 lembaga non-formal dalam penyerapan lulusan dan pembangunan pendidikan berkelanjutan di Loa Kulu, Senin (8/9/2025). (Kontributor Sisikota.com)
Loa Kulu, SISIKOTA.COM - Di tengah kawasan yang identik dengan tambang dan perkebunan, Desa Loa Kulu justru menegaskan diri sebagai pusat transformasi pendidikan non-formal di Kutai Kartanegara (Kukar). Senin (8/9/2025), agenda penyerahan ijazah Program Pendidikan Kesetaraan di PKBM Putri Karang Melenu menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari dapur, sawah, dan pekarangan rumah.
Saat ini Kukar memiliki 30 lembaga pendidikan non-formal, terdiri dari 19 PKBM dan 11 SKB. Keberadaan mereka bukan sekadar membagikan ijazah, melainkan menjadi jembatan nyata antara pendidikan formal dan kebutuhan hidup masyarakat. Sejak 2019, program ini telah melahirkan hampir seribu lulusan dari Paket A, B, dan C.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pujianto, menegaskan bahwa 30 lembaga tersebut adalah garda depan yang menyerap kebutuhan literasi, keterampilan, hingga hak akses pendidikan bagi warga yang sebelumnya terlewat dari jalur sekolah formal. “Kami tidak hanya menyerahkan ijazah. Kami sedang menyelamatkan masa depan. Dari sekolah ke kehidupan, dari paket ke pekerjaan, dari kesedihan ke kepercayaan diri,” ujarnya.
Kemitraan dengan PT Multi Harapan Utama (MHU) memperkuat langkah ini. Perusahaan batu bara tersebut tidak hanya hadir sebagai pendana, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam membangun jaringan lokal. Sebagian besar lulusan PKBM dan SKB kini bekerja di sektor pendukung operasional MHU, mulai dari administrasi, konsultasi lingkungan, pelatihan kewirausahaan, hingga menjadi tutor keterampilan digital di desa.
Pujianto menambahkan bahwa dampak paling nyata adalah penyerapan kerja. “Kami tidak ingin pendidikan non-formal jadi jalan pintas. Kami ingin itu jadi jembatan. Dan jembatan ini dibangun dari 30 tangan yang percaya bahwa setiap orang layak memperoleh pendidikan,” katanya. Data menunjukkan, 30 persen lulusan PKBM telah diserap langsung oleh MHU dan mitra lokal, membentuk rantai ekonomi inklusif yang berkelanjutan.
Keberhasilan Desa Loa Kulu menggambarkan pola kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta yang efektif. Tiga puluh lembaga non-formal di Kukar kini bukan sekadar program pendidikan, melainkan bagian dari sistem hidup yang membuka jalan bagi kemandirian masyarakat. (nur/adv)
Tags:
Disdikbud Kukar
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu