79 Tahun Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Jejak Perlawanan Rakyat Kaltim Kembali Dikenang

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara Sunggono mengikuti prosesi Renungan Suci pada peringatan ke-79 Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga di Taman Makam Pahlawan Wadah Batuah, Kecamatan Sangasanga, Selasa (27/1/2026) dini hari. (Istimewa)


Sangasanga, SISIKOTA.COM - Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga kembali dikenang pada peringatan ke-79 tahun, Selasa (27/1/2026) dini hari, melalui Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan (TMP) Wadah Batuah, Kelurahan Jawa, Kecamatan Sangasanga. Peringatan ini menegaskan kembali posisi Sangasanga sebagai salah satu titik penting sejarah perlawanan rakyat di Kalimantan Timur pasca-Proklamasi Kemerdekaan.

Tepat pukul 00.00 Wita, suasana TMP Wadah Batuah larut dalam keheningan yang khidmat. Cahaya lampu temaram dan derap langkah pelan para peserta memecah sunyi di antara nisan para pejuang yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, hadir mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi merah, berdiri sejajar dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Turut hadir Komandan Kodim 0906/Kutai Kartanegara Letkol Arm Benny Budiman, S.A.P., Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, Kapolsek Sanga-Sanga AKP Muhamad Zulhijah, Camat Sanga-Sanga M. Dachriansyah, S.Sos., M.Si., serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah. Unsur TNI dan Polri mengikuti renungan dengan pakaian dinas upacara.

TMP Wadah Batuah bukan sekadar taman makam. Di tempat ini dimakamkan satu anggota angkatan bersenjata dan 74 pejuang rakyat yang gugur dalam Peristiwa Merah Putih Sangasanga. Nama-nama yang terukir di nisan menjadi pengingat akan pengorbanan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan republik di wilayah ini.

Secara historis, Sangasanga memang memiliki posisi strategis. Berjarak sekitar 59,4 kilometer dari Tenggarong, kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi tertua di Indonesia sejak beroperasinya sumur Louise pada 1897. Nilai ekonomis tersebut menjadikan Sangasanga wilayah yang diperebutkan, termasuk pada masa kolonial.

Pasca-Proklamasi 1945, Sangasanga kembali diduduki tentara NICA. Kondisi itu memicu perlawanan rakyat yang menolak kembalinya penjajahan. Melalui rapat-rapat rahasia dan perencanaan matang, para pejuang menyusun strategi, termasuk merebut persenjataan milik musuh.

Puncak perlawanan terjadi pada 26 Januari 1947. Dengan memanfaatkan keramaian kesenian daerah sebagai pengalihan perhatian, serangan terkoordinasi dilancarkan sejak pukul 03.00 Wita. Enam jam kemudian, tepat pukul 09.00 Wita, Kota Sangasanga berhasil dikuasai. Bendera Belanda diturunkan oleh La Hasan, lalu dikibarkan kembali Merah Putih setelah bagian birunya disobek.

Dalam renungan suci tersebut, Sunggono menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap amanah perjuangan para pahlawan.

“Kita patut bersyukur bahwa kegiatan ini bisa berjalan dengan baik dan kembali setiap tahun kita memperingatinya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab menjaga hasil perjuangan tersebut.

“Sebagai penerus perjuangan bangsa ini, kita tetap berkomitmen untuk melaksanakan dan menerima amanah dari para pejuang kita,” kata Sunggono.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam rangkaian kegiatan peringatan, terutama melalui napak tilas, menjadi simbol penting kesinambungan nilai sejarah.

“Mereka mengulang kembali jalan yang pernah dilalui oleh para pahlawan ketika memperebutkan dan mempertahankan Sangasanga ini di masa lalu,” tuturnya.

Renungan suci ditutup dengan doa bersama. Di bawah langit Sangasanga yang sunyi, doa-doa dipanjatkan sebagai pengikat ingatan kolektif bahwa Peristiwa Merah Putih Sangasanga bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian dari identitas dan kesadaran bersama yang terus dijaga lintas generasi. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

peristiwa merah putih sangasanga

sangasanga