85 SMP di Kukar Mulai Tanamkan Pendidikan Karakter Lewat Kesadaran Ekologi

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Plt Kabid SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh. (Kontributor Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM - Menjaga kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga pembiasaan sejak dini. Hal ini ditegaskan Plt Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Emy Rosana Saleh, yang menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis kesadaran ekologi sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar.

Menurut Emy, pendidikan karakter tidak bisa dibatasi hanya pada materi di ruang kelas. Ia menilai perlu adanya regulasi pendukung, pengawasan, dan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, instansi terkait, guru, hingga masyarakat sekolah secara menyeluruh. “Dukungan penuh kami berikan agar penguatan pendidikan karakter benar-benar berjalan,” ujarnya, Sabtu (13/9/2025).

Salah satu implementasi konkret yang saat ini diterapkan adalah jurnal kebiasaan baik, sebuah program yang mendorong siswa untuk konsisten dalam menjaga kebersihan, termasuk membuang sampah pada tempatnya. Program ini tidak sekadar mengajarkan teori, tetapi juga membangun rutinitas sehari-hari yang diharapkan menumbuhkan kesadaran ekologis jangka panjang.

Kesadaran lingkungan, lanjut Emy, sudah mulai dikenalkan sejak hari pertama siswa memasuki sekolah melalui masa orientasi. Guru diberikan peran strategis untuk mendampingi sekaligus menegakkan aturan. “Guru bahkan ikut dilibatkan dengan aturan tegas yang melarang siswa membuang sampah sembarangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan model pengelolaan sampah sesuai karakteristik dan kreativitas masing-masing. Ada sekolah yang membuat bank sampah, ada pula yang menekankan pada pemilahan organik dan anorganik sejak dini. “Setiap sekolah punya cara masing-masing dalam mengelola sampah, sesuai karakter dan kreativitasnya,” tambahnya.

Selain itu, Disdikbud Kukar juga mendorong sekolah untuk memanfaatkan momen kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana penguatan pendidikan karakter. Misalnya melalui pramuka, kegiatan peduli lingkungan, hingga lomba kebersihan kelas yang dapat memicu semangat kompetitif positif di kalangan siswa.

Emy berharap kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya tidak berhenti sebatas aturan, tetapi berkembang menjadi budaya sekolah. Dengan begitu, nilai kepedulian terhadap lingkungan dapat tertanam kuat pada diri siswa. “Harapannya, budaya ini melahirkan generasi yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan siap menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. (rb/adv)

Iklan sisikota.com

Tags:

Disdikbud Kukar