Kategory
Budaya,
21-10-2025 16:20:42
Museum Mulawarman di Tenggarong menjadi lokasi utama penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Daerah dan Anugerah Kebudayaan Kutai Kartanegara 2025 pada 21–23 Oktober mendatang. (Istimewa)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Dari kejauhan, bangunan putih berarsitektur kolonial itu berdiri tenang di tepi Sungai Mahakam. Patung Lembuswana di depannya tampak megah, seolah menjaga pintu masuk menuju ingatan panjang peradaban Kutai Kartanegara. Di dalamnya, Museum Mulawarman bersiap menjadi pusat perayaan budaya terbesar tahun ini: Pekan Kebudayaan Daerah dan Anugerah Kebudayaan Kutai Kartanegara 2025.
Untuk pertama kalinya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara menggelar ajang penghargaan bagi para penjaga warisan budaya. Tema yang diangkat sederhana, tapi sarat makna: “Memajukan Budaya Daerah, Mengukuhkan Identitas Bangsa.”
“Anugerah Kebudayaan ini merupakan kegiatan perdana kami,” ujar Kepala Disdikbud Kukar Thauhid Afrilian Noor. Ia berbicara dengan nada mantap, seolah menandai babak baru dalam cara daerah ini menghargai akar budayanya.
Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Dasarnya kuat, bersandar pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021, dan Peraturan Daerah Kutai Kartanegara Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pemajuan dan Identitas Budaya Daerah. “Semua prosesnya kami laksanakan dengan prinsip transparan, akuntabel, dan profesional,” tambah Thauhid.
Anugerah ini akan terbagi dalam lima kategori: Maestro Seni, Maestro Tradisi, Pelestari, Pelopor atau Pembaru, serta Komunitas atau Lembaga Budaya. Setiap kategori menggambarkan lapisan peran masyarakat dalam menjaga kebudayaan: dari mereka yang mencipta, merawat, hingga membangun jembatan antara tradisi dan masa kini.
Untuk memastikan objektivitas, proses penilaian diserahkan sepenuhnya kepada tim independen. “Kami ingin penghargaan ini benar-benar menjadi ruang apresiasi bagi pelaku budaya, bukan ajang formalitas,” ujar Thauhid.
Selain ajang penghargaan, kegiatan ini juga dirangkai dengan Pekan Kebudayaan Daerah 2025 yang digelar di Museum Mulawarman pada 21–23 Oktober mendatang. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis bagi pengunjung.
Ruang pamer di dalam museum akan dipenuhi beragam warisan budaya: tradisi lisan, manuskrip kuno, cagar budaya, permainan rakyat, hingga teknologi tradisional yang pernah menopang kehidupan masyarakat Kutai. Semua disusun bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk diingat kembali—bahwa kebudayaan bukan peninggalan, melainkan denyut kehidupan yang terus berlanjut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat wibawa daerah sekaligus mengukuhkan identitas bangsa,” tutur Thauhid.
Menjelang Oktober, halaman museum yang biasanya sunyi mulai disiapkan untuk menampung panggung, layar, dan berbagai instalasi pameran. Tenggarong bersiap menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan—di mana warisan leluhur kembali berbicara melalui suara generasi hari ini. (bby)
Tags:
Budaya
Tenggarong
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu