Api Gambut Muara Kaman Bisa Menyala Lagi, Empat Posko Disiagakan

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Camat Muara Kaman Nadi Baswan menjelaskan penanganan kebakaran lahan gambut dan pembentukan empat posko karhutla di wilayahnya. (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Api di lahan gambut Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dapat kembali muncul meski kobaran di permukaan terlihat sudah padam. Pemerintah kecamatan menyiagakan empat posko untuk mempercepat penanganan karhutla sebelum api meluas menuju kampung atau permukiman warga.

Per Kamis (24/9/2026), Camat Muara Kaman Nadi Baswan menyebut titik api masih ditemukan di sejumlah lokasi. Tim di lapangan masih melakukan pemadaman di kawasan Bukit Jering, Muara Siran, Muhuran, Sedulang, dan Rantau Hempang.

Menurut Nadi, 20 desa di Muara Kaman dibagi ke dalam empat wilayah penanganan. Pembagian tersebut menyesuaikan jalur sungai dan kondisi geografis agar petugas dapat bergerak lebih cepat ketika menerima laporan kebakaran.

“Di Muara Kaman ada 20 desa, kami bagi menjadi empat posko. Memang kalau menghadapi lahan gambut, penanganannya tidak mudah, apalagi lokasinya dekat dengan sungai dan kedalaman gambut cukup dalam,” ujar Nadi saat ditemui di Kedaton Kutai Kartanegara.

Ia menjelaskan, padamnya api di permukaan belum memastikan seluruh bagian gambut sudah aman. Bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali memunculkan api apabila proses pemadaman tidak menjangkau lapisan tersebut.

“Kalau lahan gambut, api yang terlihat di atas belum tentu benar-benar padam. Di bawahnya masih bisa menyala. Kalau tidak digali sampai ke bagian bawah, api tidak akan benar-benar mati,” jelasnya.

Kondisi tersebut, menurut Nadi, sempat terjadi di Bukit Jering. Api yang sebelumnya telah dipadamkan kembali muncul akibat kondisi angin. Situasi serupa juga ditemukan di Muara Siran dan Muhuran.

Titik kebakaran juga tersebar di beberapa lokasi. Nadi menyebut terdapat sekitar tujuh titik di Sedulang. Sementara di Rantau Hempang ditemukan satu titik besar serta sejumlah titik yang lebih kecil.

“Api yang terlihat bukan hanya satu titik karena di bawah permukaan masih ada bara api yang menyebar,” ungkapnya.

Empat posko karhutla ditempatkan berdasarkan pembagian wilayah sungai. Posko sungai besar berada di Muara Siran, sedangkan posko sungai kecil ditempatkan di Tunjungan. Posko wilayah atas berada di Bunga Jadi dan wilayah bawah di Muara Kaman Ilir.

“Jadi sebelum kondisi berkembang lebih besar, penanganan dilakukan terlebih dahulu dari posko-posko tersebut, kemudian kami memberikan bantuan sesuai kebutuhan,” jelas Nadi.

Mengenai luas lahan terbakar, Nadi memperkirakan kebakaran di Bukit Jering telah mencakup lebih dari 100 hektare. Ia juga memperkirakan total kebakaran di seluruh Muara Kaman dapat mencapai ribuan hektare.

Namun, angka tersebut belum merupakan hasil pengukuran pasti. Nadi mengakui pendataan sulit dilakukan karena lokasi kebakaran tersebar di kawasan gambut yang luas.

“Kalau total luasan lahan yang terbakar di Muara Kaman, kalau dihitung secara keseluruhan bisa mencapai ribuan hektare. Namun, untuk menghitung secara pasti memang tidak mudah karena luasnya lahan gambut dan titik kebakarannya tersebar,” ujarnya.

Menurut Nadi, penanganan karhutla di sejumlah titik telah berlangsung hampir tiga minggu hingga mendekati satu bulan. Pemantauan dan pemadaman masih dilakukan untuk mencegah api kembali muncul dan berkembang menuju kawasan tempat tinggal warga.

“Kalau kondisi ini sudah berlangsung hampir tiga minggu, bahkan sudah mendekati satu bulan,” pungkasnya. (rry/bby/adv)

Iklan sisikota.com

Tags:

karhutla