Kategory
Info Daerah,
24-04-2026 05:28:04
Warga Desa Kedang Ipil bergotong royong menyangrai padi menggunakan tungku kayu bakar dalam rangkaian tradisi Nutuk Beham di Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara. (Bobby/Sisikota.com)
Kota Bangun Darat, SISIKOTA.COM — Aroma padi yang disangrai perlahan memenuhi udara Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara. Di saat bersamaan, suara lesung yang dipukul bertalu-talu terdengar dari Balai Adat desa, menandai dimulainya tradisi Nutuk Beham yang masih dijaga masyarakat hingga kini.
Selama tiga hari tiga malam, warga berkumpul menjalankan ritual syukur panen yang diwariskan turun-temurun. Kehidupan kampung seolah berpusat di satu tempat, tempat masyarakat bekerja bersama dalam irama yang sama.
Warga datang membawa padi hasil panen menggunakan kaleng-kaleng sederhana. Tidak ada undangan resmi, tidak ada batasan peserta. Siapa pun diperbolehkan ikut ambil bagian dalam prosesi adat tersebut.
Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan diawali dengan musyawarah masyarakat untuk menentukan waktu pelaksanaan.
“Untuk kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari tiga malam, diawali dengan kesepakatan bersama masyarakat terkait waktu pelaksanaannya,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Setelah waktu disepakati, padi yang dibawa warga mulai dikumpulkan. Tahap berikutnya adalah perendaman yang dilakukan minimal satu malam agar tekstur padi menjadi lebih lembut saat diolah.
“Perendaman ini penting untuk melembutkan padi, biasanya berlangsung dua sampai tiga malam, tergantung kondisi padinya,” jelas Sartin.
Usai direndam, padi kemudian ditiriskan hingga kering sebelum masuk ke proses sangrai. Pada tahap ini, padi dipanaskan menggunakan teknik khusus dan diberi air secara bertahap agar tidak lengket.
Setelah itu, padi diangkat dan memasuki proses inti, yakni penumbukan bersama menggunakan lesung dan alu. Suara tumbukan yang bersahutan menjadi ciri khas Nutuk Beham sekaligus penanda kuatnya kebersamaan warga.
“Setelah disangrai dan tidak lengket, baru kita angkat dan lanjut ke proses penumbukan bersama menggunakan lesung dan alu,” ungkapnya.
Warga bergantian menumbuk padi sambil saling membantu. Tidak ada pembagian kaku. Setiap orang mengambil peran dengan kesadaran sendiri, sebagaimana tradisi gotong royong yang telah lama hidup di kampung itu.
Setelah hasil tumbukan dibersihkan, rangkaian kegiatan ditutup dengan prosesi sakral sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh.
“Upacara ini adalah ungkapan syukur kami kepada leluhur dan dewa-dewi padi atas rezeki dan hasil panen yang melimpah,” kata Sartin.
Menurutnya, tradisi Nutuk Beham dahulu dilaksanakan bergiliran di kelompok-kelompok perladangan. Namun sejak 2015, pelaksanaannya dipusatkan di kampung agar kebersamaan masyarakat semakin kuat.
Di tengah perubahan zaman dan modernisasi pertanian, Nutuk Beham tetap bertahan sebagai ruang hidup nilai-nilai lama tentang syukur, kerja bersama, dan hubungan manusia dengan alam.
Selama suara lesung masih terdengar di Kedang Ipil, tradisi itu belum selesai ditulis sejarah. (*)
Tags:
desa kedang ipil
desa wisata kedang ipil
kedang ipil
nutuk beham
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu