Kategory
Info Daerah,
01-10-2025 09:44:22
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor. (Kontributor Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Di balik meriahnya Erau, ada jejak hening yang menghubungkan masyarakat dengan pendiri Kota Tenggarong. Usai prosesi penurunan Tiang Ayu, jajaran pemerintah daerah, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Forkopimda, dan sejumlah instansi melaksanakan ziarah ke Makam Aji Imbut serta makam raja-raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada Senin (29/9/2025).
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor, menegaskan ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia menyebut prosesi itu sebagai tapak tilas sejarah berdirinya Kota Tenggarong.
“Ziarah makam tadi adalah ziarah ke pendiri Kota Tenggarong. Sudah dibacakan sejarahnya. Itu kan bentuk tapak tilas, siapa sebenarnya yang mendirikan kota ini,” ungkapnya.
Thauhid menjelaskan, perdebatan tentang asal-usul nama Tenggarong hingga kini belum selesai. Sejumlah catatan budayawan dan sejarawan menghadirkan beragam versi.
“Ada yang mengatakan berasal dari pucuk Tegaron. Tapi ada juga yang mengaitkan dengan istilah Tangga Arung yang dipahami sebagai rumah raja. Padahal, dalam bahasa Bugis, tangga artinya bukan rumah. Di sinilah perlunya kajian mendalam,” jelasnya.
Ia menegaskan, Disdikbud Kukar akan menggandeng budayawan dan sejarawan untuk menyelenggarakan seminar dan kajian akademis. Menurutnya, sejarah tidak boleh diluruskan tanpa dasar ilmiah yang kuat.
“Kami ingin semua dikaji secara akademis, melibatkan para sejarawan. Kalau nanti sudah ada kesepakatan bersama, barulah bisa diluruskan. Sejarah itu sensitif, tidak bisa sembarangan diubah,” tegasnya.
Meski terdapat perbedaan versi tentang penamaan, Thauhid menilai hal itu tidak mengurangi rasa hormat kepada leluhur. Ia menekankan, yang lebih penting adalah visi membawa Tenggarong ke arah pembangunan yang lebih baik.
“Yang jelas siapa pendiri kota ini sudah jelas. Tetapi yang lebih penting adalah mau dibawa ke mana kota ini ke depannya,” ujarnya.
Thauhid menambahkan, Tenggarong memiliki potensi besar sebagai kota wisata dan budaya. Warisan sejarah, adat, dan kekayaan alam menjadi modal untuk memperkuat identitasnya di masa depan.
“Kita ingin ke depan, Tenggarong menjadi kota wisata dan kota budaya. Dulu dikenal sebagai sawah kuning air, sekarang mari kita jadikan sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya,” pungkasnya. (rb/adv)
Tags:
Disdikbud Kukar
thauhid afrilian noor
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu