Kategory
Info Daerah,
21-07-2025 08:15:18
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin berbincang bersama jajaran Forkopimda dan OPD dalam rangkaian BBGRM ke-22 di Kota Bangun, Minggu (20/7/2025). (Bobby Lolowang/Sisikota.com)
Kota Bangun, SISIKOTA.COM – Minggu pagi, 20 Juli 2025, langit Kota Bangun Ulu masih sejuk ketika puluhan warga, aparat desa, dan pejabat daerah mulai berkumpul di dermaga. Mereka datang bukan sekadar untuk mengikuti apel seremonial. Di tempat itu, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin mencanangkan dimulainya Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-22 tingkat kabupaten.
BBGRM bukan hal baru. Program ini bagian dari agenda nasional, tapi di Kukar, ia dihidupkan dengan cara yang berbeda—lebih dekat, lebih nyata. Falsafah lokal "Betulungan Etam Bisa" dijadikan fondasi. Bagi Aulia, itu bukan sekadar semboyan, melainkan cara pikir dan cara kerja pemerintahan. “Kita tidak perlu menunggu momen ini untuk bergotong royong. Ini memang sudah menjadi budaya kita,” ucapnya lantang.
Usai apel, Bupati dan Wabup tak langsung kembali. Mereka meninjau langsung sejumlah lokasi kegiatan gotong royong: dari Desa Kota Bangun Ilir, kawasan Tanjung Sarai di Kedang Murung untuk penanaman pohon, hingga ke Desa Liang dan Desa Loleng untuk ikut pengecatan Masjid Nurul Muqorobbin. Di saat yang sama, seluruh desa dan kelurahan di Kukar juga menjalankan gotong royong serentak sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam rangkaian acara itu, Pemkab Kukar juga memberikan penghargaan kepada desa dan kelurahan pelaksana gotong royong terbaik. Desa Karang Tunggal di Tenggarong Seberang keluar sebagai yang terbaik, diikuti Desa Sumber Sari (Marangkayu) dan Desa Sambangah (Tabang). Di kategori kelurahan, Kelurahan Melayu dan Loa Ipuh dari Tenggarong mendapat apresiasi serupa.
Tak berhenti di situ, Kukar juga menyoroti kinerja keuangan desa. Sepuluh desa menerima penghargaan atas pengelolaan keuangan yang dinilai akuntabel, transparan, partisipatif, dan tertib administrasi. Mereka adalah Desa Perian dan Tanjung Batuq Harapan dari Muara Muntai, Umaq Tukung (Tabang), Mulawarman dan Karang Tunggal (Tenggarong Seberang), Wonosari (Kota Bangun Darat), Melintang (Muara Wis), Tuana Tuha (Kenohan), Loa Kulu Kota (Loa Kulu), serta Tanah Datar (Muara Badak).
Salah satu kebijakan yang disorot dalam acara ini adalah kenaikan Dana BKKD untuk RT dari Rp50 juta menjadi Rp150 juta per tahun. Dana tersebut akan digunakan secara fleksibel, tergantung pada kebutuhan masing-masing wilayah. Bisa untuk operasional RT, kegiatan sosial, program pengentasan kemiskinan, hingga dukungan beasiswa dalam program "Satu KK Satu Sarjana".
Tak kalah penting, dana ini juga mencakup bantuan langsung sebesar Rp1 juta per kepala keluarga bagi warga prasejahtera. Menurut Aulia, bantuan tersebut bertujuan mencegah warga miskin baru dan menjaga ketahanan ekonomi keluarga rentan. “Ini bagian dari tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Akhir arahannya ditutup dengan satu kalimat pendek yang sarat makna: “Sebaiknya kita bekerja.” Bagi Aulia, gotong royong bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jalan hidup yang harus terus menyala dari desa ke desa, dari RT ke RT. (bby/adv)
Tags:
aulia rahman basri
Kukar
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu