BUMDes Sungai Payang Catat Omzet Rp19 Miliar, Contoh Sukses Transformasi Pascatambang di Kukar

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Delegasi IKI–JET dari sembilan negara meninjau kawasan pascatambang PT Multi Harapan Utama (MHU) di Desa Jonggon Jaya, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Selasa (15/10/2025). (Istimewa)


Loa Kulu, SISIKOTA.COM – Di tengah hamparan hijau Desa Jonggon Jaya, lahan bekas tambang batu bara kini berubah wajah. Tempat yang dulu dipenuhi alat berat dan debu kini menumbuhkan kebun, peternakan, dan sentra pelatihan warga. Di sinilah PT Multi Harapan Utama (MHU) menunjukkan bagaimana wilayah pascatambang bisa hidup kembali.

Rabu (15/10), kawasan itu menjadi tujuan kunjungan delegasi International Climate Initiative – Just Energy Transition (IKI–JET). Lebih dari 40 peserta dari sembilan negara—termasuk Chile, Kolombia, Mongolia, dan Afrika Selatan—datang untuk meninjau langsung transformasi yang dijalankan MHU.

Kunjungan ini bagian dari International Capacity Development Program for Coal Regions in Transition yang diinisiasi GIZ. Tujuannya memperkuat pertukaran pengetahuan tentang praktik transisi energi berkeadilan di wilayah penghasil batu bara.

Kepala Teknik Tambang MHU, Aris Subagyo, mengatakan keberhasilan transisi energi tak hanya diukur dari pergantian sumber energi. “Transisi energi yang adil bukan hanya tentang beralih dari fosil ke energi baru, tetapi juga tentang menjaga kehidupan dan memberdayakan masyarakat,” ujarnya.

MHU menempatkan pemberdayaan ekonomi lokal sebagai inti dari proses pascatambang. Melalui program CSR dan Pemberdayaan Masyarakat, perusahaan menyusun kegiatan berdasarkan pemetaan sosial agar sesuai dengan potensi warga.

Hasilnya terlihat nyata di BUMDes Sungai Payang. Badan usaha milik desa itu kini memiliki omzet Rp19 miliar pada 2024 dan membuka lebih dari 200 lapangan kerja. Banyak di antaranya diisi oleh perempuan tunggal dan warga kurang mampu. BUMDes ini juga menjalankan program CSR secara mandiri sejak 2020.

Dari sisi budaya, MHU memberdayakan perempuan adat Dayak Kenyah di Desa Lung Anai. Sebanyak 12 perempuan mengelola produksi olahan cokelat di “Rumah Cokelat Lung Anai”, bekerja sama dengan BUMDes Ba Waqna. Produk cokelat mereka dipasarkan dengan merek sendiri, menjadikannya salah satu contoh pertama di Indonesia di mana masyarakat adat menjadi produsen langsung.

Perwakilan GIZ Indonesia/ASEAN, Ade Cahyat, menyebut program MHU sebagai contoh konkret praktik transisi energi yang melibatkan masyarakat. “Program pascatambang MHU menawarkan pelajaran berharga tentang inisiatif perusahaan tambang dalam memberdayakan masyarakat lokal dan mendiversifikasi ekonomi mereka secara inklusif,” katanya.

Kolaborasi juga dijalankan dengan dunia pendidikan. Melalui Jayatama Miniranch dan demoplot hortikultura, MHU bekerja sama dengan SMK El Fhaluy Al Faizin dan SMKN 3 Tenggarong. Siswa mendapat pengalaman kerja lapangan di bidang pertanian dan peternakan modern.

Bersama Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, MHU dan PT Bramasta Sakti mengembangkan pupuk organik “Biomasta” dari kotoran sapi. Riset menunjukkan pupuk ini meningkatkan kesuburan tanah bekas tambang dan kini digunakan untuk budidaya sereh wangi di area pascatambang.

Kawasan Loa Kulu kini menjadi contoh hidup ekonomi sirkular di lahan bekas tambang. Dari tempat yang pernah ditinggalkan, tumbuh kembali kegiatan ekonomi baru—menghubungkan industri, pendidikan, dan masyarakat. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Loa Kulu