Cabai Rawit Naik Hampir 50% Usai Lebaran, Jadi Biang Inflasi di Kukar

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Pemantauan harga bahan pokok oleh Satgas Saber Pangan di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, Tenggarong, beberapa waktu lalu. (Istimewa)


Tenggarong, SISIKOTA.COM - Harga cabai rawit di Kabupaten Kutai Kartanegara melonjak tajam usai Lebaran 2026. Kenaikannya mencapai 48,41 persen dan menjadi penyumbang terbesar inflasi daerah dengan andil 1,24 persen.

Lonjakan harga komoditas dapur ini terjadi di tengah inflasi tahunan Kukar yang tercatat 2,17 persen. Sementara secara bulanan, inflasi Februari 2026 mencapai 1,96 persen berdasarkan data Indeks Harga Pasar (IHP).

Selain cabai rawit, kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah sebesar 8,39 persen dan daging ayam ras 3,68 persen. Namun, tidak semua komoditas bergerak naik. Telur ayam ras, bawang merah, dan minyak goreng justru mengalami penurunan harga pada periode yang sama.

Kenaikan harga cabai rawit yang mendekati 50 persen ini menjadi faktor paling dominan dalam mendorong inflasi daerah. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat dalam kebutuhan sehari-hari, terutama pasca meningkatnya konsumsi selama Lebaran.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Indra Maulana, menjelaskan lonjakan tersebut dipicu kombinasi antara tingginya permintaan dan terganggunya distribusi.

"Konsumsi masyarakat meningkat tajam, baik untuk kebutuhan pangan maupun kegiatan sosial. Ini yang mendorong harga naik," ujarnya.

Ia menambahkan, mobilitas tinggi selama Lebaran turut memperlambat distribusi barang ke pasar. Kondisi ini menyebabkan pasokan menjadi terbatas di tengah permintaan yang melonjak.

Menurut Indra, tekanan harga juga dipengaruhi oleh struktur ekonomi Kukar yang masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Ketergantungan ini membuat daerah lebih rentan terhadap gangguan distribusi, terutama pada momen tertentu seperti hari besar keagamaan.

Meski demikian, ia menilai kenaikan harga tersebut bukan merupakan sinyal krisis ekonomi.

"Ini bukan gejala struktural. Justru menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat dan ekonomi tetap bergerak," katanya.

Ia menegaskan, tanpa intervensi yang tepat, pola kenaikan harga serupa berpotensi terus berulang setiap momentum besar. Oleh karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu menjaga stabilitas melalui operasi pasar, pemantauan harga, serta memastikan kelancaran distribusi barang agar tekanan inflasi tidak berlangsung terlalu lama. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

harga cabai kukar