Dari Desa yang Diserbu Abrasi, Anak-anak Sepatin Kini Berprestasi hingga Abu Dhabi

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Sejumlah siswi SMP Negeri 6 Anggana berbincang di teras sekolah yang berdiri di atas rawa, Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara. Bobby Lolowang/Sisikota.com)


Anggana, SISIKOTA.COM — Di saat pemerintah berbicara tentang pemerataan pendidikan dan transisi energi, ada sekolah di Delta Mahakam yang baru menikmati listrik penuh pada 2020. Sekolah itu berdiri di atas rawa, di desa yang lebih sering disapa nelayan ketimbang pejabat.

Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, berjarak tiga jam perjalanan sungai dari darat. Wilayahnya lebih banyak air daripada tanah. Dari empat RT, tiga berada di tepi rawa. Di kawasan RT 1, abrasi menggerus tepi sungai tiga hingga lima sentimeter setiap tahun. Tanah perlahan hilang, meninggalkan fondasi kayu yang menggantung di udara.

Masalah di Sepatin tak berhenti di batas daratan. Di sini, masa depan anak-anak juga rapuh. Tak ada SMA. Pilihan paling dekat adalah sekolah di Anggana darat, dua hingga tiga jam perjalanan sungai dengan ongkos sekitar Rp750 ribu sekali jalan. Kadang, buaya muncul di permukaan air ketika kapal kecil lewat. Tak heran, hanya empat dari sepuluh siswa yang melanjutkan pendidikan.

“Banyak yang menikah muda. Anak laki-laki ikut melaut, bantu orang tua,” kata Kepala Desa Sepatin, Ariyanto Djuanda. “Kalau sudah dapat uang sendiri, kadang malah terjebak hal-hal yang tidak sehat.”

Yang ia maksud adalah narkoba. Di beberapa rumah, aktivitas itu berlangsung tanpa sembunyi. “Masalah narkoba di sini luar biasa. Kami bahkan punya kasus anak muda sampai stadium empat,” ujarnya. Ungkapan itu bukan keterangan medis, melainkan cara Ariyanto menggambarkan betapa dalam pengaruhnya di desa itu.

Sekolah menjadi satu-satunya ruang yang masih berusaha bertahan. SMP Negeri 6 Anggana berdiri pada 2012. Sebelum itu, anak-anak hanya punya SMP Terbuka. Lokasinya di pesisir, dengan akses terbatas. Hingga 2019, sekolah ini hanya memiliki tiga piala. Guru yang ditempatkan sering tidak bertahan lama. “Jam tujuh malam sudah masuk kelambu, nyamuk banyak, sepi,” kata Tandarman, kepala sekolahnya. “Banyak guru minta pindah.”

Listrik hanya menyala 12 jam sehari. Pagi hingga sore, mesin diesel menjadi satu-satunya sumber tenaga. Tapi bahan bakar tak selalu tersedia. Aktivitas belajar menyesuaikan waktu terang. “Dulu kalau mau cetak nilai atau belajar malam, ya tunggu listrik hidup,” kata Tandarman.

Situasi mulai berubah ketika program energi bersih diterapkan di kawasan ini. Panel surya dipasang di atap sekolah. Sejak itu, ruang kelas tak lagi gelap. Anak-anak bisa belajar lebih lama, guru bisa mengakses materi digital lewat jaringan internet Starlink yang baru terpasang tahun berikutnya.

“Sekarang sekolah 24 jam terang,” ujar Tandarman. “Kami juga bisa ikut pelatihan daring.”

Dampaknya terasa cepat. Selama 2022–2024, siswa SMPN 6 Anggana mencatat 62 prestasi dari tingkat kecamatan hingga internasional. Salah satunya Ainun, siswi kelas 7, yang karyanya memenangkan lomba menggambar bertema lingkungan Science Without Borders Challenge dan dipamerkan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. “Saya gambar tentang alam dan hewan nasional. Terinspirasi dari lingkungan sekitar,” katanya.

Guru penggerak ikut berperan dalam perubahan itu. Mereka mendampingi proses belajar, melatih guru, dan memperluas metode pembelajaran. “Siswa berprestasi ketika gurunya berprestasi,” kata Naila Faza Kamila, guru penggerak yang ditugaskan di sana.

Kini, SMPN 6 Anggana menjadi sekolah rujukan di pesisir Mahakam. Sekolah ini menyandang predikat Adiwiyata Provinsi 2025, serta menjadi satu-satunya Sekolah Rujukan Google di Kecamatan Anggana.

Namun, meski listrik kini menyala 24 jam, jalan menuju darat masih berbiaya tinggi. SMA terdekat tetap jauh. Sementara abrasi terus menggerus daratan setiap tahun. Di RT 1, fondasi kayu rumah warga makin dekat ke tepi air.

Di tengah perubahan yang datang perlahan, satu hal tetap sama: perjuangan untuk bertahan di pesisir Delta Mahakam belum selesai. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

sepatin

Kecamatan Anggana