Dari Sekitar 20 Petani Kopi Bukit Biru, Baru Satu yang Sudah Panen

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Peserta Coffee Farm Trip Selkop berdiskusi dengan Kelompok Tani Suka Maju mengenai pengolahan dan peningkatan produksi kopi di Bukit Biru, Tenggarong, Kamis (20/8/2026). (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Sekitar 20 warga di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, mulai membudidayakan kopi. Namun, sejauh ini baru satu petani yang telah memasuki masa panen, sedangkan lainnya masih berada pada tahap awal pengembangan tanaman.

Petani tersebut adalah Suparno. Ia telah membudidayakan kopi jenis robusta selama tiga tahun dan mengaku menghasilkan sekitar 50–60 kilogram kopi dalam satu kali panen setiap bulan.

“Sementara ini ada sekitar 20 orang yang bertani kopi di Bukit Biru, tetapi yang sudah panen baru saya. Teman-teman yang lain masih baru mulai,” kata Suparno dalam agenda Coffee Farm Trip yang digelar Selkop bersama Kelompok Tani Suka Maju Bukit Biru, Kamis (20/8/2026).

“Kalau satu bulan, hasilnya sekitar 50–60 kilogram sekali panen,” lanjutnya.

Melihat Peluang Pasar Tenggarong

Menurut Suparno, kebutuhan kopi di Tenggarong belum seluruhnya dipenuhi petani lokal. Sebagian pasokan masih didatangkan dari luar Kalimantan Timur, termasuk Pulau Jawa.

Kondisi tersebut dinilainya menjadi peluang bagi petani Bukit Biru untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar setempat.

“Pasar Tenggarong masih kekurangan sehingga mengambil kopi dari Jawa. Padahal di Jawa juga ada kebutuhan sehingga pasokannya terbagi,” ujarnya.

Klaim mengenai kekurangan pasokan dan masuknya kopi dari Jawa tersebut merupakan keterangan Suparno sebagai petani. Ia berharap peningkatan produksi di Bukit Biru dapat diikuti kepastian pasar dan harga yang stabil.

Hasil panennya selama ini dijual kepada pengepul atau melalui pasar. Penjualan dilakukan sekitar satu hingga dua bulan sekali dengan menyesuaikan permintaan dan ketersediaan kopi.

“Kalau di pasar masih banyak, kami menunggu. Kalau kurang, kami keluarkan. Yang menjadi kendala kami adalah bagaimana harga tetap stabil,” katanya.

Suparno mengatakan pemasaran hasil panen sejauh ini masih berjalan cukup baik. Kendala yang lebih dirasakan petani justru kondisi cuaca, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Keresahan kami kalau musim kemarau. Kendalanya cuma itu. Untuk pemasaran sementara ini masih cukup bagus,” tuturnya.

Meski demikian, keberadaan mitra yang dapat menyerap hasil panen tetap dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan usaha petani, terlebih ketika tanaman milik petani lainnya mulai memasuki masa produktif.

“Harapannya harga pasar stabil saja. Kita jual enak, ada yang menampung sudah sangat cukup bagi petani,” ujarnya.

Selkop Tawarkan Penyerapan Biji Kopi

Peracik kopi Selkop, Harianto, mengatakan petani dapat berfokus pada produksi biji kopi berkualitas tanpa harus menangani seluruh proses pengolahan dan pemasaran produk jadi.

Menurutnya, pengolahan kopi menjadi bubuk atau minuman membutuhkan kemampuan produksi dan jalur pemasaran yang berbeda. Karena itu, petani perlu menentukan produk utama yang akan dijual.

“Petani itu mindset-nya jualan apa? Jualan biji kopi mentah yang memang menjadi produknya petani, atau mau seperti di warung, jualan bubuk kopi?” kata Harianto.

Selkop, lanjut dia, menawarkan diri sebagai mitra yang akan menyerap biji kopi mentah hasil produksi petani Bukit Biru. Pengolahan dan pemasaran produk kemudian dilakukan sesuai kebutuhan pasar.

“Selkop hadir sebagai partner, mitra, yang nantinya akan menyerap biji-biji kopi mentah dari sini. Selanjutnya Selkop yang akan menjual ke yang lain, entah itu bentuknya menjadi minuman atau menjadi bubuk-bubuk kopi yang siap seduh,” ujarnya.

Penyerapan tersebut diharapkan memberikan jalur pemasaran bagi petani ketika produksi kopi Bukit Biru bertambah. Namun, pengembangan komoditas ini masih membutuhkan peningkatan hasil panen dan kepastian harga agar dapat berjalan berkelanjutan. (rry)

Iklan sisikota.com

Tags:

kopi tenggarong