Kategory
Info Daerah,
31-03-2026 11:47:36
Wakil Bupati Kutai Kartanegara Rendi Solihin meninjau hasil produksi kratom yang telah dikemas di pabrik PT DJP Botanicals Indonesia, Desa Bangun Rejo, Tenggarong Seberang, Minggu (29/3/2026). (Istimewa)
Tenggarong Seberang, SISIKOTA.COM — Dari tanaman liar yang tumbuh di bantaran sungai, kratom di Kutai Kartanegara kini menembus pasar ekspor hingga ratusan ton per bulan. Komoditas ini mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru di tengah penurunan sektor tambang.
Direktur PT DJP Botanicals Indonesia, Haris Wafa, menyebut potensi produksi kratom di Kukar bisa mencapai 200 hingga 300 ton per bulan, meski saat ini sebagian besar masih berasal dari tanaman liar dan belum dibudidayakan secara massal.
“Potensinya besar, tapi tantangannya ada di kualitas dan pola budidaya,” ujarnya saat ditemui di pabrik pengolahan kratom di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Minggu (29/3/2026).
Meski ekspor telah dibuka melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 dan 21 Tahun 2024, penggunaan kratom di dalam negeri hingga kini masih dilarang oleh BPOM sejak 2016, sambil menunggu hasil kajian lanjutan.
Haris menjelaskan, pengembangan industri kratom tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada standar kualitas, proses pascapanen, serta kesiapan fasilitas untuk memenuhi permintaan pasar internasional.
Dalam praktiknya, perusahaan telah memproduksi berbagai varian kratom, mulai dari tepung kasar hingga fine powder, serta mengembangkan produk ekstrak dengan konsentrasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan negara tujuan ekspor.
Sejak memulai ekspor pada 2021, kratom asal Kukar telah menjangkau pasar Amerika Serikat dan Thailand. Perusahaan juga tengah menyiapkan ekspansi ke India dan sejumlah negara di Eropa.
Di sisi lain, Wakil Bupati Kutai Kartanegara Rendi Solihin menilai kratom memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan daerah, terutama sebagai alternatif di tengah menurunnya produksi batu bara dan migas.
“Sekarang aman untuk ekspor. Ini peluang besar bagi daerah dan petani,” ujar Rendi saat meninjau pabrik tersebut.
Sebaran kratom di Kukar banyak ditemukan di wilayah hulu seperti Kota Bangun, Muara Wis, Muara Muntai, Kenohan, hingga Kembang Janggut, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat di bantaran Sungai Mahakam.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini tengah menyiapkan regulasi turunan berupa Peraturan Daerah untuk memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi pembudidaya dan pelaku usaha kratom di daerah. (*)
Tags:
kratom
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu