Kategory
Info Daerah,
23-10-2025 08:57:42
Prasasti Yupa dipamerkan di Museum Nasional Jakarta. (Istimewa)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Dari balik kaca tebal Museum Nasional Jakarta, sebatang batu cokelat kehitaman berdiri tegak. Ukiran aksara Pallawa di permukaannya terlihat samar tapi tegas, seolah masih menyimpan gema abad ke-4. Di depannya, seorang pengunjung berhenti cukup lama, membaca huruf-huruf kuno yang menjadi bukti awal Indonesia pernah menulis sejarahnya sendiri.
Kini, prasasti Yupa dari Muara Kaman, Kutai Kartanegara, kembali menarik perhatian dunia. Dalam forum resmi, Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO menyebut Yupa sebagai catatan sejarah tertua Indonesia—lebih tua dari semua dokumen bangsa yang telah diakui dalam program Memory of the World.
“Yupa dari abad ke-4 Masehi menjadi catatan sejarah yang jauh lebih tua dibanding dokumen Indonesia lain yang sudah diakui UNESCO,” kata Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Prof. Dr. Ismunandar, dalam seminar yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Selasa (22/7/2024).
Pernyataan itu menjadi titik penting dalam perjalanan panjang pengajuan Yupa ke UNESCO. Selama ini, dokumen seperti La Galigo, Babad Diponegoro, hingga Nagarakretagama sudah lebih dulu tercatat sebagai warisan dunia. Namun, Yupa—yang lebih tua berabad-abad—baru kini diajukan sebagai kandidat.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menjelaskan bahwa tujuh prasasti Yupa adalah bukti keberadaan kerajaan tertua di Nusantara. “Nilai arkeologinya sangat tinggi. Tapi belum tercatat dalam Memory of the World. Itu sebabnya kami berupaya memperkuat kolaborasi lintas lembaga,” ujarnya.
Dari tujuh batu yang ditemukan di Muara Kaman, empat di antaranya sudah berhasil dibaca. Sisanya masih dalam proses kajian epigrafi yang dilakukan oleh tim riset BRIN. “Yupa bukan sekadar prasasti tertua, tapi jembatan yang memperlihatkan bagaimana bahasa Indo-Arya beradaptasi dengan bahasa lokal di Nusantara,” ujar Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Irfan Mahmud.
Dukungan juga datang dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutai Kartanegara. Kepala Bidang Sosial dan Kependudukan BRIDA Kukar, Tulus Sutopo, mengatakan bahwa pengembangan situs Muara Kaman masih terkendala efisiensi anggaran, namun tetap menjadi prioritas. “ Pemerintah daerah menyiapkan rencana heritage impact assessment sebagai peta jalan pengembangan kawasan situs Muara Kaman ,” ucapnya.
Dokumen nominasi pengajuan Yupa kini sedang disempurnakan sebelum dikirim ke UNESCO pada November mendatang. Jika diterima, prasasti batu dari masa Mulawarman itu akan menjadi catatan tertua Indonesia yang diakui dunia—mengembalikan suara masa lalu yang sempat terdiam selama 1.500 tahun. (*)
Tags:
prasasti yupa
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu