Di Tengah Kabut Asap, ISPA di Kukar Capai 9.075 Kasus—Naik 145 Persen dari Juni

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufiddah. (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai 9.075 kasus pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 145 persen dibandingkan Juni yang mencatat 3.703 kasus.

Peningkatan terjadi di tengah kabut asap dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kukar. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar menegaskan kabut asap bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan tingginya kasus ISPA.

Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah mengatakan laporan fasilitas kesehatan menunjukkan peningkatan kasus ISPA selama tiga bulan terakhir.

Pada Juni tercatat 3.703 kasus. Jumlahnya meningkat menjadi 7.172 kasus pada Juli dan kembali naik menjadi 9.075 kasus sepanjang 1–31 Agustus 2026.

“Kami melaporkan kepada Pak Sekda dan Pak Bupati bahwa memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan,” kata Ismi saat ditemui di Dinas Kesehatan Kukar, Rabu (2/9/2026).

Data tersebut turut menjadi salah satu pertimbangan penerbitan surat edaran Bupati Kukar mengenai langkah menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, serta kekeringan.

“Kemarin sudah dikeluarkan surat edaran Bupati berdasarkan pengamatan penyakit-penyakit utama ISPA yang terjadi di Kutai Kartanegara,” ujarnya.

Hampir 3.000 Kasus pada Usia Sekolah

Berdasarkan kelompok umur, kasus ISPA paling banyak tercatat pada kelompok usia produktif 18–59 tahun, yakni sekitar 3.028 kasus.

Kelompok usia sekolah 5–18 tahun berada di urutan berikutnya dengan sekitar 2.950 kasus. Sementara pada kelompok balita tercatat lebih dari 1.600 kasus.

“Jadi memang dua kelompok terbesar adalah usia sekolah 5–18 tahun dan usia produktif 18–59 tahun,” ungkap Ismi.

Kasus ISPA ditemukan di seluruh kecamatan di Kukar dengan jumlah berbeda-beda. Berdasarkan data Agustus, lima wilayah dengan laporan kasus tertinggi adalah Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sangasanga, Loa Janan, dan Samboja.

“Kalau kita sebut lima besar pada Agustus, yaitu Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sangasanga, Loa Janan, dan Samboja,” ujarnya.

Kabut Asap Bukan Satu-satunya Faktor

Ismi menjelaskan ISPA secara rutin berada di peringkat teratas dalam daftar 10 penyakit terbanyak di Kukar, termasuk ketika tidak terjadi karhutla.

Menurutnya, tingginya kasus ISPA tidak dapat dikaitkan hanya dengan kabut asap. Paparan polusi lain, termasuk dari kendaraan, juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi.

“ISPA itu kalaupun tidak ada karhutla, memang selalu menjadi peringkat pertama dari 10 penyakit terbesar. Penyebabnya bukan hanya kabut asap, tetapi polusi kendaraan juga menjadi salah satu penyebab terbesar,” katanya.

Kendati demikian, kondisi kabut asap akibat karhutla dinilai menjadi faktor tambahan di tengah peningkatan kasus yang tercatat selama musim kemarau.

Diare dan Gangguan Mata Turut Meningkat

Selain ISPA, Dinkes Kukar mencatat peningkatan kasus diare dan konjungtivitis atau gangguan pada mata.

Kasus diare meningkat dari 728 kasus pada Juni menjadi 937 kasus pada Juli dan 1.021 kasus pada Agustus.

Sementara kasus konjungtivitis tercatat sebanyak 172 kasus pada Juni, meningkat menjadi 212 kasus pada Juli dan mencapai 350 kasus pada Agustus.

“Jadi ISPA, diare, dan konjungtivitis atau penyakit mata meningkat cukup signifikan selama masa intensitas kebakaran hutan dan kekeringan yang semakin terasa,” jelas Ismi.

Menurutnya, peningkatan kasus diare juga perlu diperhatikan di tengah keterbatasan air bersih. Sejumlah puskesmas melaporkan adanya wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air hingga masyarakat harus membeli air atau membuat sumur bor.

“Pada saat kondisi kering, air bersih terbatas. Beberapa daerah kita mendapat laporan dari teman-teman puskesmas yang mengalami kesulitan air, sampai harus membeli air atau bahkan membuat sumur bor,” katanya.

Puskesmas Siapkan Obat

Dinkes Kukar memastikan puskesmas telah menyiapkan obat-obatan untuk melayani masyarakat yang mengalami ISPA.

“Kalau di puskesmas, obat-obatan siap. Artinya, seperti yang saya sebutkan di Loa Ipuh dan Rapak Mahang, semuanya terlayani dan diberikan pengobatan sesuai dengan prosedurnya,” ujar Ismi.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jika harus berada di luar ruangan, warga dianjurkan menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan terhadap saluran pernapasan dan mata.

“Untuk melindungi mata, gunakan kacamata. Jangan lupa menggunakan masker jika berkegiatan di luar ruangan atau di luar rumah agar lebih aman,” katanya.

Dinkes juga mengimbau masyarakat mengurangi kebiasaan merokok, tidak membakar sampah, serta menutup pintu dan jendela ketika asap di luar rumah cukup pekat. Debu di dalam rumah juga perlu dibersihkan untuk mengurangi paparan polusi. (rry/bby)

Iklan sisikota.com

Tags:

Ismi Mufiddah

dinas kesehatan kukar

kabut asap tenggarong