Kategory
Info Daerah,
03-10-2026 23:12:59
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara Ismi Mufiddah. (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara mencatat 25.520 kunjungan pasien diabetes melitus di puskesmas se-Kukar sepanjang Januari hingga September 2026. Kelompok usia 18–59 tahun menjadi kelompok dengan catatan tertinggi, sementara diabetes juga ditemukan pada usia anak dan remaja.
Kepala Dinas Kesehatan Kukar Ismi Mufiddah mengatakan angka tersebut belum mencakup pelayanan pasien diabetes di rumah sakit.
Data 25.520 tersebut merupakan jumlah kunjungan, bukan jumlah individu penderita diabetes. Catatan serupa mengenai jumlah kunjungan dan dominasi kelompok usia 18–59 tahun juga dipublikasikan pada 2 Oktober 2026.
Ismi mengatakan diabetes tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia.
“Sekarang diabetes ini juga terjadi pada usia yang lebih muda. Kalau dulu mungkin identik dengan lansia, sekarang kelompok usia 18–59 tahun justru menjadi kelompok tertinggi, disusul usia di atas 60 tahun,” kata Ismi.
Dinkes Kukar juga mencatat 69 kasus diabetes pada kelompok usia 5–18 tahun.
Kondisi tersebut, menurut Ismi, membuat pencegahan diabetes perlu dilakukan sejak usia muda, termasuk melalui pengaturan pola makan dan minum.
Ia mengingatkan asupan yang memengaruhi kadar glukosa darah tidak hanya berasal dari gula pasir atau minuman manis. Makanan berkarbohidrat seperti nasi juga akan dicerna tubuh menjadi glukosa.
“Jangan berpikir gula itu hanya didapat pada gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan gulanya. Karbohidratnya juga ada kandungan gulanya. Jadi dapat gula itu tidak sekadar dari gula,” ujarnya.
Secara nutrisi, karbohidrat memang menjadi salah satu sumber utama glukosa bagi tubuh. Kementerian Kesehatan membedakan karbohidrat sederhana seperti gula dan minuman manis dengan karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, jagung dan umbi-umbian.
Ismi juga menyoroti konsumsi minuman manis yang mudah ditemukan sehari-hari, mulai dari es teh hingga minuman kekinian.
Menurut dia, masyarakat perlu memperhatikan tambahan pemanis pada minuman maupun makanan yang dikonsumsi.
“Boba, jus pun yang katanya jus sehat karena itu buah, tapi ditambah susu. Nah, itu yang membuat tidak sehat,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat lebih memilih buah dalam bentuk utuh dan membatasi tambahan gula pada minuman.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan konsumsi gula berlebih dari makanan maupun minuman berkaitan dengan peningkatan risiko gula darah tinggi, obesitas, dan diabetes melitus.
Ismi mengatakan pembatasan konsumsi manis tidak harus dilakukan secara mendadak. Jumlah gula dapat dikurangi secara bertahap sesuai kebiasaan masing-masing.
Perhatian terhadap diabetes, lanjut dia, juga diperlukan karena penyakit tersebut dapat menimbulkan komplikasi pada organ lain.
“Kalau kamu kena diabetes melitus, maka bisa terjadi komplikasi ke jantung, komplikasi ke ginjal, komplikasi pada mata. Juga bisa menyebabkan kecacatan,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan mencatat diabetes yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi antara lain penyakit jantung, gangguan ginjal, retinopati, neuropati hingga amputasi.
Menurut Ismi, pilihan makanan sehat saat ini juga belum selalu semudah menemukan makanan tinggi gula, lemak, dan minyak.
“Makanan dan minuman yang sehat pasti harus sekarang. Itu susah kita temui yang jualan. Yang lebih mudah ditemukan yang tinggi gula, tinggi lemak, tinggi minyak,” katanya.
Ia mencontohkan makanan kukusan yang dahulu lebih mudah ditemukan sebagai pilihan sarapan, tetapi kini semakin jarang dijual.
Karena itu, Dinkes Kukar mendorong edukasi pola makan sehat tidak hanya menyasar kelompok lanjut usia, tetapi juga anak, remaja, dan kelompok usia produktif. (rry/bby/adv)
Tags:
Dinkes Kukar
19 jam yang lalu
19 jam yang lalu
22 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu