Kategory
Info Daerah,
27-07-2026 21:29:41
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kutai Kartanegara, Budy Setiawan, memberikan keterangan mengenai perkembangan kasus HIV dan layanan pendampingan di Kukar, Senin, 27 Juli 2026. (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara mencatat tambahan 73 kasus HIV selama Januari hingga Juni 2026. Berdasarkan keterangan dinas, penambahan itu membuat jumlah kumulatif yang tercatat meningkat dari 451 menjadi 524 kasus.
Namun, Dinkes belum memerinci jumlah kasus yang merupakan warga Kukar dan kasus yang tercatat melalui layanan kesehatan di Kukar tetapi berasal dari luar daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar, Budy Setiawan, mengatakan pemisahan data berdasarkan domisili penting karena layanan kesehatan di Kukar juga dapat digunakan masyarakat dari daerah lain.
“Pada 2025 jumlah yang tercatat sebanyak 451 kasus. Hingga Juni 2026 bertambah 73 kasus sehingga totalnya menjadi 524,” kata Budy saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 27 Juli 2026.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai catatan kumulatif berdasarkan penjelasan Budy, bukan jumlah orang yang baru didiagnosis dalam satu tahun. Dinkes belum menyampaikan jumlah ODHIV yang masih menjalani pengobatan, pindah layanan, meninggal, ataupun mengalami putus pengobatan.
Budy menyebut kasus masih banyak ditemukan di wilayah sekitar Tenggarong. Namun, Dinkes belum memublikasikan rincian per kecamatan maupun proporsi penduduk berdasarkan domisili.
Ia mengatakan salah satu hal yang menjadi perhatian ialah ditemukannya kasus pada kelompok usia muda, termasuk anak.
Informasi mengenai identitas, usia spesifik, sekolah, tempat tinggal, dan kondisi keluarga anak tidak dipublikasikan untuk melindungi kepentingan terbaik anak.
Menurut Budy, kasus juga ditemukan pada kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki atau LSL. Dinkes belum menyampaikan jumlah maupun persentase kelompok tersebut dibandingkan seluruh kasus yang tercatat.
LSL merupakan kategori perilaku yang digunakan dalam pemetaan epidemiologi dan tidak dapat otomatis disamakan dengan identitas atau orientasi seksual seseorang.
Dinkes Kukar memperkuat pemeriksaan HIV bagi masyarakat yang berdasarkan penilaian tenaga kesehatan memiliki faktor risiko. Pemeriksaan antara lain dilakukan melalui tes cepat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Hasil tes cepat yang reaktif tidak seharusnya langsung diumumkan sebagai diagnosis positif. Pemeriksaan perlu dilanjutkan sesuai algoritma tes HIV sebelum status seseorang ditetapkan.
“Apabila ditemukan faktor risiko, petugas akan menawarkan pemeriksaan. Setelah hasilnya dipastikan, pasien akan didampingi oleh konselor puskesmas maupun yayasan mitra,” ujar Budy.
Pendampingan mencakup konseling, pengobatan, pemantauan kepatuhan terapi, dan dukungan psikososial. Dinkes juga bekerja sama dengan komunitas serta pendamping sebaya untuk menjangkau kelompok yang membutuhkan layanan.
Budy mengatakan identitas dan status kesehatan pasien dijaga kerahasiaannya. Sejumlah layanan juga dapat diatur pada waktu tertentu agar masyarakat memperoleh pemeriksaan dan konseling dengan lebih nyaman.
Budy menegaskan orang yang didiagnosis HIV dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif apabila memperoleh terapi antiretroviral serta mengonsumsi obat secara teratur.
“HIV memang belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui pengobatan. Obat antiretroviral diberikan secara gratis oleh pemerintah,” katanya.
Terapi yang dijalani secara konsisten dapat menekan jumlah virus dalam darah. Orang dengan HIV yang mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.
Masyarakat yang merasa pernah mengalami paparan atau memiliki faktor risiko dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan menjalani pemeriksaan. Tes menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui status HIV karena infeksi dapat berlangsung tanpa gejala.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat tidak menjauhi atau mendiskriminasi ODHIV. HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari, seperti berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet yang sama, ataupun makan bersama.
Budy berharap deteksi dini, kepatuhan pengobatan, perlindungan kerahasiaan, dan dukungan lingkungan dapat membantu menjaga kualitas hidup ODHIV sekaligus mencegah penularan baru. (rry)
Tags:
Kasus HIV Kukar
Dinkes Kukar
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu