“Duk… duk… dung… dung…”, Bunyi Lesung Tanda Tradisi Ratusan Tahun Masih Hidup di Kukar

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama unsur pemerintah dan tokoh masyarakat mengikuti prosesi Nutuk Beham dengan lesung dan alu saat Festival Budaya di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat. (Bobby/Sisikota.com)


Kota Bangun Darat, SISIKOTA.COM - “Duk… duk… dung… dung…”

Suara alu yang menghantam lesung menggema dari Balai Adat Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara. Belasan warga berdiri berjejer menumbuk padi dalam ritme yang nyaris seperti musik, menandai dimulainya tradisi Nutuk Beham yang masih hidup hingga hari ini.

Di bawah cahaya lampu dan aroma padi sangrai yang memenuhi udara, warga bekerja bergantian tanpa terlihat lelah. Senyum dan canda mengiringi gerakan berulang itu. Bagi masyarakat Kedang Ipil, Nutuk Beham bukan sekadar menumbuk padi, melainkan ritual syukur panen yang diwariskan turun-temurun.

Kepala Adat Kedang Ipil, Murad, mengatakan tradisi tersebut selalu dilaksanakan setelah masa panen selesai sebagai bagian dari rangkaian adat masyarakat.

“Sejak awal, setelah panen hasil ladang selesai, kami melaksanakan adat Nutuk Beham sebagai bentuk rangkaian kegiatan adat,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Persiapan kegiatan dilakukan secara gotong royong sekitar satu pekan sebelum acara dimulai. Warga bersama-sama menyiapkan kayu bakar, panggung, perlengkapan, hingga kebutuhan konsumsi.

“Persiapannya cukup panjang, sekitar satu minggu. Kami mulai dari mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan panggung, hingga berbagai keperluan lainnya,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, hasil panen warga dikumpulkan secara sukarela. Padi kemudian direndam, disangrai, didinginkan, lalu ditumbuk bersama menggunakan lesung dan alu sebelum digunakan dalam prosesi ritual.

Suara tumbukan yang bersahutan menjadi bagian paling khas dari Nutuk Beham. Ritme itu bukan hanya bunyi kerja, tetapi juga lambang kebersamaan warga yang saling mengambil peran tanpa komando.

Tradisi ini juga mengandung nilai spiritual. Masyarakat meyakini hasil panen baru tidak boleh dikonsumsi sebelum ritual syukur dilaksanakan.

“Adat ini merupakan wujud rasa syukur kepada leluhur dan juga kepada roh padi yang kami yakini ada. Sebelum mengonsumsi hasil panen baru, harus dilakukan ritual terlebih dahulu,” jelas Murad.

Puncak kegiatan dilaksanakan dalam prosesi sakral yang dipimpin belian atau pemimpin adat. Dalam tahapan ini, masyarakat menyampaikan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh sepanjang musim panen.

“Puncak kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu dalam bentuk ritual sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang telah diberikan,” tambahnya.

Meski diwariskan lintas generasi, Murad mengakui tradisi tersebut menghadapi tantangan baru. Minat generasi muda untuk mempelajari adat mulai berkurang seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi.

“Adat ini merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, namun saat ini menjadi tantangan karena minat generasi muda mulai berkurang,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat berharap dukungan berbagai pihak agar Nutuk Beham semakin dikenal dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi yang dahulu hanya dilakukan secara internal kini mulai dibuka untuk umum sejak 2011 melalui Festival Nutuk Beham. Sejak itu, kegiatan rutin digelar dan menjadi ruang pertemuan antara budaya, masyarakat, dan generasi muda.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, denting lesung dari Kedang Ipil menjadi pengingat bahwa identitas daerah tidak hanya dibangun dari masa depan, tetapi juga dijaga dari warisan masa lalu. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

desa kedang ipil

nutuk beham