Kategory
Info Daerah,
19-08-2026 17:47:05
Peralatan pemantauan cuaca di lingkungan BMKG Samarinda. Musim kemarau di sejumlah wilayah Kaltim diprediksi berlangsung hingga September–Oktober 2026. (Istimewa/BMKG Samarinda)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – El Niño yang kini berada pada intensitas sangat kuat turut memperkuat kondisi kering di Kalimantan Timur (Kaltim). BMKG memprediksi musim kemarau di sejumlah wilayah dapat berlangsung selama 10–12 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan, hingga September–Oktober 2026.
Petugas klimatologi BMKG Samarinda, Gilang Arya Putra, mengatakan musim kemarau mulai berlangsung sekitar pertengahan Juni. Hingga pekan ketiga Agustus, kemarau telah berjalan sekitar dua bulan.
“Kalau awal kemaraunya itu di sekitar pertengahan bulan Juni, jadi untuk saat ini kurang lebih sudah hampir dua bulan durasi kemaraunya,” ujar Gilang saat diwawancarai melalui telepon, Rabu (19/8/2026).
Waktu berakhirnya musim kemarau dapat berbeda di setiap wilayah. Sebagian daerah diperkirakan mulai memasuki peralihan musim pada September, sedangkan wilayah lainnya pada Oktober.
“Jadi diprediksi kemaraunya berakhir di September sampai Oktober. Di beberapa wilayah ada yang September dan beberapa wilayah ada yang Oktober,” jelasnya.
Menurut Gilang, kondisi kering di Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satu yang paling dominan adalah El Niño, fase hangat dalam sistem iklim global El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yang dapat mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
“Untuk faktor penyebab kekeringannya bervariasi. Cuma untuk wilayah Indonesia sendiri, memang paling besar dipengaruhi oleh fenomena global, yaitu ENSO,” katanya.
Pemutakhiran BMKG pada 13 Agustus 2026 menunjukkan El Niño telah mencapai intensitas sangat kuat. BMKG juga menetapkan peringatan dini kekeringan meteorologis kategori waspada di beberapa kabupaten dan kota di Kaltim.
Gilang mengatakan fase El Niño yang sangat kuat diperkirakan bertahan hingga akhir 2026 sebelum mulai melemah pada awal 2027.
“Untuk El Niño yang sangat kuat ini diprediksi bertahan hingga Desember tahun ini,” ujarnya.
Meski El Niño diperkirakan masih berlanjut pada awal 2027, hal tersebut tidak berarti musim kemarau di Kaltim akan berlangsung sampai tahun depan. Dampak utamanya terhadap kondisi kering di Indonesia terjadi ketika El Niño bertepatan dengan periode musim kemarau.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya di kawasan perkebunan dan lahan yang rentan terbakar. Pemantauan terhadap kemunculan titik panas juga terus dilakukan.
“Kalau dari BMKG sendiri, kami mengimbau agar tetap waspada, khususnya untuk di daerah perkebunan dan lahan,” kata Gilang.
Kewaspadaan juga diperlukan di kawasan permukiman karena lingkungan yang kering dapat meningkatkan kerawanan kebakaran. Masyarakat turut diminta mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih.
Sejauh ini, BMKG Samarinda belum menerima laporan resmi mengenai masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih. Namun, Gilang menjelaskan pemantauan dan penanganan kebutuhan air bersih bukan kewenangan utama BMKG.
“Kalau untuk laporan soal air bersih, kami belum menerima. Mungkin karena kewenangan kami hanya menganalisis musimnya saja,” katanya.
BMKG, lanjut dia, tetap menyampaikan perkembangan musim dan El Niño dalam koordinasi bersama pemerintah daerah serta instansi yang menangani kebencanaan dan penyediaan air bersih. Informasi tersebut menjadi bahan untuk memitigasi dampak kemarau terhadap masyarakat. (rry/bby)
Tags:
el nino
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu