Kategory
Info Daerah,
17-09-2025 11:28:57
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, memberi penjelasan teknis pelaksanaan lomba budaya tradisi Festival Erau 2025 di Tenggarong, Rabu (17/9/2025). (Kontributor Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM - Setelah sempat vakum, seni tradisional Kutai kembali diberi panggung melalui lomba budaya dalam rangkaian Festival Erau 2025. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan tahun ini lomba digelar dengan format asli, tanpa sentuhan modernisasi, demi menjaga keaslian warisan budaya daerah.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, saat technical meeting persiapan lomba yang digelar Rabu (17/9/2025). Pertemuan diikuti para peserta serta panitia, membahas detail aturan teknis yang akan diberlakukan.
Menurut Puji, lomba budaya meliputi tarsul, tari Jepen, musik tingkilan, dan lagu Kutai. Dari kategori tersebut, ia menekankan khusus lagu Kutai harus ditampilkan sesuai format asli.
“Kami ingin menghidupkan kembali budaya tradisi yang sempat fakum. Karena sesuai tupoksi kami, yaitu pembinaan dan pelestarian budaya, maka lomba ini harus tetap mempertahankan bentuk aslinya. Pengembangan dengan nuansa modern silakan saja difasilitasi melalui sektor pariwisata, tetapi untuk lomba ini kita kembali ke akar tradisi,” tegasnya.
Lomba bersifat terbuka untuk umum dengan batasan maksimal 20 peserta di setiap kategori. Aturan ini diberlakukan untuk mengendalikan jumlah peserta sekaligus menyesuaikan dengan alokasi waktu.
“Kalau tidak dibatasi, pesertanya bisa luar biasa banyak. Karena itu, kami tetapkan maksimal 20 peserta per kategori agar durasi waktunya terkontrol,” jelas Puji.
Durasi penampilan juga diatur. Untuk cabang tari maupun musik, peserta hanya diberi waktu maksimal lima menit. Ketentuan itu agar setiap penampilan berjalan nyaman, tanpa mengganggu kesempatan peserta lain.
Puji menambahkan, seluruh penampilan wajib menjunjung nilai budaya. Materi yang bernada penghinaan atau menyudutkan tidak diperkenankan.
“Artinya tidak boleh bersifat menghina atau menyudutkan. Karena tujuan lomba ini adalah menjaga kemurnian tradisi,” ujarnya.
Ia menilai lomba ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk membangkitkan kembali seni tradisional Kutai. Melalui Festival Erau, seni dan tradisi lokal bisa lebih dikenal serta diwariskan ke generasi berikutnya.
“Erau ini adalah kesempatan besar untuk mengekspos budaya tradisional kita agar bisa dilihat dan dinikmati masyarakat luas. Maka salah satu caranya adalah dengan mengadakan lomba-lomba budaya tradisi,” tandasnya.
Lomba budaya tradisi akan berlangsung sejak pembukaan Festival Erau pada Minggu hingga penutupan. Disdikbud Kukar optimistis ajang ini mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus wadah regenerasi pelestarian seni tradisional. (rb/adv)
Tags:
Disdikbud Kukar
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu