Kategory
Budaya,
09-07-2026 21:28:29
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, saat diwawancarai terkait Festival Sri Muntai 2026 dan pemilihan tema Congkil Movement. (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Festival Sri Muntai 2026 di Kecamatan Muara Muntai akan mengusung tema Congkil Movement. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara menjadikan festival tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan seni keroncong tingkilan kepada generasi muda.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, mengatakan tema Congkil Movement dipilih karena Congkil telah menjadi bagian dari identitas budaya Kutai yang tumbuh dari kesenian tingkilan.
“Tema Congkil Movement kami angkat karena Congkil merupakan keroncong tingkilan yang dipopulerkan oleh budaya kita. Akhirnya, Congkil itu identik dengan keroncong tingkilan,” ujar Puji saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 9 Juli 2026.
Menurut Puji, Festival Sri Muntai tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi sarana edukasi mengenai sejarah dan perkembangan Congkil sebagai bagian dari warisan budaya Kutai Kartanegara.
“Kami mulai mengangkatnya sebagai isu kebudayaan bahwa kesenian ini perlu dilestarikan dan diangkat. Sejarahnya, siapa penciptanya, siapa inisiatornya, dan asal-usulnya dari tingkilan. Harapannya, generasi muda memahami bahwa Congkil merupakan salah satu kekayaan budaya khas Kutai Kartanegara,” katanya.
Festival Sri Muntai tahun ini melibatkan peserta dari desa-desa di Kecamatan Muara Muntai. Disdikbud Kukar sengaja memfokuskan peserta dari wilayah tersebut untuk menampilkan potensi seni dan budaya lokal masyarakat setempat.
“Peserta yang terlibat berasal dari desa-desa di sekitar Kecamatan Muara Muntai. Untuk saat ini kami memang belum membuka peserta dari wilayah lain,” jelasnya.
Meski digelar di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Puji memastikan Festival Sri Muntai tetap dilaksanakan. Menurutnya, arahan Bupati Kukar adalah agar kegiatan kebudayaan tetap berjalan karena memiliki dampak terhadap aktivitas masyarakat dan ekonomi lokal.
“Memang ada efisiensi anggaran. Tetapi untuk kebudayaan, arahan Pak Bupati adalah agar kegiatan tetap berjalan sehingga masyarakat bergerak dan ekonomi rakyat juga ikut bergerak. Karena itu festival-festival tetap dilaksanakan meskipun dengan penyesuaian,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah bekerja sama dengan event organizer. Disdikbud Kukar memfasilitasi lokasi dan perizinan, sementara pengelolaan stan UMKM diserahkan kepada pihak pelaksana kegiatan.
Puji menjelaskan, konsep Festival Sri Muntai tahun ini tidak banyak berubah dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Namun, pemerintah tetap memberikan apresiasi kepada peserta yang tampil sebagai bagian dari pembinaan terhadap pelaku seni daerah.
Selain pertunjukan seni, festival tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Muara Muntai. Puji menyebut wilayah tersebut memiliki perpaduan budaya Kutai dan Banjar yang tercermin dalam lagu, tarian, nyanyian, dan kesenian tradisional masyarakat.
“Muara Muntai memiliki kekayaan seni lagu, tarian, dan nyanyian. Kami ingin menggali budaya-budaya yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai kesenian dari desa-desa di Muara Muntai akan ditampilkan dalam festival tersebut. Beberapa di antaranya adalah kuda kepang dan kesenian tradisional lain yang berkembang di masyarakat.
Disdikbud Kukar juga tengah menjajaki kemungkinan menghadirkan olahraga tradisional melalui koordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga. Namun, rencana tersebut masih menunggu kepastian karena adanya penyesuaian anggaran.
Puji berharap Festival Sri Muntai tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.
“Kebudayaan adalah kekayaan yang kita miliki dan harus dilestarikan. Generasi muda harus mengetahui bahwa masyarakat yang mencintai budayanya adalah masyarakat yang maju,” katanya.
Melalui festival ini, Disdikbud Kukar juga ingin memperkenalkan UMKM dan kuliner tradisional khas Muara Muntai kepada masyarakat luas. Ke depan, Festival Sri Muntai diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu agenda budaya unggulan di Kutai Kartanegara.
Puji menyebut, pengembangan Festival Sri Muntai masih membutuhkan evaluasi dan penguatan. Namun, pemerintah daerah optimistis festival tersebut dapat mengikuti jejak agenda budaya lain di Kukar yang mulai dikenal lebih luas. (rry)
Tags:
Disdikbud Kukar
sri muntai
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu