Kategory
Info Daerah,
21-07-2026 13:27:02
Orkestra Tingkilan Tepian Mahakam tampil dalam Festival Budaya Sri Muntai di Lapangan Sepak Bola Gadjah Mada, Desa Muara Muntai Ilir, Sabtu malam, 18 Juli 2026. (Harry/Sisikota.com)
Muara Muntai, SISIKOTA.COM – Musik tingkilan, permainan tradisional, tari, dan pantun kembali mendapat panggung dalam Festival Budaya Sri Muntai di Lapangan Sepak Bola Gadjah Mada, Desa Muara Muntai Ilir, Sabtu, 18 Juli 2026.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai pertunjukan tahunan, tetapi menjadi ruang untuk mengenalkan kembali budaya Kutai kepada generasi muda.
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku seni, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Menurut dia, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan warisan budaya yang telah tumbuh di Tanah Kutai.
“Festival Budaya Sri Muntai ini merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk mempertahankan dan melestarikan budaya di Tanah Etam. Kalau lain etam, siapa lagi yang akan melestarikan budaya etam ini,” kata Aulia.
Festival tersebut diisi berbagai penampilan seni dan budaya khas Kutai, termasuk Orkestra Tingkilan Tepian Mahakam. Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin turut menghadiri kegiatan tersebut.
Aulia menyebut sejumlah warisan budaya, seperti tingkilan, begasing, belogo, bebetisan, tari tradisional, dan pantun perlu terus dikenalkan kepada anak-anak dan remaja.
Ia menilai upaya tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui festival. Sejarah dan kebudayaan Kutai juga perlu diperkenalkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah dan keluarga.
“Kepada bapak dan ibu guru, teruslah menceritakan sejarah dan kejayaan Kutai kepada anak-anak didik. Kepada para orang tua, sampaikan juga kisah-kisah kejayaan Kutai kepada anak-anak di rumah,” ujarnya.
Aulia juga mengajak masyarakat menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas dan budaya lokal tanpa menjadikannya sebagai pembatas bagi kelompok lain.
“Etam harus bangga menjadi orang Kutai. Etam jangan minder, jangan merasa lebih rendah dari siapa pun. Ketika sudah berada di Tanah Kutai, etam semuanya adalah orang Kutai,” katanya.
Selain pelestarian budaya, ia meminta masyarakat menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memicu perpecahan.
Menurut Aulia, kerukunan merupakan bagian dari karakter masyarakat Kutai yang perlu dipertahankan di tengah perbedaan latar belakang dan pandangan.
Pemkab Kukar, lanjut dia, berkomitmen mempertahankan Festival Budaya Sri Muntai sebagai agenda tahunan melalui dukungan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar.
Namun, bentuk dan besaran dukungan untuk pelaksanaan pada tahun-tahun berikutnya belum dirinci dalam kegiatan tersebut.
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin mengatakan budaya perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Budaya tidak akan mundur. Sejak zaman nenek moyang kita, budaya itu sudah ada dan terus diwariskan. Tugas kita sekarang adalah bagaimana menjadikan budaya itu semakin maju ke depannya,” ujarnya.
Ia menilai pelestarian kebudayaan juga perlu berjalan bersama peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, budaya tidak hanya tampil dalam acara seremonial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Festival Sri Muntai diharapkan menjadi salah satu ruang pertemuan antara pelaku seni, masyarakat, dan generasi muda untuk menjaga budaya Kutai tetap hidup dan berkembang. (rry)
Tags:
sri muntai
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu