Kategory
Budaya,
06-07-2026 10:24:06
Warga dari berbagai kalangan mencoba permainan tradisional gasing dalam kegiatan Malam Budaya di salah satu kafe di Tenggarong. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkenalkan kembali permainan gasing kepada masyarakat. (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Permainan tradisional gasing kembali dikenalkan kepada masyarakat melalui ruang yang lebih santai. Komunitas gasing bersama Coffee Comunitas menggelar Malam Budaya di Tenggarong, Jumat, 3 Juli 2026, sebagai ruang bermain, diskusi, dan silaturahmi antarkomunitas.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali permainan gasing kepada berbagai kalangan, terutama di tengah kuatnya pengaruh gawai dalam aktivitas anak-anak dan anak muda.
Pegiat permainan tradisional gasing, Anto Sugiwara, mengatakan Malam Budaya merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap Jumat malam. Kegiatan ini mempertemukan sejumlah komunitas gasing sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal permainan tradisional secara langsung.
“Komunitas gasing yang hadir di sini berasal dari berbagai komunitas. Kegiatan ini kami beri nama Malam Budaya, hasil kolaborasi antara Komunitas Gasing dan Caffe Comunitas yang rutin dilaksanakan setiap Jumat malam,” ujar Anto.
Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan diisi dengan talkshow mengenai literasi dan filosofi permainan gasing yang menghadirkan sejumlah narasumber. Sementara pada hari kedua, kegiatan lebih difokuskan pada ekshibisi permainan gasing dan silaturahmi antaranggota komunitas.
“Ini sudah memasuki pelaksanaan hari kedua. Pada hari pertama kami mengadakan talkshow tentang literasi gasing dan filosofi permainan gasing dengan menghadirkan beberapa narasumber. Sedangkan malam ini lebih santai, hanya berupa ekshibisi dan silaturahmi,” katanya.
Anto menegaskan, kegiatan tersebut bukan digelar untuk memperingati hari besar tertentu. Menurutnya, Malam Budaya menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada masyarakat.
Selama ini, komunitas gasing juga aktif bermain di sejumlah ruang publik, seperti Taman Pintar, stadion, Taman Ulin, hingga kawasan pasar.
“Kebetulan pemilik kafe mengajak kami berkolaborasi agar permainan tradisional bisa hadir di ruang-ruang seperti kafe. Jadi tujuannya lebih kepada memperkenalkan permainan gasing kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Anto, minat masyarakat terhadap permainan gasing mulai kembali tumbuh. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya kompetisi yang digelar, baik dalam rangka festival budaya maupun kejuaraan lainnya.
“Pertandingan gasing sebenarnya cukup banyak. Yang paling dikenal tentu saat Erau. Belum lama ini juga ada Kapolda Cup dalam rangka Hari Bhayangkara yang mempertandingkan gasing dan sumpit. Di Lebak Mantan juga ada perlombaan. Artinya, sekarang mulai semakin banyak masyarakat yang kembali melirik permainan tradisional,” jelasnya.
Ia menilai permainan tradisional memiliki manfaat bagi perkembangan anak. Selain menjadi aktivitas rekreatif, permainan gasing juga dapat melatih kemampuan motorik dan membuka ruang interaksi sosial.
“Di tengah era gawai seperti sekarang, permainan tradisional bisa menjadi alternatif bagi orang tua untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget. Permainan gasing dapat melatih motorik anak. Tidak harus langsung menggunakan gasing besar, mulai dari gasing kecil pun sudah bisa menjadi media belajar dan bermain,” katanya.
Anto mengajak masyarakat ikut melestarikan permainan tradisional tanpa harus menunggu penyelenggaraan acara besar. Menurutnya, pelestarian budaya bisa dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat.
“Pelestarian budaya tidak harus menunggu acara besar. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak orang lain untuk ikut bermain,” ujarnya.
Ia mengatakan hampir setiap daerah di Indonesia memiliki permainan gasing dengan ciri khas masing-masing. Di Kalimantan, gasing memiliki kekhasan tersendiri karena banyak menggunakan kayu ulin sebagai bahan utama.
“Kalimantan memiliki keunggulan karena banyak menggunakan kayu ulin sebagai bahan gasing. Itu menjadi salah satu ciri khas yang harus dipertahankan. Semakin banyak masyarakat yang bermain gasing, semakin besar peluang lahirnya atlet-atlet yang bisa berprestasi di tingkat nasional,” tuturnya.
Anto berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar terhadap pelestarian permainan tradisional. Salah satunya dengan memasukkan gasing sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah agar generasi muda semakin mengenal budaya daerah sejak dini. (rry)
Tags:
Olahraga Tradisional
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu