Kategory
Seni,
02-06-2026 17:26:20
Pementasan teater “IBU NEGARA” oleh Lanjong Foundation di Amphitheatre Ladaya, Tenggarong, Senin (1/6/2026). (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Lampu menyorot arena pertunjukan di Amphitheatre Ladaya, Tenggarong. Di atas panggung, para aktor memainkan bahasa kekuasaan yang terdengar akrab: rapi, diplomatis, penuh citra, dan tidak asing di telinga publik.
Penonton tertawa. Namun tawa itu tidak sepenuhnya ringan.
Pada Senin (1/6/2026) malam, pementasan teater berjudul “IBU NEGARA” yang dihadirkan Lanjong Foundation tidak hanya menjadi tontonan. Ia bergerak sebagai cermin. Di dalamnya, kegelisahan masyarakat terhadap realitas sehari-hari dibawa ke atas panggung melalui lakon, tubuh aktor, dialog, dan satire tentang kekuasaan.
Pementasan itu menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa hidup dari tepuk tangan, dirawat oleh ketakutan, dan diperkuat oleh orang-orang yang terbiasa bergerak di balik citra. Bahasa yang terdengar halus di panggung justru terasa dekat dengan percakapan publik tentang kuasa, kebijakan, dan jarak antara pernyataan resmi dengan pengalaman warga.
Bagi Ab Asmarandana, atau Kang Abuy, naskah “IBU NEGARA” lahir dari kegelisahan yang ia rasakan saat melihat perubahan sosial yang berlangsung cepat. Ia menyaksikan berbagai kebijakan pemerintah datang silih berganti, dengan dampak yang turut dirasakan masyarakat.
“Melihat fenomena yang ada, saya merasakan dan mengalami beberapa hal. Yang terbaru adalah bagaimana saya melihat kebijakan-kebijakan pemerintah berlangsung begitu cepat, sehingga perubahan-perubahan juga terjadi sangat cepat,” ujarnya.
Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, kegelisahan itu tidak berhenti sebagai keluhan pribadi. Abuy mengolahnya menjadi bahan kreatif. Ia mulai menyusun kerangka cerita setelah bertanya kepada dirinya sendiri tentang sikap yang perlu diambil seorang seniman ketika berhadapan dengan situasi sosial semacam itu.
Pertanyaan itu menemukan ruang ketika ia bekerja bersama para pegiat teater di Tenggarong. Di sana, Abuy melihat bahwa kegelisahan tersebut tidak hanya ia rasakan sendiri. Ada keresahan serupa yang muncul dari banyak percakapan di sekitar masyarakat.
Dalam proses pencarian materi, Abuy tidak hanya bertumpu pada pemberitaan atau data statistik. Ia memilih turun langsung mendengar suara warga. Dari warung kopi, pelaku usaha, hingga sopir, ia menemukan keluhan yang berulang tentang kondisi yang mereka hadapi sehari-hari.
“Kami mencoba merasakan dampak dari situasi yang ada. Ketika saya ke warung kopi, hampir semua barista dan pemilik usaha mengeluhkan kondisi yang mereka alami,” katanya.
Keluhan yang sama, menurut Abuy, juga ia temukan di berbagai daerah lain. Dari pengalaman itu, muncul pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu poros utama pementasan “IBU NEGARA”.
“Ketika melihat berita, sering kali ada perbedaan antara informasi yang disampaikan dengan apa yang dirasakan masyarakat. Di situlah muncul pertanyaan, kita harus percaya data atau percaya rakyat?” tuturnya.
Pertanyaan itu tidak diletakkan sebagai jawaban tunggal. Sebaliknya, ia menjadi ruang terbuka bagi penonton untuk membaca sendiri jarak antara angka, kebijakan, pemberitaan, dan pengalaman sehari-hari warga.
Di titik itu, “IBU NEGARA” tidak hanya berbicara tentang kekuasaan sebagai sesuatu yang jauh dan formal. Pementasan ini juga menyoroti bagaimana kuasa dapat berkelindan dengan kepentingan ekonomi. Bagi Abuy, informasi dan situasi politik saat ini bergerak sangat cepat, tetapi ada pola yang terus berulang.
“Saya melihat situasi berkembang sangat cepat. Informasi juga berubah begitu cepat. Tetapi ada satu hal yang menurut saya sama, bahwa kekuasaan itu bisa menjadi berbahaya, apalagi ketika berada di tangan penguasa. Karena sekarang penguasa bisa menjadi pengusaha, dan pengusaha bisa menjadi penguasa,” ujarnya.
Kritik itu disampaikan melalui pendekatan panggung yang tidak biasa. Abuy menggunakan strategi dramaturgi yang tengah ia kembangkan dalam dunia akademik, yakni meta teater. Dengan pendekatan itu, pertunjukan tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga membuka kesadaran penonton bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah permainan peran, sekaligus membaca realitas di luar panggung.
Meski tampil dengan pendekatan modern, “IBU NEGARA” tetap berpijak pada akar tradisi lokal. Abuy menyebut bentuk pementasan ini terinspirasi dari Mamanda, seni pertunjukan tradisional yang hidup di Kalimantan.
Bagi Abuy, Mamanda memberi dasar penting bagi cara pementasan ini bergerak. Tradisi itu tidak ditiru secara utuh, tetapi diolah kembali menjadi bentuk yang lebih ringkas dan relevan dengan kondisi hari ini.
“Bisa dibilang ini Mamanda dalam bentuk yang lebih ringkas, tetapi ruhnya tetap ruh tradisi. Karena saya percaya kita memiliki akar budaya yang sangat hebat,” katanya.
Akar tradisi itu kemudian bertemu dengan cara pemeranan yang dekat dengan bahasa politik modern. Dedi Nala Arung, pemeran karakter raja dalam pementasan tersebut, mengatakan bahwa ia membangun tokohnya melalui pengamatan terhadap gestur kekuasaan.
Ia mempelajari cara berjalan, cara berpidato, sikap hormat, tekanan suara, hingga gerak tubuh seorang pemimpin. Karakter raja yang ia mainkan didekatkan dengan figur presiden saat ini.
“Raja ini memang didekatkan dengan tokoh presiden. Saya harus ingat itu semua, saya pelajari dengan mengulang-ulang pidatonya, bagaimana dia bersalaman, bagaimana dia memberi hormat kepada orang, sampai ke cara berjalannya dan apa pun yang dilakukan Pak Prabowo,” ucapnya.
Bagi Dedi, tantangan dalam pementasan ini bukan hanya meniru gestur tokoh. Ia juga harus berpindah dari satu peran ke peran lain dalam waktu cepat, lalu kembali menjadi dirinya sendiri setelah memainkan karakter tersebut.
Pergantian itu menuntut konsentrasi, ketepatan tubuh, dan kemampuan menjaga ritme di atas panggung. Dalam proses latihan, ia mengaku banyak terbantu oleh arahan sutradara.
“Alhamdulillah, Pak Sutradara sangat tepat dalam mengarahkan. Walaupun caranya tidak kasar, kalau menegur pemain itu pesannya sampai. Tapi saya bersyukur. Prinsip saya ketika berlatih akting, yang paling penting itu justru kritiknya. Bagaimana kita mencerna kritik dan memperbaikinya,” ujarnya.
Melalui “IBU NEGARA”, Lanjong Foundation menghadirkan pementasan yang tidak berhenti sebagai hiburan. Ia menjadi ruang untuk membaca kembali hubungan antara rakyat, data, kekuasaan, dan citra.
Teater dalam pementasan ini bekerja sebagai cermin. Ia tidak memberi jawaban tunggal, tetapi menaruh pertanyaan di hadapan penonton: ketika bahasa resmi terdengar rapi, sementara pengalaman warga berkata lain, kepada siapa publik seharusnya percaya? (rry)
Tags:
lanjong foundation
yayasan lanjong
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu