Insiden Berulang, Fender Jembatan Mahulu Hilang, Pemprov Kaltim Evaluasi Alur Sungai Mahakam

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud memimpin Rapat Terpadu pengolongan alur Sungai Mahakam di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (5/1/2026). (Istimewa)


Samarinda, SISIKOTA.COM - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperketat pengaturan pelayaran di Sungai Mahakam menyusul dua kali insiden penabrakan fender Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Insiden tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan publik karena struktur pelindung jembatan kini tidak lagi berfungsi.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengatakan penabrakan fender Jembatan Mahulu terjadi pada 23 Desember 2025 dan kembali terulang pada 3 Januari 2026. Akibat insiden tersebut, bangunan fender yang berfungsi melindungi struktur jembatan dari benturan kapal tongkang dilaporkan hilang.

“Seringkali insiden pada aset daerah, khususnya jembatan, ditabrak oleh kapal tongkang seperti yang baru terjadi. Ini harus kita mitigasi bersama,” ujar Rudy Mas’ud usai memimpin Rapat Terpadu Pengolongan Alur Sungai Mahakam di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (5/1/2026).

Ia menegaskan perlunya pembenahan tata kelola alur pelayaran Sungai Mahakam, tidak hanya di Jembatan Mahulu, tetapi juga di sejumlah jembatan lain seperti Jembatan Mahkota, Jembatan Kutai Kartanegara, dan Jembatan Kembar Samarinda. Menurutnya, tingginya aktivitas pelayaran dan lalu lintas darat menjadikan aspek keselamatan sebagai prioritas utama.

Untuk mitigasi jangka pendek, Pemprov Kaltim meminta agar aktivitas pelayaran di bawah Jembatan Mahulu dihentikan sementara selama fender belum terpasang kembali. Permintaan tersebut disampaikan kepada KSOP Samarinda sebagai regulator dan Pelindo sebagai operator.

“Selama belum ada fender, tidak ada kegiatan pelayaran yang melintas di bawah Jembatan Mahulu. Jika memang harus tetap melintas, maka wajib ada assist atau escort saat pengolongan,” tegas Rudy.

Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghambat kegiatan ekonomi, namun keselamatan masyarakat harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Sungai Mahakam sendiri merupakan jalur vital bagi aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur.

Selain langkah pengamanan jangka pendek, Pemprov Kaltim juga merencanakan pembangunan pelabuhan tambat khusus kapal-kapal tongkang di sepanjang Sungai Mahakam. Fasilitas ini disiapkan untuk menertibkan kapal yang selama ini memenuhi perairan sungai, baik yang bermuatan maupun yang kosong.

“Kita akan atur dari hulu sampai hilir. Akan ada rapat lanjutan secara teknis antara KSOP, Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, dan Distrik Navigasi untuk membangun rest area kapal tongkang agar tidak mengganggu alur pelayaran Sungai Mahakam,” pungkasnya.

Rapat terpadu tersebut turut dihadiri unsur DPRD Kaltim, aparat penegak hukum, serta instansi teknis terkait sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat keselamatan pelayaran dan perlindungan infrastruktur strategis daerah. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

jembatan mahulju

Sungai Mahakam