Insiden Migas Sangasanga Picu Evaluasi Tata Kelola Energi Daerah

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Sekda Kukar Sunggono (kemeja cokelat) bersama tim teknis Pertamina meninjau lokasi sumur terdampak di Sangasanga, Kutai Kartanegara, pascainsiden semburan gas. (Bobby/Sisikota.com)


Sangasanga, SISIKOTA.COM - Pagi masih belum sepenuhnya terang ketika ledakan mengejutkan warga Kelurahan Jawa, Kecamatan Sangasanga, pada 19 Juni 2025. Semburan gas dan lumpur dari salah satu sumur milik Pertamina EP Sangasanga Field mengguncang lingkungan yang selama ini tenang. Beberapa warga sempat mengira itu adalah suara petir atau longsoran. Namun bau khas yang menyusul—campuran minyak dan tanah basah—menandakan sesuatu yang jauh lebih serius sedang terjadi.

Tak butuh waktu lama, media sosial lokal dipenuhi kabar kebocoran sumur gas. Di lapangan, warga bergegas menutup kran air, sementara petugas PDAM dan aparat kelurahan mulai menyisir area terdampak. Kekhawatiran lama kembali mengapung di ingatan kolektif warga: trauma akan kejadian serupa puluhan tahun silam di wilayah Noni.

Hari-hari berikutnya, upaya tanggap darurat dijalankan secara paralel. Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah intake milik Perumda Tirta Mahakam di Sangasanga. Di sanalah, Sunggono, Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, turun langsung meninjau kondisi lapangan. Ia ditemani perwakilan Pertamina dan petugas PDAM, berdiri di antara tumpukan karbon aktif yang disiapkan untuk pemulihan air.

"Kami mengucapkan terima kasih atas mitigasi dan antisipasi yang cepat. Ini menunjukkan tanggung jawab yang patut diapresiasi," kata Sunggono, Senin, 23 Juni 2025. Ia memastikan bahwa distribusi air bersih dari Pertamina telah berlangsung dan pemulihan air PDAM sedang berjalan meski sementara tidak layak minum.

Menurut Maryati, Kepala Cabang PDAM Tirta Mahakam Sangasanga, pihaknya bersama tim teknis Pertamina segera melakukan pengurasan dan pembersihan menyeluruh. Instalasi Water Treatment Plant (WTP) dibongkar sebagian, filter diganti, dan jaringan distribusi dibersihkan. Seluruh proses didukung oleh logistik dari Pertamina EP: 13.500 kilogram karbon aktif, 11.800 kilogram pasir silika, dan 1.250 kilogram Poly Aluminium Chloride.

"Kami berusaha secepat mungkin memulihkan layanan, dan dukungan ini mempercepat langkah kami," ujar Maryati.

Langkah darurat tak berhenti di sisi teknis. Pertamina juga membagikan masker dan susu kepada warga sebagai antisipasi dampak lanjutan. Namun menurut evaluasi sementara, kualitas udara relatif aman karena gas cepat menguap dan tidak terkonsentrasi dalam jangka panjang.

Dari sisi legislatif, Anggota DPRD Kukar, Rahmat Dermawan, menyampaikan bahwa warga perlu diberi informasi yang transparan dan akses untuk menyampaikan keluhan. "Kami harap masyarakat memberi waktu dan ruang bagi PDAM dan Pertamina menyelesaikan ini. Sudah ada komitmen tindak lanjut di antara mereka," katanya.

Namun, di luar respons tanggap darurat dan koordinasi, insiden ini menyisakan pertanyaan struktural: seberapa siap sistem pengawasan terhadap industri migas di kawasan padat penduduk seperti Sangasanga? Bagaimana mekanisme audit lingkungan dan siapa yang bertanggung jawab jika pencemaran menyasar pasokan air publik?

Sigid Setiawan, Senior Field Manager PEP Sangasanga Field, menyatakan pihaknya menjadikan insiden ini sebagai pembelajaran kolektif. "Kami tidak hanya menangani aspek teknis, tapi juga menjaga hubungan dan kepercayaan warga. Respons cepat dan kolaboratif penting untuk memastikan keberlanjutan," tegasnya.

Ia menambahkan, tata kelola migas yang berkelanjutan tidak cukup hanya dengan prosedur teknis, tetapi juga kesadaran membangun solidaritas antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam waktu dekat, hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) akan diumumkan. Pertamina berkomitmen melibatkan semua pihak dalam evaluasi dan pemulihan lanjutan. Namun di tengah derap pemulihan ini, suara warga tetap menjadi cermin—tentang seberapa jauh energi nasional layak dibayar dengan risiko lokal. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

berita kukar

Kutai Kartanegara

pertamina hulu sangasanga

sangasanga

skk migas pertamina

Sunggono

sunggono sekda kukar