Kategory
Info Daerah,
15-10-2025 10:31:26
Sekretaris Daerah Kukar Sunggono membagikan makanan bergizi kepada siswa SDN 001 Tenggarong saat meninjau pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (14/10/2025). (Dok Pemkab Kukar)
Tenggarong, SISIKOTA.COM - Bau tumisan bawang menyambut pagi di dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Mayjend Panjaitan, Tenggarong. Beberapa perempuan sibuk menyiapkan nasi dan lauk untuk dikirim ke sekolah-sekolah dasar. Di sela kepulan uap panas itu, terselip satu kecemasan: kabar keracunan makanan di sejumlah daerah yang mengusik citra program yang mereka jalankan setiap hari.
“Anak-anak tetap menunggu makanannya,” ujar seorang petugas dapur singkat, sambil mengecek wadah nasi yang baru diangkat dari dandang.
Keresahan serupa juga sampai ke meja para pengambil kebijakan. Itulah sebabnya, Selasa pagi, 14 Oktober 2025, Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara Sunggono mendampingi Anggota DPD-MPR RI Adji Mawarni meninjau dapur MBG dan dua sekolah penerima program.
Adji, yang juga putri daerah Kukar, datang dengan misi menenangkan sekaligus memastikan. “Kita ingin terus mendukung pemerintah dalam program ini, karena ini program kerakyatan yang harus terus didukung,” katanya. Tapi di balik kalimat itu, ia tak menutupi kegelisahan. “Ketika banyak pemberitaan miring terkait program MBG ini, salah satunya keracunan makanan, itu sangat mempengaruhi program pemerintah.”
Baginya, turun ke lapangan bukan sekadar formalitas. Ia ingin melihat bagaimana standar kebersihan dan pengawasan diterapkan. “Sebagai perwakilan daerah, kami turun untuk memperkuat pengawasan agar tidak terjadi hal-hal seperti keracunan makanan,” ujarnya.
Program MBG, yang semula dirancang untuk menjamin gizi anak-anak sekolah dasar, kini menghadapi ujian kepercayaan publik. Di Kukar, pemerintah mencoba menjawabnya dengan membentuk Satuan Tugas MBG hingga tingkat kecamatan. Sunggono menyebut, Satgas ini menjadi kunci agar pengawasan berjalan lebih dekat ke masyarakat.
“Alhamdulillah, kita sudah bentuk Satgas sampai tingkat kecamatan,” katanya. “Kita ingin pelaksanaan program benar-benar terkawal secara masif dan struktural.”
Hingga kini, sudah ada sepuluh dapur MBG yang beroperasi di Kukar. Empat hingga enam dapur lain masih menunggu persetujuan untuk mulai berjalan. Namun Sunggono tak menampik, wilayah Kukar yang luas membuat distribusi makanan bergizi ini tidak semudah konsepnya di atas kertas.
“Kukar sangat luas, jadi perlu kebijakan khusus. Mudah-mudahan nanti bisa kita formulasikan bersama Satgas di kecamatan,” ucapnya.
Selain soal pengawasan, Adji membawa ide agar Koperasi Merah Putih dilibatkan sebagai pemasok bahan pangan lokal untuk MBG. Ia percaya, dengan begitu, roda ekonomi masyarakat bisa ikut berputar bersama dapur yang memberi makan anak-anak sekolah.
“Hulunya dari Koperasi Merah Putih memasok bahan MBG, dan anak-anak yang menerima manfaatnya dari bahan-bahan lokal,” ujarnya.
Sore mulai turun ketika kunjungan berakhir. Di dapur MBG, aroma masakan sudah berganti sisa sabun dan bunyi air mengalir dari wastafel. Para petugas bersiap pulang, sementara di luar, kendaraan pengantar makanan baru saja kembali dari sekolah-sekolah.
Isu keracunan memang belum sepenuhnya reda. Tapi di Kukar, dapur-dapur kecil itu tetap beroperasi setiap pagi, dengan satu tujuan sederhana: memastikan piring anak-anak di sekolah tak kosong, dan kepercayaan publik terhadap program MBG tetap utuh. (*)
Tags:
MBG
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu