Job Fair Kukar 2025, Jawaban Awal Aulia-Rendi Atasi Krisis Pengangguran Struktural

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri (berbaju biru), Wakil Bupati Rendi Solihin (kedua kanan) meninjau Job Fair 2025 di GOR Aji Imbut, Tenggarong, Rabu, 2 Juli 2025. (Istimewa)


Tenggarong, SISIKOTA.COM — Di atas kertas, Kutai Kartanegara tampak menjanjikan: wilayah luas, sumber daya melimpah, dan anggaran pendapatan yang nyaris menembus Rp11 triliun. Namun di balik itu, lebih dari 20 ribu jiwa di kabupaten ini masih tercatat sebagai pengangguran terbuka. Jumlah itu setara dengan 4,05 persen dari total angkatan kerja Kukar, sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023.

Angka ini memang masih lebih rendah dibanding Kota Bontang yang mencapai 7,74 persen. Namun, dalam konteks Kukar—daerah dengan kekayaan alam dan bonus demografi yang besar—angka tersebut tetap menjadi ironi. Pemerintah pun harus menjawab: mengapa anggaran jumbo tak selalu berbanding lurus dengan tersedianya lapangan kerja yang layak dan merata?

Pertanyaan itu menjadi konteks penting saat Bupati Kukar, dr. Aulia Rahman Basri, membuka kegiatan Job Fair 2025, Rabu (2/7/2025). Dalam sambutannya, ia menyebut ketenagakerjaan sebagai masalah sensitif yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

“Jika tidak diselesaikan secara serius, ketimpangan tenaga kerja bisa berdampak pada penurunan kesejahteraan bahkan keamanan masyarakat,” tegas Aulia.

Migrasi Tinggi, Lapangan Kerja Tak Bertumbuh Seimbang

Dalam pidatonya, Aulia tak hanya menyodorkan data, tetapi juga menguraikan tantangan struktural yang tengah dihadapi. Salah satunya adalah tingginya laju migrasi penduduk ke Kukar akibat daya tarik sektor pertambangan dan pertanian. Tanpa penyerapan tenaga kerja yang sebanding, pertumbuhan ini justru memperbesar jumlah pengangguran.

“Angkatan kerja terus bertambah, tapi pertumbuhan kesempatan kerja berjalan lebih lambat,” ujarnya.

Di sisi lain, banyak perusahaan mengeluhkan kesulitan mencari tenaga kerja yang sesuai kualifikasi. Ini menunjukkan adanya celah antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri—celah yang kian melebar karena informasi lowongan kerja sering kali tidak tersampaikan secara merata, terutama di wilayah pedalaman Kukar yang minim akses internet atau media informasi lain.

Job Fair 2025 disebut Aulia sebagai bagian dari program “Kukar Siap Kerja,” sebuah inisiatif untuk mempertemukan pencari kerja dan pengguna tenaga kerja secara langsung. Ia menegaskan, kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan langkah konkret untuk menekan angka pengangguran terbuka.

“Saya harap perusahaan yang berpartisipasi obyektif dan transparan dalam seleksi dan rekrutmen. Ini penting agar job fair tidak sekadar formalitas,” kata Aulia.

Sebanyak puluhan perusahaan diundang untuk membuka lowongan dalam kegiatan ini. Pemerintah berharap, setidaknya sebagian dari 20 ribu pencari kerja bisa terserap melalui proses ini.

Kukar adalah salah satu daerah dengan APBD terbesar di Indonesia. Namun seperti yang disinggung Aulia, anggaran besar tidak serta merta menyelesaikan masalah. Terutama jika belanja daerah belum fokus pada pengembangan kapasitas tenaga kerja dan penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan.

“Masalahnya bukan hanya jumlah pencari kerja, tapi juga ketidakseimbangan informasi dan kurangnya jembatan antara pencari kerja dan industri,” katanya.

Tantangan Awal untuk Pemerintahan Baru

Job Fair kali ini menjadi ujian awal bagi duet kepemimpinan Aulia–Rendi pasca dilantik. Komitmen mereka pada isu ketenagakerjaan akan diukur bukan dari seberapa banyak lowongan dibuka hari ini, tetapi dari apakah ada keberlanjutan, pemantauan, dan tindak lanjut pascapelaksanaan.

Jika tidak, maka kegiatan ini hanya akan jadi bagian dari rutinitas birokrasi tahunan yang menyentuh permukaan masalah, tanpa menyentuh akar-akarnya.

Namun jika dijalankan dengan serius, Job Fair ini bisa menjadi titik balik. Titik di mana anggaran besar, bonus demografi, dan janji politik tidak lagi berjalan sendiri-sendiri—tetapi menyatu dalam kerja nyata membangun masa depan kerja yang lebih inklusif bagi warga Kukar. (bby/adv)

Iklan sisikota.com

Tags:

aulia rahman basri

Bupati Kukar

bupati kutai kartanegara

Kukar

Rendi Solihin

Wakil Bupati Kukar