Kado Tuhan dan Hal-Hal tentang Rendra

Kategory Seni,
29-04-2026 09:17:39

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Seni

Suasana perbincangan di Kamar Budaya Jogja, Bangunharjo, Sewon, Bantul, saat Engku Syafril Teha Noer, Untung Basuki, DS Priadi, dan penulis, Dedi Nala Arung, mengulur kisah tentang W.S. Rendra, Jumat sore. (Dok. pribadi)


Oleh: Dedi Nala Arung

HARI Jumat bisa saja terbuat dari hal-hal yang menyenangkan bila kamu cukup bisa memperlakukannya menjadi menyenangkan.

Dimulai dari balasan pesan Engku Syafril Teha Noer (STN) ke saya, “Masih di Jogja, sanak...” begitu jurnalis senior itu menulis. Rapi sekali. Mungkin itulah sebabnya ia sangat disegani para wartawan muda. Ia tak pernah sembarangan saat menulis. Selanjutnya, seperti sepasang kekasih kasmaran, kami terus saling berbalas pesan, membuat janji sua, dan menentukan tujuan kunjungan.

Esoknya, ia menjemput saya di sekitar Gejayan. Menyetir sendiri dengan mobil pribadinya. Tak perlu diragukan pengetahuannya soal jalan-jalan di Jogja. Meski orang Minang, Engku STN sekolah di Jogja sejak remaja, jadi ia tentu paham benar cara memperlakukan kelokan dan lampu-lampu merah kota Jogja.

Jumat sedang sore sewaktu kami berdua mampir menjemput Pak Untung Basuki serta istrinya. Rumahnya di belakang kompleks Kesultanan Jogja. Entah arah utara, entah arah mana. Saya selalu bingung kalau harus menyebut arah angin di Kota Jogja. Peduli amat. Jogja cukup dinikmati tanpa harus dibingungkan. Sore itu, kami berjanji berkunjung ke Kamar Budaya Jogja, di kawasan Bangunharjo, Sewon, Bantul, kediaman budayawan DS Priadi.

Untung Basuki adalah salah satu “murid” di Bengkel Teater Rendra yang legendaris. Pun begitu halnya dengan DS Priadi. Keduanya beruntung bukan hanya karena pernah berguru langsung dengan Mas Willy, sapaan khas Rendra, tetapi juga pernah hidup dan bergaul dengan Rendra, istri, dan keluarga besarnya sebagai murid, karib, bahkan lawan berpikir.

Dan saya beruntung berjumpa keduanya sore itu. Pada Jumat yang menyenangkan. Kata Engku STN, sekitar akhir tahun 1970-an, Dewan Kesenian Samarinda melalui Pak Rizani Asnawie meminta W.S. Rendra mengajarkan metode seni peran ala Bengkel Teater dalam sebuah lokakarya teater di Samarinda. Tetapi, karena Rendra saat itu berhalangan datang, ia mengutus Untung Basuki. “Mas Untung diutus sebagai duta Bengkel Teater,” ujar Mas Pri. Saya lebih suka memanggil DS Priadi begitu.

Dari semula datang sebagai duta, Untung Basuki menjelma sebagai guru bagi sejumlah seniman teater Samarinda kala itu. Salah satu murid seperguruan yang masih ia ingat namanya adalah Syamsul Khaidir, yang kelak hijrah ke Kota Tenggarong lalu mendirikan Bina Teater Kutai (Bintek). “Kalau demikian, sampeyan cucu perguruan,” kata Untung Basuki waktu saya bilang saya berguru teater dengan Syamsul Khaidir. Pada Jumat yang sudah sore waktu itu, saya membuka saluran panggilan video ke kakak seperguruan saya, Zairin Zain, lalu membiarkannya bercengkerama secara virtual dengan Untung Basuki. Sialan, mereka akrab sekali. Saya iri tidak bisa seakrab itu dengan Untung Basuki.

Sejak menjelang waktu asar hingga lenyap ufuk magrib, saya lebih banyak menyimak Engku STN, Mas DS Priadi, dan Pak Untung Basuki saling mengulur kisah-kisah mengesankan mereka tentang W.S. Rendra. Saya memang menantikan itu. Ini seperti kado dari Tuhan. Saya merasa berbahagia berada di antara seliweran kisah itu. Sesuatu yang saya harapkan pernah terjadi pada saya, yaitu berada bersama Rendra di dalam pengajarannya, menyimak kemarahannya, atau melongo memandanginya bersajak di depan muka saya. Sepanjang hayatnya, hanya dua kali saya berhadap-hadapan muka dengan Rendra. Pertama, waktu Komunitas Ladang Samarinda dan Surat Kabar Harian Kaltim Post membawanya bersama para aktor Bengkel Teater memanggungkan naskah “Rambate Raterata” di Hotel Bumi Senyiur, Samarinda. Tahun 2001. Selain Kota Samarinda, Bontang dan Balikpapan juga kebagian jadwal pentas ketika itu. Kedua, waktu diajak menemaninya makan siang di warung Tepian Pandan, Tenggarong. Rupanya, ia khusus pergi ke Tenggarong untuk berziarah ke makam raja-raja Kutai.

Saya tumbuh dalam gelisah sosial di antara tulisan-tulisan Rendra yang banyak itu dulu. Cerpen, sajak, buku, naskah drama, artikel, hingga film Rendra. Pengaruhnya cukup besar pada fase dan proses kreativitas berkesenian serta cara saya memandang kebudayaan. Pemikiran-pemikiran Rendra telah membentuk sikap saya atas keputusan-keputusan hidup tatkala berhadapan dengan macam-macam persoalan tetek bengek pertemanan, pekerjaan, tradisi, pergulatan politik, juga sampai percintaan. Pendeknya, saya ingin punya segala perangkat pengetahuan kemanusiaan yang biasa dipakai Rendra untuk menentukan arah moral pergaulannya dengan bangsa, penguasa, dan sesama umat manusia, tanpa harus menjadi Rendra itu sendiri. “Daya hidup”, begitulah sering ia mengistilahkannya. Suatu kesadaran untuk mempersaksikan kekuatan semesta sekaligus memunculkan kedaulatan kemanusiaan dalam identitas apa pun supaya tidak takluk pada keadaan yang memenjara keleluasaan nuraninya. “Orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi.” Begitu Rendra menulis.

Malam itu, saya bak pejabat negara di rumah Mas Pri. Disuguhi kopi hitam pilihan. Dijamu makan malam dengan segala keramahan istrinya dan koleganya. Gulai kambing dengan cacahan cabai rawit. Juga keripik tempe dan sabetan sayur kol. Habis itu, di teras rumah yang bisa-bisanya temaram, kami menikmati Pak Untung Basuki yang secara khusus merapal 15 puisi ciptaannya yang telah dimusikalisasi secara akustik. Hafalannya masih kuat. Ucapannya masih jelas. Energi kesenimanannya masih berbahaya. Gitarnya sempat terdengar sumbang di awal lagu. Entah kenapa, selanjutnya malah terasa pas. Ia rupanya cukup bersiap untuk rencana tur musik literasi puisi 15 kota yang kabarnya tengah disiapkan untuknya bulan Juli nanti.

Jumat sudah berubah jadi malam. Entah apa yang ada di pikiran Menteri Kebudayaan tentang Jumat yang sudah berubah jadi malam. Mungkin ia sedang memakannya. Tetapi, mungkin ada juga orang-orang yang tidak sampai hati memikirkan tentang Jumat yang berubah jadi malam. Bagi mereka, Indonesia harus dipertahankan tetap terang-benderang, semacam siang. Supaya tidak ada ketakutan. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Rendra

Dedi Nala Arung