Kaltim Miliki 18 dari 20 Spesies Durian Dunia, Unmul Targetkan Jadi Pusat Durian Nusantara

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman, Prof. Widi Sunaryo, menjelaskan pengembangan varietas unggul Lai–Durian khas Kalimantan Timur yang kini memasuki tahap hilirisasi ke masyarakat. (Istimewa)


Samarinda, SISIKOTA.COM – Upaya memperkuat riset daerah kini bergerak ke tahap yang lebih konkret. Universitas Mulawarman (Unmul) tengah mengembangkan hasil penelitian bibit unggul Lai–Durian menuju hilirisasi masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal sekaligus menjaga kekayaan hayati Kalimantan Timur.

Penelitian yang dipimpin Prof. Widi Sunaryo, S.P., M.Si., Ph.D., dari Fakultas Pertanian Unmul, berfokus pada pengembangan varietas Durio kutejensis—spesies durian khas Kalimantan. Buah ini dikenal memiliki rasa dan warna yang unik dibanding durian pada umumnya. Namun, beberapa variannya masih perlu pemuliaan genetik untuk memperbaiki kualitas rasa dan tekstur.

“Kami melakukan pengembangan berbasis penelitian genetik dan perbanyakan vegetatif untuk menghasilkan bibit Lai–Durian yang unggul dari segi rasa, tekstur buah, hingga daya simpan,” ujar Prof. Widi, yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Unmul.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari riset yang dimulai sejak 2014 melalui hibah riset unggulan pemerintah. Hasilnya, beberapa varietas seperti Lai Mandong, Lai Kayan, dan Hule Sentawar telah terdaftar sebagai varietas unggul nasional setelah melalui proses sertifikasi dan pengujian ahli.

Unmul kini bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kalimantan Timur untuk memperbanyak bibit menggunakan metode vegetatif seperti sambung pucuk dan okulasi. Cara ini dipilih karena durian merupakan tanaman dengan penyerbukan terbuka yang tidak menghasilkan bibit seragam dari biji.

“Program pengembangan ini berbasis masyarakat. Setiap rumah di wilayah potensial bisa menanam satu hingga tiga bibit. Dengan pendampingan yang tepat, masyarakat dapat memiliki sumber ekonomi baru sekaligus menjaga plasma nutfah lokal,” jelas Prof. Widi.

Pengembangan Lai–Durian diarahkan untuk membentuk sentra durian lokal di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Selain memperkuat identitas daerah, riset ini juga diharapkan menjadi bagian dari persiapan ekonomi lokal menghadapi perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Kalimantan memiliki 18 dari 20 spesies durian dunia. Sudah sewajarnya Kaltim menjadi pusat durian Nusantara dan pusat konservasi buah lokal. Ketika orang datang ke Kaltim dan IKN, kita ingin Lai–Durian menjadi buah kebanggaan yang dicari,” ujar Prof. Widi.

Penelitian ini juga mencerminkan peran Unmul dalam membangun kemandirian riset daerah berbasis inovasi dan kedaulatan pangan lokal. Pengembangan Lai–Durian tidak hanya berpotensi menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol integrasi antara sains, ekonomi rakyat, dan identitas Kalimantan Timur. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

universitas mulawarman

Unmul