Kebocoran Air PDAM Kukar Masih 42 Persen, Ditargetkan Turun ke 25 Persen dengan Teknologi AI

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri (tengah) bersama jajaran direksi dan karyawan Perumda Air Minum Tirta Mahakam seusai Apel Peringatan Hari Ulang Tahun ke-34 Perumda Air Minum Tirta Mahakam di Halaman Kantor Perumda Air Minum Tirta Mahakam, Tenggarong, Senin, 19 Januari 2026.


Tenggarong, SISIKOTA.COM - Tingkat kebocoran air atau non-revenue water (NRW) Perumda Air Minum Tirta Mahakam Kutai Kartanegara masih berada di angka 42 persen. Pemerintah Kabupaten Kukar menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga batas toleransi nasional, yakni 25 persen, melalui serangkaian langkah efisiensi dan penerapan teknologi pendeteksi kebocoran.

Hal itu disampaikan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dalam wawancara seusai Apel Peringatan Hari Ulang Tahun ke-34 Perumda Air Minum Tirta Mahakam, yang digelar di Halaman Kantor Perumda Air Minum Tirta Mahakam, Tenggarong, Senin, 19 Januari 2026.

Aulia menegaskan, kebocoran air menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan PDAM karena berdampak langsung terhadap kualitas layanan sekaligus kondisi keuangan perusahaan daerah tersebut.

“NRW kita saat ini masih di kisaran 42 persen. Memang sudah di bawah 50 persen, tapi itu belum ideal. Target kita ke depan harus bisa turun ke angka toleransi, sekitar 25 persen,” ujarnya.

Menurut Aulia, setiap kebocoran air pada jaringan distribusi sama artinya dengan potensi pendapatan yang hilang. Karena itu, penanganan NRW tidak hanya berkaitan dengan teknis layanan, tetapi juga efisiensi keuangan PDAM.

“Setiap satu persen kebocoran yang bisa kita tekan, itu setara dengan sekitar Rp300 juta. Kalau bisa ditekan sampai tiga persen saja, efisiensinya bisa mencapai Rp900 juta per tahun,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini cakupan layanan air bersih PDAM Tirta Mahakam baru mencapai sekitar 42 persen. Karena itu, menjaga kontinuitas aliran air menjadi prioritas, agar pelanggan yang sudah terlayani tidak lagi mengalami gangguan distribusi.

“Kontinuitas ini penting. Air yang sudah terpasang harus terus mengalir, tidak macet-macet. Di saat yang sama, kualitas air juga harus semakin baik,” ucapnya.

Untuk menekan tingkat kebocoran, Pemkab Kukar mendorong PDAM bekerja sama dengan pihak ketiga dalam penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi titik-titik kebocoran pada jaringan pipa.

“Dengan teknologi ini, kita berharap kebocoran bisa terdeteksi lebih cepat dan penanganannya lebih efisien. Target PDAM sekitar dua persen, sementara penyedia alat menyampaikan bisa sampai tiga persen,” katanya.

Aulia mengapresiasi upaya pembenahan yang telah dilakukan PDAM Tirta Mahakam. Berdasarkan data statistik, ia menyebut terdapat peningkatan kinerja yang cukup signifikan, terutama dari sisi kontinuitas dan kualitas layanan air bersih.

“Langkah-langkah perbaikan sudah berjalan. Ke depan kita berharap pelayanan PDAM bisa jauh lebih baik, baik untuk masyarakat maupun untuk keberlanjutan perusahaan daerah itu sendiri,” ujarnya.

Ia menegaskan, perbaikan kinerja PDAM bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut pelayanan dasar yang langsung dirasakan masyarakat Kutai Kartanegara. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

aulia rahman basri

Bupati Kukar

bupati kutai kartanegara

Perumda Tirta Mahakam