Ketimpangan Listrik di Kaltim, 73 Desa Masih Menunggu Aliran

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal tampak berdiri di kawasan permukiman pedalaman Kalimantan Timur. (Istimewa)


Tenggarong, SISIKOTA.COM - Hampir 80 tahun setelah Indonesia merdeka, ratusan desa di Kalimantan Timur masih belum menikmati aliran listrik. Pada awal 2025, pemerintah provinsi mencatat sebanyak 109 desa, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan, belum terjangkau layanan kelistrikan.

Kondisi tersebut mencerminkan ketimpangan infrastruktur antara kawasan perkotaan dan wilayah terpencil. Akses listrik masih menjadi persoalan dasar yang belum tuntas, seiring keterbatasan jaringan PLN dan minimnya infrastruktur pendukung di sejumlah desa.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebut telah melakukan intervensi sejak tahun pertama pemerintahan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji. Dalam kurun sekitar 10 bulan, sebanyak 36 desa terjauh, tertinggal, dan terisolasi mulai mendapatkan akses listrik melalui program pemerintah daerah.

Desa-desa tersebut tersebar di Kabupaten Mahakam Ulu, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Paser. Melalui skema Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal, sekitar 66 ribu kepala keluarga kini dapat menikmati aliran listrik, meski masih bersifat terbatas.

Pemprov Kaltim menyatakan, hingga kini masih terdapat 73 desa lain dengan sekitar 45 ribu kepala keluarga yang belum teraliri listrik. Pemerintah daerah menargetkan perluasan akses listrik ke wilayah-wilayah tersebut secara bertahap.

Ketersediaan listrik di desa-desa pedalaman menghadapi tantangan geografis. Sejumlah wilayah berada jauh dari jangkauan instalasi PLN dan belum memiliki badan jalan yang memadai. Pemerintah daerah menyebut PLTS Komunal dan Alat Penyalur Daya Listrik (Apdal) digunakan sebagai solusi sementara sembari menyiapkan pemetaan akses jalan dan infrastruktur pendukung.

“PLTS ini bersifat sementara. Untuk jangka panjang, PLN tetap harus masuk, dan itu membutuhkan akses jalan,” ujar Gubernur Rudy Mas’ud dalam keterangan resminya.

Salah satu desa yang telah merasakan aliran listrik adalah Kampung Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Di desa dengan 1.028 penduduk dan 339 kepala keluarga tersebut, pemerintah provinsi membangun PLTS dengan kapasitas terpasang 60,8 kWp, didukung baterai 576 kWh dan inverter 50 kW.

Warga setempat menyebut kehadiran listrik membawa perubahan pada aktivitas sehari-hari, mulai dari penggunaan peralatan rumah tangga hingga akses informasi. Namun, pemerintah daerah menegaskan bahwa pemenuhan listrik di wilayah pedalaman masih menjadi pekerjaan rumah besar yang bergantung pada pembangunan infrastruktur dasar lainnya.

Hingga kini, perluasan akses listrik di Kalimantan Timur masih dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada wilayah yang selama ini belum tersentuh jaringan kelistrikan nasional. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

listrik kaltim